Cerita Tentang Desain Interior


Postingan ini dipindah ke blog lain. 
Oh ya, saya juga sudah bikin postingan tanya jawab tentang Jurusan Desain Interior.

Sila klik 'Cerita Tentang Desain Interior' dan 'Q & A (Interior)', ya. ^^

Bertanya

Sekali waktu, aku pernah bertanya,

musim apa yang kau suka. Kau bingung. Katamu, kau hanya pernah merasakan dua musim, kemarau dan hujan. Tak ada satu pun yang kausuka. Kau suka musim gugur karena kecantikannya, tapi tidak adil memilih sesuatu yang belum pernah kau cicipi sebelumnya. Rasanya seperti mencintai seseorang yang tak kau tahu kelemahannya, tapi begitu kau puja. Jadi kau putuskan, kau tak suka musim apapun. Karena meski musim gugur selalu terlihat menakjubkan, tetap saja ia tak pernah kau rasakan.

Aku pernah bertanya,

kau lebih suka langit siang atau langit malam. Lagi-lagi, kau bingung. Langit masihlah langit, entah itu siang atau malam. Langit tak berubah, tetap sama. Karena kalau aku bicara tentang terang dan gelap, kau bilang itu bukan lagi langit, melainkan cahaya. Katamu, kalau bicara tentang biru dan hitam, itu adalah warna. Jadi kau putuskan, kau suka langit. Tak peduli ia sedang dihinggapi siang atau malam.

Kita sering sekali berbincang, seringnya tanpa kata. Hanya bertukar diam, sambil sesekali saling melirik. Aku semakin sadar, sesering apapun kita berbincang, kau tak pernah menatap mataku dalam-dalam. Banyak pertanyaan yang kuajukan, banyak jawaban yang kau berikan, tapi kurasa kau tak pernah benar-benar hadir. Kau menjawab panjang lebar, tapi tak sekalipun kudapat ekspresi yang berbeda. Lama kelamaan, aku mulai bertingkah hanya untuk membuatmu terkesan. Lama kelamaan, aku jemu dengan pertanyaan karena kau bahkan tak pernah tergerak untuk bertanya, kenapa aku sering sekali bertanya.

Awalnya, aku bertanya karena ingin tahu. Tapi diriku sendiri bahkan mulai sadar, bahwa pertanyaan-pertanyaan yang kuminta kau jawab, hanya alasan agar kau tidak pergi. Hanya untuk membuatmu sibuk hingga tak ingat bahwa banyak yang harus kau beri perhatian. Hanya untuk membuatmu menetap lebih lama, hanya agar kita tetap bersama.


Aku bisa saja memutuskan untuk angkat kaki, tapi tidak.

Kuputuskan untuk menetap sembari menghabiskan bercangkir-cangkir kopi lagi.


Dan pertanyaan-pertanyaanku, simpanlah untukmu sendiri. Siapa tahu kelak akan ada waktu untuk kau menyadari bahwa tak ada yang lebih ingin tahu tentangmu, selain aku. Siapa tahu kelak akan ada waktu saat aku kehabisan pertanyaan dan ingin pergi, sementara kau ingin aku tetap di sini.

Bila kelak kau bertanya, aku janji akan menjawab dengan senang hati. Saat hari itu tiba, aku akan hadir untuk menatap matamu dalam-dalam meski tanpa secangkir kopi. 

(Akhirnya) Menikah

Bridal Shop - 17.08

Sebulan lagi Moca menikah.

Setelah mengalami putus sambung yang membuat semua orang ikut putus asa dan lelah, setelah semua drama tentang jarak yang tak kunjung menciut. Akhirnya. Sahabat tersayangku menikah juga dengan kekasih-entah berapa tahun-nya. Terlalu sering putus nyambung, aku tak tahu hitungan pasti hubungan mereka. Kini aku dan Rossy sedang mencoba gaun bridesmaid yang dipesankan Moca.

"Nggak. Aku nggak bisa memakai warna ini." Rossy menggeleng.

"Kenapa? Kau suka warna emas, kan?" kuputar badan Rossy yang sedang membungkuk di depan kaca. "Ini cocok untukmu, kok. Pinggang kecilmu akan baik-baik saja."

"Bukan pinggangku, Rii. Tapi aku hanya gak suka warna ini."

"Tapi ini warna pilihan Moca, kita bisa apa?" aku mengangkat bahu. "Yah, aku lebih suka warna tema pernikahanmu, sih. Ungu muda. Aku masih menyimpan gaun bridesmaid-ku."

"Berjanjilah, Rii. Pernikahanmu nanti gak akan memakai warna terang!" ancam Rossy.

Dadaku mendadak ngilu. Ada perasaan aneh yang berkelebat saat mendengar kata "pernikahan". 

"Aku belum mau menikah," sergahku.

Rossy berhenti memainkan gaunnya kemudian menatapku.

"Apa?" kataku gugup.

"Kenapa kau nggak bertanya pada Adrian?" tanyanya.

"Tentang apa?"

"Tentang pernikahan. Dia sebenarnya berniat menikahimu atau nggak."

"Well... aku nggak yakin hal "itu" ada dalam daftar prioritasnya sekarang."

"Demi Tuhan, Rii. Sudah hampir lima tahun, lho."

"Aku tahu," kupandangi diriku sendiri di cermin, tampak lesu dalam balutan gaun emas yang jatuh dan mengilap. "Tapi, memangnya aku bisa apa selain menunggu?"


Teruslah Berjalan

Seseorang yang bilang mencintaimu, belum tentu bercita-cita mengikatmu. Seseorang yang menjanjikanmu selamanya, belum tentu bisa membuatmu bahagia. Seseorang yang berjanji akan selalu berada tepat di sisimu, belum tentu akan menetap tanpa mencari yang lain. Seseorang yang kau yakini tak akan membuatmu kecewa, belum tentu tak membicarakanmu sekali saja. Seseorang yang kau doakan siang malam bahkan saat membuka mata, belum tentu juga menginginkan harap yang sama. Seseorang itu bisa saja pergi atau terganti. 

Untukmu yang hatinya sedang dijaga baik-baik, berbahagialah. Tak banyak yang sungguh-sungguh ingin melihatmu tertawa di dunia ini. Tak banyak yang sungguh-sungguh mengerti, sekalipun mereka bilang paham dan tahu rasanya. Tak banyak yang sungguh-sungguh ingin menyembuhkan lukamu, sekalipun mereka bilang telah berkali-kali jatuh dan sembuh. Tak banyak, sekalipun kau merasa tak pernah sendiri. 

Kadang kau hanya ingin didengarkan, tapi tak seorang pun ada di sana untuk mendengarkan. Kadang kau hanya ingin sebuah pelukan, tapi tak seorang pun ada di sisi untuk memberi pelukan. Kadang kau hanya ingin menjaga semua, tapi tak seorang pun yang memberi perhatian seksama. Kadang kau hanya ingin memastikan bahwa semua masih pada tempatnya, tapi tak seorang pun ada untuk membantu untuk memastikannya. Kadang kau hanya ingin semua kembali seperti semula, tapi tak seorang pun ada untuk membantu memperbaikinya.

Lama kelamaan, kau berpikir memang apa lagi yang bisa kau lakukan selain terus berjalan. Selain berharap bahwa semua yang pernah kau cintai tak pernah berniat menyakiti, tak akan pernah tega menikam punggungmu dari belakang. Selain berharap bahwa semua yang pernah kau percaya tak akan pernah membuatmu kecewa, tak akan pernah tega untuk pergi begitu saja. Selain berharap bahwa semua yang bilang paling mengerti, tak akan pernah tega untuk berburuk sangka.

Teruslah berjalan. Agar hatimu tak sempat ingat bahwa ia hampir mati.

Kamu Tak Harus Mengerti


Kamu tak harus mengerti semua yang terjadi. 

Kamu tak harus dewasa sebelum waktunya, tak harus mengerti apa yang sedang dilakukan para petinggi, tak harus paham kenapa miskin kaya masihlah jadi masalah. Kamu tak harus mengerti kenapa warna kulit masih terus jadi perbedaan besar, tak harus paham kenapa saling menghancurkan sesama saudara masihlah jadi kepentingan yang tak habis-habis. Kamu tak harus mengerti kenapa orang masih suka saling mencampuri urusan, kamu tak harus paham kenapa saling menghakimi padahal tak saling mengenal dengan baik masihlah banyak ditemukan.

Kamu tak harus memaksakan diri untuk jadi kuat. Kamu cukuplah jadi kamu yang masih kesulitan menghadapi dunia. Kamu tak harus menaklukan dunia, kamu cukuplah jadi kamu yang selalu dapat berdamai dengan diri sendiri. Kamu tak harus memahami betul perkara cinta, kamu cukuplah jadi kamu yang masih bisa patah hati lalu menangis berhari-hari. Kamu tak harus berusaha menyenangkan semua orang, kamu cukuplah jadi kamu yang tak suka menyiksa diri.

Kamu tak harus mengerti pada yang telah digariskan, tak harus mengerti arti pertemuanmu dengan seseorang. Kamu tak harus mengerti, kamu hanya harus menjalani. 

Yang harus kamu mengerti, aku dan kamu masih berada di sini. 

Kamu dan Dia

Kamu dan dia hidup dalam dunia yang sama
Memijak tanah, melihat langit, dan menghirup udara yang sama
Kamu dan dia mungkin hanya dibedakan oleh angka geografis di peta saja
 Kamu dan dia mungkin pernah berpapasan di jalan raya, di bus, atau di antrean bank
Kamu dan dia mungkin pernah bertegur sapa sekali, lalu tak bertemu lagi hingga lupa
Kamu dan dia mungkin ada di satu komplek perumahan yang sama, namun melewati jalan yang berbeda. Mungkin satu kampus, tapi berbeda jurusan. Satu ruangan, tapi berbeda pergaulan. 

Atau satu hati, tapi tak saling mengetahui.

Kamu dan dia mungkin pernah ada di satu masa lalu
Tak saling menyakiti, tapi juga tak saling paham isi hati
Saling mencintai, tapi kemudian jadi yang paling menyakiti
Kamu dan dia mungkin pernah saling berbagi luka
Hingga yang tersisa kemudian lebam yang membuatmu trauma

Sementara banyak yang ingin dipertemukan dalam sebuah cerita
Kamu dan dia sama-sama menyesal kenapa dulu pernah dipertemukan

Kamu dan dia ingin kembali jadi orang asing
Berpapasan di pintu toko tanpa harus melihat satu sama lain
Mengobrol seperlunya tanpa harus merasa hati seperti terkoyak kecil
Tanpa orang harus mengingatmu saat menyebut namanya


Kamu ingin bertemu seseorang yang baru
Dia hanya ingin tak lagi meringis saat mengingatmu
Kamu dan dia seperti daun yang terkoyak dari rantingnya
Takut terjatuh, namun sudah tak kuat bertahan


Kamu dan dia mungkin hanya harus saling mengikhlaskan
Biar saja dekat menjadi asing atau asing menjadi kian asing 
Selama mata kalian tak saling bertemu atau langkah tak saling beradu
Tak masalah ada di dunia, kota, pun ruang yang sama


Kamu dan dia 
Cerita yang tak lagi sama
Cerita yang penggalan-penggalannya tercecer di tiap sudut kota
Dan mungkin hanya butuh potongan-potongan lagu untuk menghidupkannya


Aku Ingin Jadi Laut

Pernah suatu hari, aku ingin sekali jadi pelabuhan.

Tempat kapal-kapal bersandar, tempat mereka menepi saat telah lelah. Tempat yang dituju pun diharap setelah terombang-ambing di laut. Pernah kulihat banyak orang lalu lalang di pelabuhan. Ada yang baru saja ingin mengarungi laut, ada yang sedang tak sabar serta rindu daratan, ada yang hanya duduk di tepian entah menatap apa. Pelabuhan... tempat teraman mereka, tempat teramanmu. Ingin jadi pelabuhan yang kokoh agar kamu tahu kemana harus melepas segala keluh kesah. Agar kamu tahu bahwa aku selalu ada di sana, menanti datang dan pulangmu.

Tapi pelabuhan, tak sekokoh karang. Pelabuhan, manusia yang ciptakan.

Bayang besarku tentang pelabuhan mendadak pupus. Ah, aku ingin jadi laut saja.

Laut, tempat yang telah ada bahkan sebelum kita tercipta. Laut, tempat segala air di bumi bermuara. Laut, yang luasnya bisa kamu ukur dengan teknologi atau cukup lihat di peta, tapi tak pernah akan benar-benar kamu jamah seluruh kerasnya. Laut, tempat nenek moyangmu dulu berpetualang dengan bangganya. Laut, tempat yang dasarnya menyimpan indah tak terkira.

Laut, yang tak pernah kehilangan asinnya meski terus dijatuhi hujan.

Aku ingin jadi laut yang telah ada sebelum kamu ada. Aku yang ada karena tahu kamu akan tercipta. Aku yang telah lebih dulu meluaskan diriku sendiri agar di manapun kamu terjatuh, tempat berakhirmu masihlah aku juga. Karena sungguh, kupikir hujan tak takut jatuh karena tahu laut akan selalu ada untuk menangkapnya. Aku ingin jadi lautmu, jadi sekuat-kuatnya tempat untukmu datang dan pulang. Jangan khawatir, kamu aman bersama lautmu kini. 

Jadilah hujan saja, maka aku akan jadi laut untukmu saja.

Benang Merah


"Pertemuan kita bukanlah kebetulan."

Siapa dari kita yang percaya kebetulan? Mungkin kau percaya, mungkin bahkan banyak orang yang meyakininya. Bahwa kebetulan sungguhan ada, bahwa ada hal-hal kecil yang terjadi untuk memicu hal-hal besar. Seperti percik api yang memancing kebakaran, seperti harapan yang meminta kepastian. Ada awal dan akhir, dan kebetulan jadi alasan dari banyak cerita berawal.

Tapi aku, tak suka menyebut pertemuan kita kebetulan. Aku, salah satu yang meyakini, bahwa semua yang terjadi tak lepas dari sepengetahuan Tuhan. Tak lepas dari pengawasanNya, tak lepas dari benang-benang merah tak kasat mata yang tanpa kita tahu, terikat di kelingking kita. Benang merah yang awalnya masih sangat panjang, longgar, karena kita sama sekali belum terikat. Benang merah yang kemudian semakin memendek karena jarak kita yang juga berkurang. Karena aku datang. Mendekatimu, memperpendek jarak, hingga benang merah tak kasat mata kita semakin sakit terasa. Semakin ingin mendekatkan diri, semakin ingin bertemu simpulnya.

"Kita sudah dekat. Ayo, temukan aku."

Kalau tiap simpul bisa bicara, mungkin itulah mantra mereka. Detik, menit, hari, menjadi tahun. Mereka melakukan segala upaya agar akhirnya bisa saling menggenggam, tanpa kita tahu. Mereka, simpul di jariku dan jarimu, sampai meminta tolong pada hujan dan senja, pada cerita-cerita tak usai, pada hati yang butuh didengarkan. Dan entah bagaimana, mereka berhasil.

Kita bertemu. Mereka bertemu. Lalu, kita jatuh sayang dengan begitu saja. Aku dan kau yang sama-sama terkejut pada jalan cerita, akhirnya saling menemukan. Di detik saat kita memutuskan untuk selalu berjalan bersama, ke masa depan, di detik itulah aku tahu bahwa selamanya bahkan tak cukup untuk kita. Aku dan kau butuh lebih dari selamanya untuk bersama.

Kalau dipikir-pikir, lelah sekali perjalanan yang harus ditempuh menujumu. Jauh. Tapi setimpal. Bertemu denganmu adalah salah satu yang paling ingin kusyukuri, salah satu yang paling tak ingin kuingkari.

Mari saling menjaga hingga tua. Aku punya banyak stok bahagia untuk dihabiskan bersama. Benang-benang merah kita kini telah membentuk simpul yang sama, manalah aku tega melepasnya. 

Percayakah kau pada kebetulan? Aku tidak.

Karena kau bukan kebetulan. Kau kejutan.

"Tenang, aku di sini. Slama kau di sisi, aku berjanji. Tak kemana-mana.."