Selamat Menunggu Giliran!

Hari Minggu ini, teman SMA saya menikah.

Dia orang ke-empat di angkatan saya yang akhirnya memutuskan untuk berumah tangga, menyusul tiga teman saya lain yang semuanya wanita. Kedewasaan mendadak jadi pasti. Kami, sebagai teman dan tamu undangan, lalu hanyut dengan pikiran masing-masing. Ada yang sama siapnya menikah tapi belum bertemu jodoh, ada yang nggak siap tapi sudah diajak serius, ada yang nggak siap sama sekali. 

Untungnya, saya sudah nggak berada di zona nggak siap sama sekali. Nggak. Masih belum siap, tapi nggak pakai sama sekali. Masih belum terpikir detailnya, tapi bukan berarti nggak memikirkan sama sekali. Masalah pernikahan dan tetek bengeknya ini masih kalah dengan hal-hal lain. Saya dan beberapa teman terdekat masih dalam tahap: "Hem... nggak tahu, ah."

Tapi saya sadar, ini semua hanya masalah giliran.

Ini bukan lagi perkara siap nggak siap. Ini perkara waktu dan kita sedang berada di antrean. Menunggu giliran berikutnya, entah kapan. Tahu-tahu, aku dan kamu sampai pada tahap cetak undangan. Menyebar undangan, lalu mendapat banyak ucapan. Memilih gedung, memilih gaun, memilih seserahan. Nanti giliranmu memilih.

Tapi yang utama, memilih calon pendamping.

Memilih dengan siapa akan menghabiskan hidup. Memilih dengan siapa akan membesarkan anak-anak. Memilih seseorang yang akan bangun di pagi hari tanpa riasan sama sekali. Memilih seseorang yang akan kamu tumpahkan marah dan uneg-uneg. Memilih seseorang yang akan jadi musuh sekaligus sahabat terdekatmu, yang akan bertengkar dan berdebat hingga menguras emosimu, tapi tetap ada saat kamu jatuh, meminjamkan pundaknya padamu.

Duh. Selamat menunggu giliran!

Jodoh Air Lemon

"Kamu suka kopi?"

Tidak. Kuharap ya, tapi tidak. Aku bukan cewek keren seperti di novel-novel chicklit, yang melakoni adegan berlarian membawa gelas kopi dingin sambil mengejar jadwal yang padat. Bahkan, bisa dibilang aku sungguh tak suka kafein. Aku benci tidak bisa tertidur saat malam karena efek kafein. Yang benar saja, semua yang ada di kehidupan nyata sudah begitu membuat pusing dan aku malah menolak tidur? 

"Tidak. Kamu pecinta kopi, ya?"

Dia mengangguk lalu menambahkan kalau pekerjaan sampingannya adalah seorang barista. Wah, betapa tidak jodohnya. Aku tidak suka kafein, dia malah ketagihan kafein. Saat dia sibuk menyebutkam macam-macam kopi dari seluruh dunia, aku sibuk menghitung berapa gelas kopi yang pernah kuminum semasa hidup. Lima? Tujuh? Entahlah.

"Kamu suka bepergian? Jalan-jalan?"

Demi Tuhan. Tidak. Aku bukan jenis wanita menyenangkan dan penuh energi yang siap diajak bepergian sepanjang tahun ke tempat-tempat indah di seluruh dunia. Aku ini sahabat sofa. Makan, membaca, menonton tivi, semua kulakukan di sofa. Spesies baru manusia yang bersedia menghabiskan sepanjang hidup di sofa. Bepergian, berlelah-lelah dengan semua carut marut negara asing sementara di kantorku saja kekacauannya sudah sangat melelahkan jiwa? Tidak, terima kasih.

"Sayangnya... tidak."

Dan tanpa kuminta, dia mulai bercerita tentang pengalamannya ke belahan dunia yang bahkan namanya jarang kudengar. Bulan lalu saja, dia berkeliling Asia Tenggara dengan satu tas ransel dan persiapan ala kadarnya. Seru sekali, katanya. Dalam hati, aku ingin sekali mencoba hal-hal baru seperti itu. Tapi... tidak.

Dua jam berlalu. Tom berpamitan, menjabat tanganku dengan mantap, lalu meninggalkan kafe tempat pertemuan kami dengan senyum kecil yang tertahan. Aku tahu. Dia kecewa. Pasangan yang dijodohkan oleh teman sekantornya, yang juga sahabatku ternyata tak berjalan mulus. Kami terlalu berbeda. Setuju untuk dijodohkan dengan Tom adalah keputusan terkonyol dalam hidupku. 

"Jadi, bagaimana? Tom menyenangkan, kan?" 

Suara riang sahabatku memenuhi telinga. Iya, dia menyenangkan. Hanya saja aku bukan pasangan yang tepat untuknya. Aku terlalu membosankan. Aku wanita karir yang setelah pulang kerja akan langsung kembali  ke rumah. Bagiku, liburan adalah makan pie apel di sofa sambil menonton semua acara tivi paling tidak penting di Amerika. Dan minuman selamat pagiku bukanlah kopi, melainkan air lemon. Untuk detoks. Tubuhku sudah terlalu banyak racunnya.

"Aku akan menemukan jodohku sendiri."

Aku berjalan ke arah kasir. Tidak ada gunanya berlama-lama di tempat menyesakkan ini. Di depan kasir, ada seorang pria berambut merah yang mantel cokelatnya tak sengaja terkena tumpahan kopi yang dibawa oleh si manajer kafe. Dia langsung ditawari kopi termahal, gratis. 

Aku sedang berjuang mencari lembaran uang terakhir di dompet, saat si pria berambut merah menolak tawaran kopi mahal gratisnya.

"Aku tidak minum kopi. Kalian punya air lemon, tidak?"

Jantungku kedutan. Oh, Tuhan.

Iya, Ayah. Iya.





"Ayah selalu ada disini. Untukmu. Menjagamu. Menjaga hatimu."

Iya, Ayah. Terima kasih untuk genggamanmu yang tak pernah lepas. Untuk setiap dorongan kecil di punggungku. Untuk setiap posesif berlebihanmu. Untuk setiap doa siang malammu. Untuk setiap tetesan keringat demi memenuhi semua pinta tak pentingku. Untuk setiap sabar menghadapi keras kepalaku. Gadis kecilmu.


"Jangan dulu punya kekasih, ya."

Ah, Ayah. Nggak adil memintaku mengabulkan yang satu itu. Aku ingin jatuh cinta seperti yang lain. Ingin merasakan kupu-kupu di perut, ingin berdebar, ingin bertengkar dengan logika. Ingin seperti mereka yang berbunga-bunga."


"Kalau begitu, jatuh cinta pada Ayah saja."

Duh, Ayah. Dimana letak serunya. Aku ingin dipeluk, dipakaikan jaket kebesaran saat hujan, diantar-jemput sehabis kencan, dihubungi tiap senggang. Aku ingin jalan-jalan berduaan, kehujanan, nonton film, makan di pinggir jalan. Aku ingin dibonceng di motornya lalu merasakan memeluk dari belakang. Aku ingin tertawa sembari terluka.


"Kamu harus berjanji, kamu akan bahagia."

Tentu saja, Ayah. Aku tahu cintaku sungguhan."


"Tapi dia, belum tentu sepakat dengan sungguhanmu."

Sudahlah, Ayah. Aku bosan. Aku sedang jatuh cinta.


"Hati-hati ya, Nak."

Kenapa harus hati-hati? Aku sedang jatuh cinta, bukannya mengemudi.


"...."

Ayah, kau dimana? Aku rindu. 


"Bagaimana dengan cintamu?"

Dia mematahkan hatiku, Ayah. Aku sudah nggak mengerti lagi.


"Satu-satunya yang harus kamu mengerti, Tuhan akan mempertemukanmu dengan pria yang akan menjagamu seperti Ayah. Ah, tidak. Kelak akan ada yang menjagamu lebih dari Ayah menjaga hatimu. Kelak akan ada yang menghargai hatimu seperti Ayah menghargainya. Kelak akan ada yang menggenggam tanganmu seperti Ayah menggenggamnya."

Sungguh?


"Sampai saat itu datang, kamu masih kekasih Ayah, ya."

Iya, Ayah. Iya.

Kamu, Satu-Satunya


Kamu mengubah duniaku sesederhana itu

Kamu menjajah pikiranku semudah itu

Kamu memenuhi hatiku sebanyak itu

Kamu 

Tolong jangan patahkan hatiku

Tolong jangan beri aku harapan lalu aku kamu tinggalkan

Tolong jangan buat aku tertawa lalu aku kamu abaikan begitu saja

Tolong jangan buat aku sendirian

Kamu

Satu kata, satu janji

Kecil artinya bagimu, sesemesta artinya bagiku

Kamu

Satu-satunya yang bisa mengalahkan kopi di pagi hari

Satu-satunya yang bisa mengalihkan hujan dari kenangan

Satu-satunya yang bisa membuatku membayangkan masa depan

Kamu

Satu-satunya