Orang yang Tepat


"Orang baik itu banyak sekali tapi hanya ada satu yang tepat, 
selebihnya hanyalah ujian." -Kurniawan Gunadi

Kemudian kamu dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Mana yang sesungguhnya tepat, mana yang hadir hanya sebagai ujian. Mana yang kelak akan mendampingimu selamanya, mana yang merangsek masuk ke dalam hidup untuk sementara saja. Mana yang mempertimbangkanmu dengan matang, mana yang sekadar ingin datang. Mana yang mengaminkan doa-doa baikmu, mana yang malah ingin mematahkan. Mana yang menganggap perasaanmu berharga dan patut dijaga, mana yang bahkan tak ambil pusing dan mengabaikannya. Kurasa yang paling utama adalah perkara hatimu dan niatmu. Kurasa juga, orang yang tepat pastilah dia yang memiliki hati dan niat yang sejalan denganmu hingga kalian bisa sepakat kalau kalian sudah menemukan yang dirasa tepat.
Seperti saat menemukannya, kamu tahu kamu sudah pulang. 


Sabar


Dalam hidup, tak semua yang kamu rencanakan jadi kenyataan. Kebanyakan berakhir jadi sekadar wacana atau bahkan gagal di tengah jalan. Dalam hidup, tak semua yang kamu inginkan, pasti akan kamu dapatkan. Kebanyakan diganti dengan sesuatu yang lain atau bahkan tak dapat sama sekali. Dalam hidup, tak semua doa-doa baikmu dikabulkan. Kebanyakan ditunda atau bahkan pupus begitu saja dalam perjalanannya menuju langit.

Dalam hidup, tak semua yang kamu bahagiakan dengan sungguh-sungguh juga membahagiakanmu dengan sungguh-sungguh. Kebanyakan tak paham bahwa ia sedang dibahagiakan atau bahkan ia sedang terlalu sibuk membahagiakan orang lain. Dalam hidup, tak semua yang kamu pikir akan melengkapi juga bersedia hadir dan tak pergi. Kebanyakan ia sibuk dengan pikirannya sendiri atau bahkan memutuskan untuk angkat kaki.

Sabar. Kamu hanya harus sabar.

Nanti akan ada masanya kamu dicukupkan. Seseorang untuk menemani suka duka, teman-teman yang bersedia hadir tak hanya saat kamu tertawa, harta baik yang meski tak banyak akan selalu ada, rencana-rencana besar yang satu persatu mulai terwujud nyata.

Sabar. Kamu hanya harus sabar.

Kamu adalah apa yang kamu tanam. Ikhtiar, sabar. Semua akan baik-baik saja.


Sebuah Perjalanan


Setelah selama ini terlalu sibuk dengan perjalanan duniawi, tak terasa, tahu-tahu sudah bertemu Ramadan lagi. Entah Ramadan yang mendatangi atau kita yang bergerak maju menghampiri. Satu yang terpenting, kita masihlah diberi usia dan kesempatan merasakan berkahnya lagi. Sahur lagi, menahan lapar haus lagi, berbuka lagi.
Sudah lebih baikkah kita tahun ini? Sudah sampai mana perbaikan ibadah yang kita lakukan? Sudah berapa kali kening bertemu dengan sajadah dengan khusyuk? Sudah berapa malam kita pasrah dengan doa-doa dalam tengadah? Sudah berapa kali kita membuka Al-Quran lalu melantunkannya? Sudah seberapa sering kita melihat baik-baik ke dalam diri, memahami, mengoreksi, lalu malu akan dosa sendiri?
Perjalanan umroh lalu, membuat saya sadar bahwa ibadah bukan cuma kewajiban, namun juga hak yang besar dan mewah sekali. Bahwa perjalanan ibadah ini, bukan tentang seberapa sering kamu menginjakkan kaki di sana, namun tentang apa-apa yang kemudian kamu resapi dan sadari di dalam jiwa. 
Bahwa kamu adalah seorang hamba, bahwa tiap-tiap kita juga terdiri dari tumpukan dosa. Ini bukan tentang siapa yang lebih suci, bukan tentang siapa yang lebih taat. 
Kita sungguhlah hanya makhluk yang kecil sekali. Makhluk yang banyak ditutupi aibnya hingga masih bisa berkoar-koar paling suci ke sesama umat lain. Makhluk yang konon paling sempurna, pun bisa sekali jadi yang paling jahat ke sesamanya. Sungguh, kita ini sebenarnya kecil dan rapuh sekali, tak pantas merasa diri sebagai yang paling berhak atas Surga. Tak berhak bilang manusia lain pasti masuk Neraka. 
Perjalanan dan pengalaman berharga ini, lebih dari sekadar berada di tempat kelahiran dan perjuangan Rasulullah. Ada rindu dan air mata yang saat mengalir hanya kamu dan nuranimu yang tahu, apa sesungguhnya itu. 
Kawan, jangan sampai Ramadan ini hanya terlewat dengan sia-sia lagi. Tanpa kita merasa bersalah saat meninggalkan solat, tanpa kita merasa harus memperbaiki akhlak. Jangan sampai Ramadan ini lagi-lagi hanya berisi acara buka puasa dan reuni bersama yang lantas membuat kita santai melewatkan kewajiban yang lebih penting. Jangan sampai Ramadan ini lagi-lagi hanya berisi menahan lapar dan haus, tanpa kita berusaha lebih keras dalam menahan nafsu dan emosi.
Kita ini hanya hamba yang sedang melakukan perjalanan. Mari terus saling mengingatkan, mari berhenti saling menjatuhkan. Selamat kembali berjalan.

Ramadan hari ke-12. Palembang.  

Memelihara Luka


Manusia dan luka-luka tak terlihatnya.

Sering kamu merasa sebegitu tersakitinya hingga memilih untuk pahit terhadap semua. Waktu, pertemuan, hal, orang. Karena satu orang membuatmu terluka, lantas semua yang kemudian datang terasa sama saja. Sama tak pekanya, sama brengseknya.

Kenapa kamu senang sekali memelihara luka. Kenapa kamu senang merasa tak baik-baik saja, lalu berharap seseorang datang untuk menolong dan menyembuhkan. Padahal, lukamu jelas bukan tanggung jawabnya. Seseorang hadir, membuatmu bahagia, namun saat kalian tak sejalan, kamu menganggapnya tak mampu mengerti, tak bisa sepenuhnya memahami.

Jangan terus-terusan memelihara luka. Hingga setiap orang yang datang akhirnya memutuskan untuk angkat kaki. Bukan salah mereka. Itu hanya kamu yang begitu keras kepala memelihara luka, seringnya malah dengan bangga.

"Aku terluka, kalian tidak tahu seperti apa rasanya.
Semua orang sama saja, tak akan pernah ada yang mengerti. Aku terluka."

Berhenti merasa kamu harus selalu dimengerti dan dimaklumi karena sedang terluka.

Jadikan lukamu sebagai pengingat. Bahwa kamu pernah berusaha bangkit lalu mencari bahagia.


Sementara ada yang sibuk memulai perusahaan, ada yang sibuk mempersiapkan rumah tangga. Sementara ada yang dengan sabar menimbun uang untuk usaha, ada yang dengan tabah memperbaiki diri untuk jadi ayah atau ibu yang baik kelak. Sementara ada yang sibuk mengejar duniawi, ada yang sibuk mengejar akhirat dengan ulet. Aku tidak tahu sedang berada di fase hidup yang mana. Kurasa aku hanya sedang berhenti di antaranya, di tengah-tengah pilihan yang sebenarnya tak sulit, tapi tak juga mudah untuk dilangkah. Berjalan perlahan ke tujuan-tujuan yang entah dibuat olehku sendiri, takdir, atau orang lain. Tak menggebu-gebu, tapi juga tak lelah ingin berhenti. Saat kutoleh ke belakang, ternyata aku sudah berjalan jauh sekali. Yah tak ada salahnya berjalan lagi hingga aku sampai di titik yang mengharuskanku untuk memilih. Untuk sekarang, kurasa aku masih harus terus berjalan, kuharap sedikit lagi. Aku mulai rindu persimpangan.

Mau Sampai Kapan?


Mau sampai kapan kamu sibuk mengomentari yang bukan urusanmu? 

Tahu hanya sepotong, tapi sudah merasa boleh mengambil kesimpulan. Itu masih di tahap tahu yang bahkan belum sampai di tahap paham. Setelah mengambil kesimpulan sekenanya, tanpa dilanjutkan dengan mencari tahu kebenarannya, kamu merasa berhak membuat cerita lalu menyebarkannya pada orang-orang yang bahkan jauh lebih nggak mengerti apa-apa. Tapi lucunya, kalian kemudian sepakat, setuju untuk membahas dan nyinyir terhadap hidup dan masalah orang lain, yang bahkan gak kalian kenal dekat. Biar apa, sih?

Kenapa kamu gampang sekali membenci orang yang bahkan gak punya masalah pribadi denganmu, alih-alih dekat. Kenapa kamu gampang sekali merasa bisa mengomentari dan menghakimi keputusan dan pilihan hidup orang lain yang bahkan mungkin hanya kamu sapa sehari sekali atau bahkan gak pernah bertemu sama sekali. Kenapa kamu gampang sekali bilang orang lain "salah" hanya karena orang-orang di sekitarmu bilang dia "salah", tanpa berusaha mencari tahu bahwa mungkin saja dia berada di sisi "benar"?

Jangan memelihara mental pengecut di dalam diri. Jangan merasa benar hanya karena merasa sedang di atas, jangan merasa bisa menilai orang lain karena tahu kamu akan selalu ada yang membela. Orang yang kamu benci sebegitunya itu adalah seorang anak, punya orang tua yang mendoakan. Begitu pun kamu, dibesarkan dan didoakan oleh orang tuamu, toh bukan untuk kemudian dihakimi atas apa-apa yang kamu lakukan. Dan lagi, kenapa kamu setelah dibesarkan malah memilih jadi manusia yang pikiran dan hatinya jahat sekali terhadap orang lain?

Tentu saja, beginilah dunia. Ada baik buruk, ada hitam putih. Begitu pun manusia, yang hatinya bisa sekali dibolak-balik dan berubah kapan saja. Tapi kawan, bergerombol untuk sama-sama membenci orang lain itu rasanya bukan lagi hal yang pantas, apalagi kalau yang kalian obrolkan itu isinya fitnah dan lantas merugikan orang lain. Jadi, selama gak mengganggu jalan napasmu, kurang-kurangilah sifat merasa berhak mengomentari dan menghakimi perihal hidup dan masalah orang lain. Selain karena bukan urusanmu, juga karena kamu gak pernah tahu rasanya jadi mereka.

Diam saja, duduk yang nyaman di tempatmu, urusi hidupmu sendiri.

Perhatikan saja orang-orang yang kamu sayang, beri mereka cinta yang banyak. Jangan sampai karena terlalu sibuk mengurusi yang bukan urusanmu, kamu tanpa sadar sudah jadi pembenci yang selama ini hanya sibuk membuang waktu. Mau sampai kapan?

Bagaimana Ini, Kekasih?


Cuaca sedang dingin sekali. Kulihat dari kejauhan kamu berjalan cepat, melangkah kecil-kecil, menjaga agar dua kopi di genggaman tak tumpah. Sembari mengangsurkan kopi, kamu tersenyum padaku. Manis sekali. Terlalu manis, hingga aku takut membayangkan bagaimana kelak rasa hidupku kalau kamu tak ada. Kamu lalu duduk di sampingku, seperti biasa. Ritual bertemu di kursi kayu tua pinggir sungai saat matahari mulai pamit. Ritual sejak 7 tahun lalu.

Kita bisa membicarakan apapun di sini. Apapun, kecuali masa depan.

Apapun mengenai kita di masa depan adalah tabu. Hari ini kita masih saling mencintai, siapa tahu esok cerita sudah berbeda lagi. Hari ini mungkin seperti biasa kita berpisah dengan bibirku yang mendarat di keningmu, siapa tahu esok kita berpisah dengan punggung yang bergetar karena caci maki. Padahal kemarin dan hari ini, aku mencintaimu sangat dalam, hingga sakit rusuk ini menanggungnya. Tapi tetap saja, esok nasib kita masihlah tanda tanya.

Kurasa masa depan kita memang tak akan pernah sampai. Kita yang tak berani membicarakan perihal pernikahan, anak-anak, atau membangun rumah bersama. Kita bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke rumah satu sama lain, kita yang sama-sama bingung sebenarnya sedang memerjuangkan apa. Pernah kita memutuskan untuk berpisah, tapi kemudian berakhir dengan kamu yang sengsegukan tak berhenti dan aku yang mematung sakit melihatnya.

Suara adzan terdengar. Kamu berdiri, tersenyum kecil padaku, lalu berlari menuju masjid. Suara adzan yang selalu kudengar di waktu-waktu seperti ini, suara yang memanggilmu untuk datang memijak lantai masjid lalu bersujud dengan khusyuk. Suara yang tak kumengerti artinya.

Kulempar pandangan jauh sekali. Entah memandang apa.

"Tuhan, aku mencintai gadis ini. Ingin selalu bersamanya, ingin disambut senyumnya sepulang kerja, ingin punya anak yang lahir dari rahimnya, ingin menghabiskan sisa usia di sisinya..." kusentuh kalung salib yang menggantung di dada. "Tapi aku sudah lelah. Aku ingin berhenti berjuang."

Bagaimana ini, Kekasih? Apa yang harus kita lakukan?



#30harimenulissuratcinta #poscintatribu7e #harike-3

Untuk Lelakiku


kamu,
tak perlu susah payah berusaha membuatku tertawa selalu
karena aku tak sampai hati membuatmu memerjuangankan bahagiaku

tak perlu mati-matian menjadikan dirimu sosok sempurna
karena aku suka kamu yang mencukupkan dirimu untukku saja

tak perlu membuktikan cinta seluas samudra atau memetik bulan
karena aku lebih suka kamu diam dan kita saling menggenggam tangan
aku tak ingin kita saling mengenal lalu kemudian jadi benar-benar asing

kuharap kamu tahu rasanya
berdoa dengan sungguh-sungguh, berharap semua jadi kenyataan
di dunia yang sementara ini, semoga kita punya bagian cerita sendiri
di dunia yang sementara ini, semoga kita tak berakhir dengan orang lain

kamu,
tak perlu jadi luar biasa dan bisa segalanya
karena berawal dari kelemahan-kelemahan kita bisa saling menemukan
karena lelaki kuat pun bisa hilang pegangan dan aku ingin jadi yang menguatkan

kamu,
aku tak akan membuatmu repot dengan permintaan
aku tak akan merengek dan marah padamu tanpa alasan
aku tak akan menuntutmu memenuhi ambisi-ambisiku
aku tak akan membuatmu khawatir dengan kelakuanku

kamu,
aku hanya ingin kita bisa berbagi cerita
aku hanya ingin kita bisa jadi teman hidup selamanya
aku hanya ingin kamu tak kemana-mana dan kita berjalan berdua
aku hanya ingin kamu menetap di sisi, tak berniat mencari-cari lagi



#30harimenulissuratcinta #poscintatribu7e #harike-2