#7th Day - Memang Ada Apa-Apa

Apartemen - 06.21

"Jadi, kau dan Adrian resmi pacaran?" Moca gelayutan di sofa sambil menatapku dari balik majalah fashionnya. Rossy melotot.

"Pacaran apa?" tanyanya. "Kok, nggak ada yang memberitahuku? Kapan pria itu menyatakan cinta? Rii, bukankah kau bilang dia berotak batu dan nggak mungkin melakukan hal memalukan begitu?"

"Memalukan apa?" sergah Moca. "Ya ampun Ros, kau kan, sudah dilamar. Memangnya meminta seorang gadis menjadi kekasihnya itu memalukan? Riifa sudah tua lho! Kapan lagi sahabat kita ini akan mulai pacaran?"

Urat di keningku mencuat. "Oke, cukup kalian berdua. Pertama, aku belum setua itu. Kedua, Adrian nggak berotak batu, hatinya yang batu. Ketiga, aku nggak pacaran dengannya. Oh Moca, demi Tuhan," kuseruput kopi dengan cepat, "memangnya kapan dia memintaku jadi pacarnya?"

Moca menyerngit. "Jadi, kejutan boxer merah itu apa?"

Aku mengangkat bahu. "Itu kan, hanya karena dia nggak mau terkalahkan olehku. Lagipula, apa istimewanya meminta semua orang memakai boxer merah?"

"Sombong begitu," ejek Moca. "Padahal saat Adrian melakukannya, air matamu mengambang seperti sungai meluap yang mampet oleh sampah. Tapi matamu, mampet oleh cinta Adrian."

"Ya ampun, norak sekali," semburku. Sementara Moca dan Rossy cemberut karena tidak mendapatkan konfirmasi apa-apa dariku, aku sibuk menahan semburat malu-malu yang mendesak naik ke pipi. Aku tahu. Aku ini positif jatuh cinta pada Adrian Maha Deva. Aku telah dengan telak pasrah pada enam pertemuan aneh kami, yang satu sama lain seperti berusaha mengatakan sesuatu.

Kenapa. Kenapa aku berani-beraninya jatuh cinta pada pria yang kepalanya sekeras batu kuarsa itu. Kenapa aku bisa-bisanya terpesona padanya, padahal selain tampangnya yang ganteng dan pekerjaannya yang luar biasa, kelakuan dinginnya itu sulit ditolerir bahkan oleh aku yang cuek sekalipun. Ini cinta yang terlalu beresiko. Aku tahu, tapi pura-pura tak ingin tahu. 

"Kalau kali ini aku kalah dan mati, maka matilah!" kataku mantap.

Moca menggeleng. "Nah, sahabat kita sudah mulai gila lagi,"

Pernahkah

Pernahkah kau, membayangkan, sedetik saja, bahwa yang paling berharga di dunia adalah bisa melihat yang dicinta mengembang tertawa bahagia? Sekalipun kalian tak menyapa, raga tak meraba, bahkan mata tak memapar apa-apa.

Pernahkah kau, membayangkan, sedetik saja, bahwa yang paling membuatmu bahagia adalah kehadirannya? Cukup dengan kenyataan bahwa dia ada. Dia nyata, diciptakan Tuhan, menjadi bagian lain dari dunia, menjadi pelengkap cerita. Meski cerita itu tak berakhir padamu.

Pernahkah kau, membayangkan, sedetik saja, bahwa yang paling membuat hati sesak adalah perasaan lega karena dia baik-baik saja? Dimana pun dia, bersama siapa pun, sekalipun sedang menggandeng yang kau benci, tapi dia baik-baik saja. Dia bukan punyamu, bukan milikmu, jauh dari jangkauan dan genggammu. Tapi seakan-akan dia milikmu.

Pernahkah kau, mendoakan bahagianya dalam hening panjang bersama Tuhan?

Di tiap langkah yang kuseret, aku tahu apa yang kudengungkan dalam hati. Rapat-rapat, berderap dengan mantap. Doa lirih yang mengalir dalam bisik pada Sang Pemilik Segala. Aku senang. Hati ini, meski berkali-kali remuk, tetap tak kehilangan pemiliknya.

Pernahkah aku, mendoakan bahagia seseorang? Selalu. Setiap waktu.


Satu dua orang, kamu dan aku
Aku, kemudian kamu
Kita berdua beriringan, berpegangan
Seperti tak ada beban, bertukar senyuman
Tanpa alas kaki, aku dan kamu memijak Bumi
Tanpa atap, aku dan kamu bertemu Langit
Mereka teman kita, Sayang
Aku dan kamu merdeka, cinta kita juga
Aku ingin kita berdua
Merdeka selamanya
Jangan takut, Sayang
Aku, kamu, kita berdua, satu dua orang bertemu muka
Kita akan bertukar jiwa
Selamanya

8 Most Favorite Songs

Semua pasti suka musik. Satu lagu yang kadang nggak kita tahu betul artinya bisa menggambarkan apa yang nggak terkatakan. Satu lagu yang sendu, bahkan bisa menarik gerombolan air mata dan membuat tersedu. Satu lagu yang riang, bisa memberi suntikan semangat yang nggak terduga. Hanya dengan satu lagu, aku bisa tiba-tiba menangis seperti anak kecil dan mendadak merasa dunia begitu sempit. Tapi beberapa lagu, nyatanya mampu menyeret semangat yang ada di dasar otak.

Ini 8 lagu favorit yang sering kudengarkan. Dan bisa bikin mood jungkir balik.


1. Summer Rain - Matthew Morrison
"Look at you tonight so beautiful under this neon light... Right up on this rooftop, let's make love. In a summer rain."
Nggak susah suka lagu ini. Selain karena aku suka-cinta-degdegser sama Matt, lagu ini memang lagu pertama di album pertama dia. Dan lagu ini... keren sekali. Intinya sih tentang pasangan kekasih yang malah senang karena hujan turun, padahal semua orang berlarian berteduh. Kalau dengar lagu ini bawaannya senyum-senyum sendiri.

2. L.A. Baby - Jonas Brothers
"The two of us tonight, we can make it last forever. We're in the neon lights. It's just you and me together."
Nah, yang ini seharusnya ada di urutan pertama. Lagu ini ada di most played pertama di ponsel. Mungkin sudah hampir seribu kali kudengar. Kalau ada lagu yang bisa dengan canggih menyemburkan adrenalin saat didengarkan, inilah dia. Lagu pertama yang bisa bikin aku-yang saat itu-drop sambil tersaruk-saruk ke tanah jadi senyum dan bangkit lagi. Inti lagunya sih, hampir sama dengan Summer Rain. 

3. Nothing is Gonna Change My Love For You - Westlife
"Nothing is gonna change my love for you. You ought to know by now, i love you."
Ehem. Lagu ini nggak mengingatkan  ke siapa-siapa dan bukan untuk siapa-siapa. Aku memang suka Westlife, dan lagu ini salah satu yang paling manis. Liriknya dari awal sampai akhir bikin merinding. Kalau nanti menikah, boleh kali ya, lagu ini diputar. Hmmpp.

4. Way Back Into Love - Hugh Grant & Drew Barrymore
"All i wanna do is find a way back into love. I can't make it through without a way back into love."
Ada yang pernah menonton film drama komedi-romantis 'Music & Lyrics'? Itu drama manis yang diperankan Hugh Grant dan Drew Barrymore. Kebetulan, aku istrinya Hugh Grant. Jauh sebelum suka Matthew Morrison, aku pernah tergila-gila pada Hugh Grant. Sekarang masih, tapi waktu menggerus cinta. Hahaha, jadi intinya lagu ini polos dan jujur sekali. Dengan aransemen yang sederhana, suara Grant dan Drew yang juga sederhana. Agak teriris-iris kalau dengar lagu ini.

5. Makes Me Wonder - Maroon 5
"Give me something to believe in. Cause i don't believe in you. Anymore."
Kalau yang ini, semacam penyaluran emosi jiwa, ya. Aku suka Maroon 5, suka Adam Levine, dan suka lagu mereka sejak album pertama keluar. Ada sesuatu dari lagu ini yang mewakili gejolak dalam otak. Dan lagu ini satu dari sekian banyak lagu mereka yang bikin aku teriak-teriak di kamar saat didengarkan. Salah satu lagu wajib yang bikin gila saat konser sendirian di kamar. Well, sudah lama nggak konser di kamar!

6. Paparazzi - Lady Gaga
"I'm your biggest fan. I'll follow you until you love me. Papa-paparazzi."
I am one of monsters! Hahaha, aku fans Lady Gaga. Aku suka semua lagunya, sampai teman-temanku hapal kebiasaanku yang selalu menyanyikan lagu-lagu Lady Gaga saat karaokean. Lagu ini pernah kujadikan tema cerpen yang sekarang-alhamdulillah-sudah dibukukan. Tentang seorang gadis yang mengejar-ngejar pria pujaannya, dan nggak berhenti memata-matai sampai pria itu suka padanya. Nggak buat siapa-siapa, kok.

7. Stereo Hearts - Gym Class Heroes feat Adam Levine
"My heart a stereo. It beats for you so listen close. Hear my thoughts in every note."
Favorit sekali. Sekali. Sekali. Seperti Summer Rain, lagu ini efeknya bikin senyum-senyum bahagia. Ini tentang seorang pria yang ingin meyakinkan dirinya sendiri kalau wanita yang dicintainya nggak akan meninggalkannya. Selain karena liriknya yang memang keren, bagian reff-nya yang sendu juga dinyanyikan oleh Adam Levine. Lihat ke bagian bawah blog ini dan kau akan menemukan reff lagu ini disana. Sweet song!

8. Fix You - Coldplay
"Light will guide you home. And ignite your bones. I will try to fix you."
Suka lagu ini dari SMP, suka Coldplay dari SMP. Liriknya tentang pria yang meyakinkan gadis yang dicintainya bahwa semua baik-baik saja. Dan sekalipun dunia runtuh, ia akan tetap ada untuk memperbaiki semuanya. Lirik yang hebat, semangat yang hebat. Dan aku selalu menangis hebat kalau mendengarnya. Hahaha, lagu yang efeknya paling dahsyat.


Satu lagu, beberapa lagu, bisa menyeret kenangan dan pecahan masa lalu. Tapi aku disini, menjadikan lagu sebagian dari hidupku. Antara buku, kopi, musik, dan Tuhan-ku.


Goodnight Tweetheart

Baru sejam yang lalu aku bilang nggak sabar mau baca novel Teresa Medeiros yang judulnya 'Goodnight Tweetheart', penulis New York Times bestseller itu mention aku di twitter. Percaya nggak percaya, aku cuma bengong di depan laptop.

Ini tweet yang bikin aku dimention sama dia:

@IndahArifallah: Nggak sabar baca Goodnight Tweetheart-nya @TeresaMedeiros. Selesai baca novel ini, bakal ngetwit yg nggak-nggak ini kayaknya. :|

Dan beberapa menit kemudian, dia membalas:

@TeresaMeredios: Hi! :)

Hahaha, rasanya aneh. Padahal aku nggak menggunakan bahasa Inggris yang jadi bahasa dia, tapi dia membalas tweetku. Akhirnya, dengan masih ternganga-nganga, aku membalasnya lagi:

@IndahArifallah: Hi! I love your Goodnight Tweetheart! It was so real and... so me. <3 RT @TeresaMedeiros: IndahArifallah Hi! :)

Walaupun dia nggak bakal membalas lagi, aku senang. Novel itu bercerita tentang cewek yang susah menyelesaikan bukunya karena rajin twitter-an. Tapi justru dari twitter itulah terjadi sesuatu. Well, PAS sekali, kan? Yeah.

Pandora

Pandora. Judul blog dan tumblr-ku. Sekarang aku ingin membahas sedikit tentang Pandora, wanita dari jaman Yunani kuno yang menginspirasi.
Konon, Pandora adalah wanita pertama yang diciptakan oleh Dewa Zeus. 
Sebelumnya, pasti banyak yang sudah mendengar tentang Kotak Pandora, kan. Ini adalah cerita singkat mengenai Legenda Kotak Pandora, yang diceritakan membawa berbagai keburukan pada umat manusia lewat kotak miliknya.

Kotak Pandora:
Prometheus membocorkan rahasia api milik para dewa kepada umat manusia, selain itu dia juga menipu Zeus dalam suatu undian. Karena perbuatannya, Zeus memutuskan menghukumnya dengan menggunakan Elang Kaukasus. Sementara untuk umat manusia, para dewa memberi hukuman melalui Pandora. Setelah diciptakan, Pandora dinikahkan dengan Epimetheus, saudara Prometheus. Pada hari pernikahan mereka, Zeus memberi hadiah berupa sebuh kotak yang indah. Pandora diperingatkan Prometheus untuk tidak membuka kotak tersebut. Suatu hari, Pandora sangat penasaran dan kemudian membuka kotak tersebut. Setelah dibuka, dari kotak itu keluar berbagai macam keburukan (kejahatan, penyakit, penderitaan). Semua keburukan itu menyebar ke seluruh dunia dan menjangkiti umat manusia. Pandora kemudian melihat ke dalam kotak dan menyadari masih ada satu hal yang tersisa di sana: harapan.

Aku suka sekali cerita jaman Yunani kuno. Dewa Zeus, Thor, Loki, Dewi Hera, Hercules, dan semua yang berhubungan dengan mitologi mereka. Kehidupan mereka menarik dan aku percaya kalau mereka benar-benar pernah ada di dunia. Aku suka membayangkan mereka benar-benar hidup dan menjalani kehidupan seperti manusia. Aku bahkan membuat satu novel yang setingnya jaman Yunani kuno di langit: Dear Gods.

Well, sebenarnya aku nggak terlalu mengagumi sosok Pandora. Hanya saja, kisah tentang kotaknya itu memang melegenda hingga sekarang dan sering diangkat dalam novel, film, bahkan komik. Aku suka inti dari bencana yang sebenarnya ada dalam kotak.

Bahwa di tiap musibah dan masalah, selalu ada harapan.

Pandora paint by unknown

Otanjoubi Omedeto, Hyde-kun!

Tepat hari ini, 29 Januari 2012, vokalis L'arc~en~Ciel ulang tahun.

Laruku ini salah satu band rock legendaris Jepang. Aku lahir, mereka memulai debut yang langsung meledak. Beberapa kali pergantian personil, sampai akhirnya mantap dengan formasi Hyde (vocalist), Tetsu (bassist), Ken (gitarist), dan Yuki (drummer).  Itu sedikit tentang Laruku, sekarang aku bakal membahas tentang hari lahir vokalisnya.

Jadi, si Hyde hari ini ulang tahun ke-42 tahun. Setahun lebih tua dari Ibuku. Tua tua begini, dia punya muka yang imut dan persis cewek lho. Dia itu cowok cantik. Dulu waktu awal suka Laruku, aku mabuk Hyde. Semua serba Hyde. Wallpaper, ringtone, sampai foto Hyde yang terselip di beberapa buku. Kalau iseng, selalu menulis nama Hyde di sembarang tempat. Hyde Hyde Hyde. Semua tentang Hyde. Sampai Ibuku pernah bilang, "Kak, itu siapa sih? Kok dimana-mana ada dia? Itu cowok apa cewek? Hah, cowok? Kok kayak cewek gitu?" dan aku cuma nyengir kuda.

Pelafalan kata Hyde sebenarnya 'Haido'. Tapi aku lebih suka menyebutnya 'Hide'.

Sekarang, aku masih cinta Hyde. Apalagi tanggal 2 Mei 2012 nanti, Laruku bakal konser untuk pertama kalinya di Indonesia, setelah 6 tahun tertunda. Hahaha, kalau 6 tahun bukan ditunda ya namanya. Aku sempat galau seminggu memikirkan konser itu. Aku pasti nggak datang, nggak boleh datang, dan nggak akan datang. Secinta-cintanya aku dengan Laruku, segila-gilanya aku dengan Hyde. Padahal, tiket regulernya cuma 500ribu. Harga tiket itu sudah termasuk murah untuk ukuran band sekelas Laruku. Sekalipun harga tiketnya 1000, aku nggak bisa datang juga, kan. Poor me. Lucky you guys! 

Anyway, otanjoubi omedeto, Hyde-kun!
Semoga Laruku selalu sukses, semoga proyek duet bareng Gackt juga sukses. Semoga konser di Lap. Senayan Jakarta yang nggak ada akunya itu sukses. Salam buat Oishi Megumi dan anak cowokmu yang ganteng itu, ya. 

I am your biggest fan, Angel without wings! <3

Sesederhana Itu

Romantis itu bukan saat kamu terus menjejali otakku dengan gombal kelas satu. Romantis itu bukan saat kamu terus menghujaniku dengan hadiah favoritku. Itu semua menyenangkan. Tapi, tidakkah kamu ingin kita menyepi, Sayang?

Bayangkan. Aku dan kamu, berjalan, hanya berdua saja. Di pinggiran jalan yang sepi dengan cahaya temaram karena terlindung dedaunan. Sambil terus menderap langkah, kita terus bertukar kata dan berbagi cerita. Aku akan menceritakan apa saja. Kamu akan tertawa karenanya. Aku menggelayut manja sementara kamu merangkul pundak dengan hangat. Di antara dedaunan yang gugur dan angin yang sejuk, kita membumbung cinta. Tawa yang menyublim ke langit, mendingin, dan merebak bahagia.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana langit yang tak menyombongkan birunya. Sesederhana matahari yang tak memamerkan teriknya. Sesederhana pepohonan yang merontokkan tiap bagiannya.

Sesederhana kamu, yang hanya ingin berdua.

Sesederhana aku, yang hanya ingin kamu.





Kamu bagian tersulit dari aku
sementara aku bahkan bukan bagian termudah dari kamu
Cinta seperti apa, Sayang
Apa yang kamu inginkan dari lingkaran apatis semacam itu

Sadar dan resapilah
Aku mendarahdagingkan kamu
Kamu terselip bahkan di rapatnya dinding sel terkecilku
Kamu mengalir bahkan di sempitnya pembuluh di otakku

Bangunlah, Sayang
Dunia ini bukan milik kamu

Senyap ini milikku
Jangan penjarakan jiwamu dalam aku
Rasanya semu
Rasanya jemu
Aku memenjarakan aku ke dalam aku
Tanpa satu pun lirih nafasmu
Aku tidak perlu ratapmu

Kalau kau ingin hidup, hiduplah untuk kau juga
Naif kalau kau bilang ingin memapah aku juga

Aku bisa sendiri
Aku memegang aku sendiri

Egois?
Tidak, Sayang. Inilah aku. Yang kau sendiri baru tahu.

Cerita Lain

Aku tahu kamu.

Kamu tergopoh-gopoh cuma karena nggak ingin aku lama menunggu. Kamu menderap langkah di tangga cuma karena nggak ingin kue coklat kesukaanku itu hangus. Kamu berlarian di halaman cuma karena nggak ingin semenit pun kita berjarak lagi. 

Hati dan senyum kamu itu luar biasa ya.

Dan hebatnya, kamu itu pria. Mana ada pria sehebat kamu, kan. Yang rela mencatat resep semua makanan favoritku, berakrobat di dapur, dan dengan bangga memamerkan kue gosong itu. Kamu meneriakiku supaya bangun lebih pagi, menyeretku ke kamar mandi. Aku sebal. Kamu penyayang, tapi tega berbuat apapun padaku.

Sekarang, aku kangen kamu.

Aku lihat anak perempuan kamu yang cantik itu. Mana bisa aku membuatnya kehilangan kamu. Seorang ayah harus terus ada di sisi anaknya. Kalau aku mendekapmu, putri kecil itu meratapimu. Sayang ya.

Dia anak kamu. Bukan anak aku. Bukan anak kita.

Bersamamu

Halo, Sayang,

Aku menyapamu. Menggelayut manja di pundak lebarmu. Kamu tersenyum menatapku, meraih tanganku. Aku suka ini. Kamu menyentuh dan mengelus tanganku dengan lembut dan membuatku ingin menempel selamanya di punggungmu. Kamu selalu menatap ke dalam mataku dalam-dalam. Aku pikir kamu mencari sesuatu. Seakan aku menyembunyikan rahasia tentangku, yang nggak ingin terbagi denganmu.

"Apa yang sebenarnya kamu cari di mataku?"

"Kamu. Dan aku selalu menemukannya." 

Sayang, kenapa ya aku suka sekali melihatmu tertidur. Terlelap seperti bocah yang nggak peduli dunia. Tidur itu saat seseorang nggak awas dengan sekitar. Keadaan paling lemah sebagai manusia. Dan aku, senang melihatmu terebah lemah di sampingku. Aku jadi merasa bisa melindungimu. Bisa menggenggammu.

Sayang, kamu milikku.

Dunia ini kejam, ya. Aku, sebagai wanita yang harusnya tergugu rapuh, malah mengkhawatirkan kamu. Bisakah kamu bertahan di kerasnya perasaan ini? Bilakah kelak dunia menantangmu untuk melepaskanku, akankah kamu merelakanku? Jika saja, kelak semesta nggak menginginkan lagi aku dan kamu bersatu, akankah kamu lebih kuat dari aku? Jangan dijawab, Sayang.

Tidurlah.

Aku di samping kamu. Bersamamu.

Aku Nggak Akan Pergi

Kamu melihatku dari pantulan kaca. Aku yang sedang merapikan semua bajuku dan sibuk mengeluarkan semua barang bermerek darimu. Kamu hanya menggosok gigi dengan santai. Kamu bahkan sempat mencukur jambang yang belum panjang, padahal aku sudah sengaja memperlambat gerakan beres-beresku. Aku harap kamu mengerti aku. Aku harap kamu menghentikan aku. Tapi kamu, hanya meraih handuk dan menghilang di kamar mandi.

Kamu memang paling jago mempermainkan perasaanku.

Hari ini aku pergi. Menetap di luar negeri selama tiga tahun lamanya. Aku ingin pergi, tapi aku juga ingin kamu menahan dan mengemis aku. Memintaku untuk tetap di sini. Bersamamu. Tapi kamu, sama sekali nggak peduli.

Kami memang paling anti meluruhkan ego untuk memahamiku.

Aku beranjak. Air mata mulai merangkak naik. Aku mulai kepayahan menahan luruhnya saat kudengar kamu mendendangkan lagu di bilik kecil itu. Kamu hebat ya, Sayang. Kepala dan hatimu itu sudah lebih keras dari batu.

Di depan pintu keluar, selembar catatan menahan langkahku.

Aku terlalu cengeng untuk melepasmu. Aku akan menunggumu. Tiga tahun, kan? :')

Tanganku gemetar di gagang pintu. Aku mengangkat koper dengan mantap, melangkah dengan senyum dan hangatnya banjir di pipi. Aku terus berjalan. Dan berhenti di perhentianku.

Kamu keluar dari kamar mandi. Terdiam menatapku.

Aku batal pergi. Aku nggak akan pergi.

Yang Mulia-ku (3)

Kamu masih nggak bersuara. Aku masih pura-pura belum terjaga. Wajahmu terang ditimpa cahaya laptop, satu-satunya yang bersinar di antara kamar yang temaram. Aku membuka mata lebar mengamatimu, tanpa takut kamu tahu kalau aku sudah bangun.

Aku menarik selimut. Kamu mengetik dengan khusuk.

Kamu bergerak tanpa ekspresi. Dengan headset di telinga dan musik-yang aku tahu-pasti bervolume besar, kamu bersandar di sofa panjang dengan mata yang jarang sekali berkedip. Sekali lihat, orang yang baru kenal kamu pun pasti tahu kalau kamu kuat. Kamu pria hebat.

Sampai ada masalah ini, kamu tetap berdiri tegap.

Sementara aku menangis dan terenyak dalam duka, kamu menatap ke depan dengan hampa. Sementara aku lemah dan meratapi semua, kamu seperti nggak terluka. Aku senang. Kamu memang selalu bisa diandalkan dan jadi sumber kekuatan. Tapi Sayang, bisakah kamu bicara sepatah saja? Sejak saat itu, kamu nggak berkata apa-apa. 

Kamu bahkan seperti nggak mengenalku. Kita seperti orang asing di rumah sendiri.

Sayang, sikapmu itu, apa karena kamu menyalahkanku? Apa karena kamu kecewa atas ketidakberdayaanku? Apa kamu sulit menerima kenyataan dan muak melihatku?

Atau, kamu bahkan nggak merasakan lukaku?

Sayang, ini terlalu berat buatku.

Saat kulihat kamu menyingkirkan laptop dari pangkuanmu, aku kembali menatapmu. Dan mendadak, aku sesak nafas. Aku melihat kamu duduk dengan tangan tergenggam. 

Kamu menangis.

Aku terdiam di balik selimut. Mataku terasa panas untuk merasakan genangan air mata yang merangkak naik. Aku menatapmu lagi. Kali ini tangismu menghebat, hingga kamu mati-matian menahan agar suara isakan itu nggak keluar dan terdengar.

Dan aku, terisak di balik selimut melihatmu.

Kamu, suamiku yang kupikir kuat itu, sedang berada di puncak lelahmu. Semua perih dan kehilangan itu kini membuatmu kalah. Membuat tembok pertahananmu runtuh. Kamu menangis seperti anak kecil yang ibunya baru saja meninggal. Rapuh, kecil, dan nggak berdaya.

Aku menarik selimut sampai ke kepala. Terlalu takut melihatmu terlalu jauh terluka.

"Maaf ya, Sayang," bisikku.

Kabar buruk pagi tadi bukan kuasa dan kehendakku. Termasuk anak kita yang gugur itu.

Yang Mulia-ku (2)

Aku menggelayut manja di pinggiran sofa. Tanganku menarik-narik blus birumu, merengek seperti seorang bocah yang minta dibelikan permen kapas. Kamu hanya tersenyum sambil bermanufer melewatiku dan lari ke dapur untuk membuat pancake.

"Kamu mau pancake rasa apa?" tanyamu nyaring.

"Vanilla," jawabku.

Aku menatapmu. Kamu memang cantik ya, Istriku. Kenapa kamu secantik itu. Kenapa kamu mau menikah denganku. Aku tahu, kamu bilang aku pria terganteng dalam hidupmu. Tapi rasanya kamu lebih cinta rahangku ketimbang aku.

"Sayang, kenapa kamu mau menikah denganku?" sahutku.

"Jangan bercanda, ah." Katamu.

"Aku gak bercanda, kok."

"Eeemm kenapa, ya?" kudengar kamu bergumam. "Karena kamu itu pria terganteng yang kukenal. Dan karena kamu punya ciuman yang manis."

Aku merengut. "Oh, jadi cuma itu. Aku ini seperti menjual fisik?"

"Jangan ngambek ah," bujukmu sambil menyodorkan pancake dengan es krim vanilla yang lumer ke depan hidungku. "Ini, Cowok ganteng."

Aku tertawa. "Kalau aku kecelakaan dan mukaku hancur, kamu masih mau jadi istriku?"

"Nanti kupikirkan," candamu.

"Ya ampun, berarti aku harus cepat menurunkan gen ganteng ini pada anak kita, ya. Sayang kan, kalau dibawa mati olehku."

Kamu tesenyum. Tangan putihmu memelukku dari belakang lalu mengecup sudut bibirku yang belepotan es krim. "Sebenernya... sudah ada yang menuruni gen itu,"

Aku terkesiap. Aku memutar badan dengan cepat, menatap kamu yang tersenyum penuh misteri. Matamu turun, menunjuk-nunjuk ke arah perut.

"Cepat lahir, Bayi ganteng!" teriakku. Kamu tertawa geli.

Aku dan kamu. Saat itu. Tenggelam dalam bahagia itu. Sama sekali buta pada takdir-Mu.

Yang Mulia-ku (1)

Aku menatapmu. Kamu sedang balik menatapku dari balik cangkir kopi yang asapnya mengepul itu. Kamu seperti menerkamku. Aku beranjak ke dapur saat adu tatap kita semakin menyesakkan.

"Kamu mau kubuatkan pancake?" tanyaku.

"Untuk apa?" tanyamu hambar.

"Kamu kan, biasanya minum kopi sambil makan pancake, Sayang,"

"Terserah."

Aku membuka bungkus pancake instan, menuang isinya di mangkuk besar kemudian mengaduk-aduknya setelah kuberi air. Wajan kupanaskan. Setelah aroma manis mentega menyeruak, adonan pancake kutuang. Air mataku mulai mengambang.

Dulu, memasak pancake adalah rutinitas kesukaanku. Kesukaanmu. Kamu membantuku mematangkan pancake. Sekalipun seringnya kamu hanya mengacau dan terus memelukku dari belakang, kita tetap membuat beberapa pancake lagi. Dan lagi. Hingga semua adonan habis, aku dan kamu kekenyangan, dan sisa pancake kamu lempar pada Coco yang menyalak kegirangan.

"Apa yang kamu lakukan?"

Kamu muncul dari balik pintu dapur, melotot kaget padaku. Aku terkesiap. Asap hitam mengepul dari wajan. Pancake gosong. Kamu merangsek ke dekatku, mematikan kompor dengan gusar, dan membuka jendela lebar-lebar. Tanpa menatapku yang hanya terdiam, kamu berlalu begitu saja.

Air mataku jatuh di wajan yang menghitam. Air mata yang langsung menguap lenyap karena panas.

"Maafkan aku," kataku sambil duduk di sebelahmu.

"Untuk kesalahan yang mana?" tanyamu.

"Terserah, kamu mengartikannya yang mana,"

Aku melirikmu. Rahangmu yang tegas itu membuatku terenyuh. Kamu sudah lama nggak bercukur. Rahang yang dulu sering menggelitik pipiku. Aku pernah bilang padamu kalau kamu mati duluan, aku mau mengawetkan kepalamu agar bisa memandangi rahangmu. Dan rahang itu kini mengeras, seperti menahan emosi yang nggak tersalur.

"Itu bukan salahmu,"

"Lalu, kenapa kamu terus-terusan marah padaku?"

"Aku gak marah. Aku hanya sedang gak mau bicara. Itu berbeda."

Aku menunduk. Pundakku bergetar, terisak tangis. Kamu merangkul pinggangku, memeluknya dengan rapat. Aku bersandar pada dadamu yang hangat. Aroma tubuhmu memenuhi hidungku, aku membenamkan hidung di lehermu. Kita saling mendekap. Dan kamu mulai ikut terisak.

"Maaf, Anda keguguran. Bayi Anda sudah meninggal di dalam perut."

Aku memejamkan mata dan mencoba tidur. Semoga tidur selamanya.


Dan... waktunya berterima kasih pada Tuhan atas segala hal yang masih bisa digenggam, dirasakan, dinikmati, diresapi, dan dikenang. Terima kasih atas adanya perasaan, pikiran, dan segala pergolakan. Atas hati, batin, benak, dan logika. Atas rasa dan asa. Atas musibah, cobaan, dan pelajaran. 
Atas sesuatu dan seseorang. Atas masa lalu dan masa depan.

Atas nafas, darah, dan nyawa.

Terima kasih, Tuhan.









Cintailah dirimu sendiri, setidaknya untukmu sendiri
Terjerembab dan sekarat mungkin membuat hati mati
Tapi seperti kaca yang berefleksi, saat hati mati logika hidup lagi
Tiap kali hati terluka, tempat untuk logika semakin terbuka
Begitu juga sebaliknya
Tiap kali hati terlena, tempat untuk logika akan terabaikan
Sesekali menikmati kekalahan dan berdiam tidaklah salah
Saat kalah, tiada guna kau berontak
Itu sama seperti tak berotak
Istirahatlah, berilah waktu untuk hati dan logika
Berikan jeda hati untuk pulih agar lebih cerdas memilih
Berikan kesempatan untuk logika untuk membeberkan semua


Jadilah kuat, setidaknya untukmu sendiri
Satu dua sakit hati tak akan membuat mati
Bahkan tiga empat kali lagi hati itu terkoyak, kau masih akan baik-baik saja
Kehilangan dan dihilangkan dari hidup seseorang
Menghilangkan dan terhilangkan
Logislah, semua toh akan jadi kenangan
Tidak ada yang benar-benar pergi
Begitu juga semua ingatan yang mustahil akan kembali


Omong kosong
Mungkin terdengar seperti itu
Tapi hati dan logika yang sedang berpacu itu milikmu
Sadarlah dan maafkanlah
Berdamailah dengan apapun itu yang membuat kenangan sesak


Mencintai masa depan akan mengubur masa lalu




Ayo mampir ke tumblr juga ya. Thanks! :)


Kafe Merah Muda


Kafe merah muda manis. Tuhan, kalau tempat semacam itu ada di sekitar rumah, Ibu pasti marah-marah karena anak gadisnya malas pulang. Lihat suasananya. Sebagai pecinta kopi, pancake, dan tempat-tempat manis, kafe merah muda itu terlihat sempurna. Aku ingin datang setiap hari kesana. Sambil jalan-jalan di tumblr dan blog, menyeruput kopi, memerhatikan semua orang yang lalu lalang sambil senyum selebar telinga. Bisa kali ya pelayan kafe tiba-tiba memutarkan lagu Nothing Is Gonna Change My Love For You-nya Westlife. Dan dijamin aku nggak akan beranjak, paling nggak untuk tiga jam kedepan. Baca cerpen Cupcake Abu-Abu di Bulan Desember 2011. Kafe ini cocok jadi setingnya, kan.

Aku yang sedang begitu menikmati saat-saat bersama diriku sendiri ini, sering memikirkan tempat-tempat tenang semacam itu. Hanya ada aku dan aku, dan semua yang di sekitar hanya semu. Ada kalanya saat duduk sendiri memandangi orang, waktu seakan terhenti. Ada kalanya aku hanya menatap kosong pada satu titik. Itu namanya 'Waktu Kosong'. Menurut penelitian hanya lelaki yang punya hal semacam itu. Hanya duduk dan menerawang dengan pikiran kosong tanpa tahu apa yang benar-benar dipikirkannya. Seperti itulah aku sekarang. Dan walaupun seperti nggak ada kerjaan, itu adalah salah satu hal termenyenangkan sejauh ini.

Dan alangkah indahnya kalau kelak bisa menghabiskan saat itu bersama seseorang yang sudah disiapkan Tuhan.

Sabun Kopi


Sabun kopi. Ya Tuhan, bisa-bisanya. 

Penampakan sabun kopi ini muncul di tumblr dan langsung membuat kaget. Sebenarnya nggak perlu kaget karena kopi toh sudah marak dibuat lulur. Tapi, sabun kopi itu kelihatan enak dan manis seperti brownies tabur meses coklat. Dilihat dari teksturnya yang agak kasar, kopi memang bagus untuk jadi scrub untuk membuang sel-sel kulit mati. Dan aku nggak bisa membayangkan aroma macam apa yang keluar saat sabun kopi itu berbusa di badan. Jangan-jangan aku nggak bakal tahan untuk menjilatnya.

Anyway, congrats to my coffeee! Nggak hanya mendunia dan hampir selalu jadi minuman wajib terutama di Amerika, si hitam sekarang jadi bahan baku utama produk sabun kecantikan dari merk fasion ternama. Kalau sabun itu sampai di tanganku, aku ingin mencoba menyeduhnya dengan air panas untuk tahu seperti apa jadinya. Yah, semoga aku nggak kebablasan lalu meminumnya. Sluurp!

Coklat dan Cinta


Coklat. Akhir-akhir ini, karena sering begadang aku punya kebiasaan baru. Bolak-balik buka pintu kulkas dan meraup coklat dengan rakus. Dulu aku sama sekali nggak peduli dengan persediaan coklat di kulkas. Sekarang, melihat coklat mulai habis kepala langsung berasap. Padahal sebenarnya aku nggak terlalu suka coklat. Omong-omong soal coklat, sudah bosankah dengan istilah coklat ibarat cinta? Aku belum bosan, jadi sekarang rasanya ingin membahas istilah ini.

Coklat dan cinta.

Manis, membuat senang dan santai, lumer saat dirasakan.

Perandaian cinta itu manis agak kurang cocok untuk yang sakit hati. Sama seperti coklat manis yang nggak enak kalau didengar oleh yang sakit gigi. Seperti salah satu lirik lagu dangdut, "Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ini."

Coklat aslinya nggak mempunyai rasa, bahkan cenderung pahit. Rasa coklat itu karena banyak campuran. Persis seperti cinta yang aslinya sederhana. Cinta hanya cinta dan sekedar cinta. Tanpa ada embel-embel, tanpa sakit, tanpa tipuan, tanpa khianat, terlebih murka. Miris rasanya kalau ada yang membenci cinta. Aku cinta cinta. Aku senang karena perasaan itu orangtuaku bertemu dan aku ada di dunia. Karena perasaan indah itu Tuhan-ku dengan senang hati memberikan semua pada umat-Nya. Karena perasaan itu aku masih terus dikelilingi teman dan sahabat, betapapun egoisnya aku. Karena perasaan itu juga aku tahu seperti apa rasanya ingin melihat seseorang bahagia dan ingin selalu melihatnya tertawa.

Cinta harusnya sederhana, kan. Pada siapapun itu ditujukan.

Seperti halnya coklat, cinta juga hanya satu alasan lain untuk bahagia.

Lelah, kan. Kalau mengingat ada banyak yang mencintai, tapi bersikeras memberi cinta pada yang tidak ingin diberi. Sampai kapan. Ya, sampai mana cinta dan tunggu itu berbatas dan akhirnya terantuk kenyataan. Butuh lebih dari sekedar tembok berlapis semesta untuk yakin akan cinta, mempertahankan dan melindunginya meski ditentang dunia. Tapi sebenarnya, bila percaya Tuhan sudah punya yang terbaik dalam genggaman-Nya, melepaskan mungkin akan seringan senyum. Cinta tak harus memiliki, itu benar. Bahagia tak harus memiliki, juga benar. Tapi cinta dan bahagia adalah pilihan, harus benar.

Mencintailah. Dan bahagialah.

Jangan kalah. Jangan pernah menyeret langkah.
Saat kau menangisi masa lalu, masa depan menangisimu.



A R K A


Ehem. Pria digambar ini namanya Arka Alehandra Putra. Dia ini tokoh utama di novel yang sempat kubuat lima tahun lalu yang nggak jelas kabar selanjutnya karena si penulis hilang rasa melanjutkannya. Sedikit cerita, novel itu judulnya Utsukushii, yang dalam bahasa Jepang artinya 'Indah'. Bukan bermaksud narsis ya, tapi tema itu memang sesuai dengan isi novel. Yah, walaupun memang agak bermaksud menyerempet namaku ya.

Si Arka ini ceritanya tokoh utama di seting dua. Seting pertama, di Jepang yang tokoh utamanya bernama Tasuku Yukarizawa. Singkatnya si Tasuku ini anak mantan perdana menteri Jepang jaman penjajahan yang dikhianati negaranya sendiri. Tasuku kecil hidup dalam janji untuk membalas dendam ayahnya. Setelah sempat jadi samurai untuk membunuh semua musuh ayahnya, Tasuku tobat dan jadi penulis novel. Nah, novel itulah yang judulnya Utsukushii yang isinya menguak betapa busuknya pemerintahan Jepang. Utsukushii inilah yang membuat Tasuku diancam akan dibunuh, tertekan, dan akhirnya bunuh diri di depan makam istrinya karena nggak rela nyawanya dicabut orang lain.

Arka ini ceritanya 'dipilih' oleh Utsukushii yang berhasil diselamatkan Kaze, asisten Tasuku yang menemukan pertama kali jasad Tasuku yang mati sambil memeluk Utsukushii. Arka yang punya masalah sendiri, karena dia dilahirkan sebagai anak haram hasil hubungan mahasiswa Indonesia (ayahnya) dan seorang pelacur cantik di Amerika (ibunya), 'dituntun' untuk ke Jepang dan menemukan Utsukushii. Rencananya sih, si Arka bakal menemukan Utsukushii dan mengembalikannya ke makam Tasuku dan hal-hal semacam itu. Sayangnya aku belum ingin melanjutkannya sejak sekian abad yang lalu.

Entah bagaimana, cowok ini tiba-tiba mendarah daging denganku. Mendadak aku jadi begitu jatuh cinta dan terikat dengannya. Mungkin karena Arka itu rapuh, keropos dalam hati, sekaligus kuat dan sulit dikalahkan bahkan oleh dirinya sendiri. Dan dari sekian banyak tokoh yang kutulis dan ciptakan, Arka pasti yang paling kusuka. Lihat namaku? Indah Arka Arifallah. Aku sampai hati mengganti nama tengah untuknya. Bukan ganti nama resmi, ya. Apa kabar ayahku yang susah payah memberi nama.

Oh ya, karena nama Arka tercetus begitu saja, aku kaget sekali saat tahu ternyata Arka itu berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya api atau cahaya matahari. Hahaha, hebat ya, Arka-ku!


Dari semua hal yang mungkin membuat bahagia di atas, hanya olahraga yang sepertinya jarang sekali dilakukan. Lebih jarang dari hujan di Sahara, lebih jarang dari cahaya matahari di Kutub Utara, lebih jarang dari cinta mulus yang merdeka. Tetap sehat, tetap bahagia, tetap lanjutkan hidup meski dunia seperti bergerak melawanmu.
Merdeka!

Suami

Hari ini, setelah sekian lama terpisah waktu dan jurusan, akhirnya aku bertemu lagi dengan salah satu teman terbaik di jagad pertemanan, Kak Sa. Yah, nama aslinya Safira Elfadhilah. Ceritanya, dulu kelas satu SMA kami sekelas. Karena aku merasa 'Safira' terlalu panjang, karena walaupun dia lebih muda setahun tapi kelakuannya dewasa, dan karena iseng, akhirnya aku membuat nama panggilan semena-mena itu. Kak itu kakak, Sa itu dari Safira. Dan karena kesemena-menaan itulah hampir seluruh makhluk bumi memanggilnya Kak Sa.

"Aku penasaran, siapa sih yang nanti bakal jadi suami Indah?"

Inilah salah satu pertanyaan yang berhasil ditelurkan olehnya, yang langsung membuatku sakit kepala. Suami. Yah, dia bertanya tentang suami. Sebelum membahas ini, ada baiknya kita mengambil nafas dalam-dalam.

Aku sudah berkali-kali ditanyai siapa yang kira-kira jadi suamiku. Mulai dari ekspektasi baik seperti: "Pasti cowok itu setiap hari bakal ketawa-ketawa," sampai yang keji seperti: "Tuhan, siapapun yang kelak jadi suami Indah, berilah pria itu kekuatan dan kesabaran. Masukanlah ke dalam Surga untuk membalas pengorbanannya."

Yah, omong-omong soal suami, aku tipe yang malas untuk serius membicarakannya. Kalau yang lain lebih suka membayangkan nonton berdua, makan di pinggir jalan berdua, atau belanja berdua, aku lebih suka memikirkan hal-hal sepele yang lebih asyik dan santai. Seperti taruhan bola, misalnya. Kurang lebih, hal-hal inilah yang sering kubayangkan kalau tiba-tiba pembicaraan melompat ke masa depan:


1. Taruhan bola. Yang kalah, cuci piring.
Yang satu ini pernah kubahas dengan teman dekatku dan kami geli membayangkannya. Kalau dia membayangkan makan popcorn sambil mengomentari pertandingan bersama suaminya, aku lebih suka membayangkan aku dan siapapun-itu-kelak akan saling melempar bantal kalau klub yang kami bela mencetak gol. Mungkin aku akan salto di atas karpet bulu sambil tari perut, atau apapun untuk membuatnya tahu, aku menang dan dia harus cuci piring. Ada baiknya kami habis makan besar, supaya yang kalah benar-benar tahu rasa.

2. Seret-seretan dari kasur. Yang berhasil diseret sampai pintu kamar, siram tanaman.
Untuk yang satu ini, walaupun membayangkannya asyik, sepertinya aku akan selalu jadi yang kalah. Apa dayaku menyeret pria yang mungkin saja hampir setinggi tiang gawang sampai ke depan pintu kamar. Apalagi kalau ternyata kamar kami nanti seluas lapangan futsal. Yah, tapi mengingat aku ini wanita, paling juga aku akan capek sebelum berhasil menyeretnya jatuh dari ranjang. Lalu aku akan mengeluh, meninju-ninju kakinya, mencabuti bulu kakinya sampai dia menyerah dan beranjak menyiram tanaman. Memberi makan tanaman juga harus jadi bagian bersama, kan.

3. Sahut-sahutan dengan sisa nyawa.
Karena aku ingin bergabung di perusahaan real estate dan jadi budak benda properti disana -amin-, bisa dipastikan nantinya saat pulang kerja hanya akan ada sepersepuluh nyawa yang tersisa. Dan berhubung aku pendek, jadi sisa-sisa tenaga itu menggelayut di mata kaki. Jadi, di hari-hari sibuk aku akan pulang dengan terseret-seret, membuka pintu rumah dengan tangan yang seperti tak bertulang, dan merosot di sofa ruang tamu. Beberapa menit kemudian, suamiku juga pulang. Dengan keadaan yang hampir sama parahnya, tapi sempat mengunci pintu dan menghidupkan lampu. Dia juga merosot di sofa. Kami berguling di sofa yang berhadapan, menggelayut dengan mata setengah terbuka. Terus begitu sampai terasa seperti selamanya. Sekitar lima belas menit kemudian, barulah dia mulai menyapa, "Hai, aku pulang." Dan aku akan membalas, "Ya, selamat datang."

4. Siapa yang paling tahan gatal. Yang kalah, ganti seprai kasur.
Nah, ini kedengarannya sepele sekali, kan. Mengganti seprai kasur. Apa susahnya, tapi betapa malasnya. Bagiku, pekerjaan mengganti seprai itu urutan nomor dua setelah menyetrika di antara daftar tugas ibu rumah tangga. Bukan hanya harus melepaskan seprai dari kasur, tapi juga harus melipat bedcover, melepas satu persatu sarung bantal dan guling, untuk kemudian memasangkan lagi yang baru. Aku nggak semalas itu untuk mengerjakan ini, tapi dalam keadaan tertentu mengganti seprai itu seringnya malah membuatku berguling seperti orang mati di atas bedcover dan menunda-nunda untuk mengganti dengan yang baru. Dan yah, kalau nanti sampai malasku datang dan suamiku nggak mau mengalah untuk sekedar mengganti seprai kasur, kami akan mengadakan lomba siapa yang lebih tahan gatal. Siapa yang tahan dengan seprai kucel dan bau, akan menang. Oh, itu lomba yang sedikit menjijikkan ya.

5. Lari pagi berdua.
Ehem. Ini nggak seromantis kedengarannya. Jangan bayangkan lari pagi mesra yang saling melempar tawa. Yah, bolehlah kalau sedikit melempar lelucon. Tapi berhubung aku malas olahraga, mungkin yang akan terjadi adalah suamiku, melompat-lompat heboh di depan jendela kamar yang terbuka, menyuruhku untuk ikut lari pagi bersama, melakukan pemanasan sambil berteriak mengganggu hingga akhirnya aku bangkit dan menurut. Lalu kami akan melakukan lari pagi keliling komplek. Sementara aku mengantuk dan lari seperti siput, suamiku sesegar dan sebugar ibu-ibu yang melakukan senam hamil. Ini berlaku kalau siapapun-pria-itu-kelak suka olahraga, ya. Kalau ternyata dia nggak suka olahraga, berarti kami akan menghabiskan minggu pagi dengan tidur sepanjang hari. Berdua, selamanya, seperti dua ekor sapi gelondongan.


Sepertinya masih banyak yang kupikirkan tentang aku dan suamiku kelak. Aku bukan pengikut paham menikah muda, tapi tentu saja ingin menikah. Kapanpun Tuhan bilang YA. Aku nggak akan berharap banyak tentang suamiku kelak. Tuhan tahu siapa yang terbaik, siapa yang benar-benar kubutuhkan, dan siapa yang kelak akan anak-anakku rindukan.

Dear suamiku yang masih abstrak wujudnya, sampai bertemu nanti di masa depan yang sama!


Kopi


Lihat gambar itu. Minuman hitam apa yang pastinya super enak itu. Aku bersyukur sekali ada minuman semacam itu di dunia yang sibuknya keterlaluan ini. Cairan hitam yang baunya membuat ketagihan itu nggak sekedar membuat terjaga. Lebih dari sekedar minuman, kopi membuat aku menjadi aku.

Karena seringnya minum kopi saat perasaan sedang kacau, kopi jadi semacam mantra penyembuhan diri. Aku bahkan pernah memposting tulisan yang judulnya 'Buku, Kopi, Musik, dan Tuhan'. Betapa kopi memang bisa menjungkirbalikkan mood dalam sekejap dan membuat hati dingin. Hahaha, apa jadinya dunia tanpa minuman keling ini. Yah, apa jadinya aku lebih tepatnya.

Seorang teman menasehatiku agar berhenti minum kopi. Katanya, kopi bisa membuat cepat tua dan bahaya untuk kesehatan. Aku ingin sekali mengiyakan dan dengan berat hati memang mengurangi. Selain karena dari awal tahu imbas buruk kopi, aku juga mulai terkena imbas buruk kelebihan kafein: sesak nafas. Kalau nggak salah, konsumsi kafein lebih dari 1300mg perhari bisa menyebabkan sesak nafas. Aku bahkan pernah menarik nafas susah payah, dalam-dalam, dan mulai panik karena seperti kehabisan udara. Sejak itu aku mulai mengurangi dosis kopi, dari sekitar satu atau dua gelas sehari jadi sekitar seminggu dua kali.

Percayalah. Itu pengalaman yang buruk sekali.

Saat menikmati kopi mulai nggak sebebas dan sesantai dulu, segelas kopi saat hujan atau sendirian di kamar sambil membaca buku jadi saat-saat yang harus disyukuri dan dinikmati. Persediaan kopi yang dulu cepat habis dan kotak sampah jadi penuh bungkus kopi kemasan, kini jadi awet dan hampir seperti tak berkurang. Nggak keren.

Tapi, aku tetap cinta kopi.

Kopi tetap hidupku. Sama seperti buku dan musik. 

Dan dengan segala imbas buruknya, aku tetap suka menyeruput si hitam yang sangat enak bila dicampur krimer ini dengan perasaan senang dan lega. Yah, empat hal dalam hidup memang tidak akan bisa dibuang begitu saja.

Buku, Kopi, Musik, dan Tuhan.

Celemek Merah Muda #3

Pulang kerja lebih cepat lalu menyetir ke rumah yang jarang sekali kuingat bagaimana prosesnya. Aku seperti duduk begitu saja di depan setir, pikiran kosong, dan tahu-tahu mobil sudah terparkir di garasi. Tahu-tahu aku sudah berada di kamar, menggeletak di kursi bantal biru, dan tertidur dengan pakaian kantor yang masih lengkap. Pagi hari saat matahari mulai merangsek masuk ke kamar yang jendelanya bahkan tak pernah kututup, aku bangkit dari sofa, masuk kamar mandi, masuk mobil, masuk kantor. Aku masuk ke semua tempat kecuali TK itu.

Saat kupikir aku akan mulai menjadi pria yang memegang kendali atas perasaanku sendiri, aku malah babak belur dijatuhkan oleh seorang wanita yang badannya bahkan tidak lebih besar dari adik perempuanku saat masih SMP. Ia mengajakku jalan-jalan di surga untuk kemudian mendorongku ke neraka. Aku lebih dari sekedar remuk dan sakit hati.

Tidak bisakah cinta, sekali saja, membuatku tertawa dalam waktu yang lama?

"Zach, astaga, apa yang kaulakukan?" Carol menarikku yang entah bagaimana bisa berada di depan wastafel dapur dengan posisi kepala tenggelam di kubangan air keran yang lubang pembuangannya kututup dengan telapak tangan. Ini mungkin hal terbaik yang kulakukan selama seminggu ini. Setidaknya aku tidak sedang membekukan otak di kulkas.

Carol mendorongku ke kursi meja makan kemudian menyodorkan susu hangat. "Minumlah. Jangan buat pikiranmu tambah kacau." Katanya sambil berlalu. Kulihat adikku itu mengomel sambil membersihkan wastafel dan bertanya-tanya kenapa ia bisa punya kakak sepertiku.

"Aku nggak tahu lagi apa yang harus kulakukan," keluhku. Membayangkan Asca beranjak meninggalkanku di kafe saja membuat kepalaku berdenyut.

"Memangnya apa yang sudah kaulakukan?"

Aku tercenung. Tidak ada. Aku memang belum melakukan apa-apa.

"Aku takut. Aku takut saat aku minta maaf dan menjelaskan semua, Asca akan minta putus. Kau tahu, dia bahkan nggak memasang wajah cemburu saat melihatku bersama Scarlet. Dia terlihat biasa saja, bahkan sempat bilang akan mengerjakan sesuatu di TK." Aku menarik nafas dalam-dalam. "Sementara aku, cemburu seperti orang gila saat dia membicarakan teman sesama gurunya. Rasanya... seperti mendonorkan ginjalmu pada seseorang, tapi saat kau mati karena kehilangan ginjal, seseorang itu bahkan nggak mau datang ke pemakamanmu."

"Kapan kau pernah mendonorkan ginjal?" tanya Carol.

Aku menatapnya. Sejak kapan adikku jadi dungu.

"Sudahlah, aku mau berendam." Aku bangkit dan berjalan gontai menaiki tangga.

 "Aku serius." Ucap Carol. "Memangnya kapan kau memberikan pacarmu sesuatu yang paling diinginkannya?"

Aku berhenti berjalan. "Aku sudah memberikan semuanya. Waktu, perhatian, cinta. Aku bahkan memberikan aku, diriku sendiri padanya kalau dia mau."

"Sudah setua itu dan kau masih nggak mengerti," Carol menggeleng, melambai padaku yang termangu. Adikku itu menghilang di halaman belakang, menyisakan aku yang menghilang di balik gunungan pikiran.

Pride and Prejudice

Pride and Prejudice - Jane Austen


Novel ini jelas ada hubungannya dengan rentetan resolusi di tahun 2012 ini. Novel klasik legendaris karangan Jane Austen yang sudah berkali-kali dibuat film ini memang rumit. Karena setting-nya bangsawan ala Inggris jaman putih-hitam, bahasa dan gaya penulisannya juga seberat alur ceritanya. Meskipun memang sempat ada komplain mengenai terjemahan Indonesia buku ini karena dianggap memperumit bahasa, tapi Pride and Prejudice memang harus dibaca dengan kesabaran. Kisah Elizabeth dan Mr. Darcy yang lebih kacau dan berbelit dari sirkuit otak juga membuat kesabaran selalu menguap.

Novel ini dibeli tanggal 20 September 2011 dan jadi novel yang paling lama 'dihabiskan' dari seluruh novel yang kupunya. Setelah lewat 3 bulan sampai berganti tahun, aku baru menyelesaikan 178 halaman, itu juga perjuangan karena jarang dapat mood membaca. Selama menamatkan novel ini, aku bahkan lebih dulu menamatkan novel lain. Hahaha, dasar novel keramat.

Jadi, menamatkan Pride and Prejudice jelas satu resolusi 2012. Apalagi, sekuel Pride and Prejudice yang baru, Bespelling Jane Austen sudah terpajang di rak buku dan minta dibaca.

Belum pernah sebegini beratnya perjuangan membaca halaman terakhir sebuah novel.


Tahun Baru, Kue dari Oven


Oh ya. Tahun baru sudah datang, tahun lalu terbang dan terbuang begitu saja. Seperti melangkah di perbatasan dua negara ya. Satu langkah kecil yang bahkan lebih sekejap dari kedipan mata, dan kau sudah berada di waktu dan dimensi yang sama sekali berbeda. Seperti di perbatasan dua negara yang jika kaki melangkah ke satu wilayah, bagian negara yang ditinggalkan akan runtuh tak berbekas dan hanya menyisakan ingatan. Bahwa kita pernah berpijak, hidup, dan membuat kenangan di atasnya.

Aku lebih suka mengandaikannya seperti kue yang baru dikeluarkan dari oven. Kue yang kelihatannya manis, tapi penuh kejutan. Kita semua pemula jika dihadapkan pada sesuatu yang baru, termasuk tahun, meski selalu berusaha untuk jadi yang lebih baik. Aku sendiri, meskipun punya banyak impian dan cita-cita, sama sekali nggak berani mengucapkan doa. Semakin diucapkan, semakin sulit untuk dilupakan saat doa itu nggak mencapai tangan Tuhan.

Kue di toples itu, terlihat cantik luar biasa. Menggiurkan, penuh taburan, dan kalau bisa mencium aromanya pasti ingin cepat-cepat dimakan. Kita nggak pernah tahu seperti apa tahun ini selain terjun dan hidup di dalamnya, mencicipi dan menelan tiap hal yang terjadi, dan mungkin diabetes karena masalah-masalahnya.

Semakin banyak yang dilalui, rasanya berucap dalam hati sambil menghela nafas dalam-dalam adalah cara terbaik untuk menerbangkan doa pada Tuhan.

Tahun ini, semoga semanis kue di toples itu. Warna-warninya mungkin akan membuat kaki justru terjatuh berkali-kali, tapi nggak akan ada kue gagal kalau adonannya tepat. Dan meski hidup nggak akan pernah tepat, setidaknya hidup harus jadi hebat.

Aku dan keluarga mengucapkan selamat tahun baru untuk Tuhan! Dan untuk semua! :)


Welcome 2012!



Happy greatastic new year all!
Lets make some prayers and hopes!
Well, goodbye my fantastic 2011!