Pan-dora Tumblr

Pan-dora tumblr akhirnya sampai ke postingan ke-1000! 

Pan-dora tumblr dibuat sekitar tiga bulan sebelum Pan-dora blog yang sedang kalian lihat ini. Jaman belum tertarik memulai blog lagi, tumblr itu anak kesayangan. Sekarang masih anak kesayangan, tapi agak terabaikan sejak 'adik'nya lahir. Tumblr itu isinya lebih banyak gambar dan quote. Silahkan mampir untuk yang mau melihat-lihat gambar dan quote. Khusus postingan ke-1000 ini, tema Tumblr jadi Inuyasha dan Kyuhyun.

Benar, aku memang bodoh
sebut aku sesukamu, anggap saja aku begitu
maki aku semaumu, anggap saja aku seperti itu
seret aku seenakmu, anggap saja aku menurut

Di tiap jeda hening yang panjang
aku menengadah dan menerbangkan segala tanya
aku meringkuk dan menggigil kedinginan
berkeras atas apa yang kabur mengaburkan

Tetes air yang jatuh menghantam Bumi
entah kenapa hobi sekali kupelototi
dalam pecahan air itu, aku seperti menemukan diri
yang jatuh berantakan tapi tak kunjung mati

Kau tahu, aku bahkan menemukan Tuhan
saat air-air itu menetes dan jadi serpihan
rasanya aku bukan siapa-siapa selain aku sendiri
serasa bukan milik siapa-siapa selain aku sendiri

Siapa yang tahu
justru dengan rintikan basah itu aku melihat Tuhan
tanpa perlu terus mempertanyakan terlebih menduakan


Tanya Jawab


Sebenarnya, kamu meletakkanku dimana?

Aku meletakkanmu di bagian terbesar dariku. Seiring detak jantung yang mendentum ritme, bersamaan dengan itulah kamu mengalir deras ke segala penjuru arah. Merasuk di tiap sel terkecil, mengaliri tiap organ, membanjiri otak. Sekarang aku tahu kenapa hati menjadi surganya pembuluh darah. Karena kamu, memenuhinya dengan rakus. Seperti penjarah.


Apa arti aku bagi kamu?

Kenapa kamu masih bertanya tentang arti. Tidakkah pengakuan bahwa kamu mengaliri tiap jengkal ragaku cukup membeberkan semesta arti? Ah, kamu pasti mengerti.


Kalau aku mati, apa yang akan kamu lakukan?

Sayangnya, aku tidak akan ikut mati. Hatiku mungkin mati, seluruh organ berhenti berfungsi. Tapi jika itu benar-benar terjadi, aku akan berusaha bertahan hidup dengan bergantung di sehelai rambutku. Jangan lupa, darah tak mengalir padanya hingga jika kamu mati, rambut rapuh sekalipun akan menopang hidupku. Aku akan hidup untukmu. Untuk jiwamu.


Apa kamu cinta aku?

Itu pertanyaan sulit. Karena jika aku menjelaskan jawabannya, hatimu akan remuk oleh besarnya. Simpan untukmu sendiri jawabanku, dan aku juga akan menyimpan kamu hati-hati. Di hati.

I Swear

"Aku capek."

Setelah lama berjibaku dengan segala lelah dan suntuk yang menumpuk dan jadi gunungan sabar campur rindu, Roe akhirnya bertekuk lutut pada hatinya yang rubuh. Semua himpunan kekuatan yang telah membentuk tembok bernama keras kepala itu pada akhirnya runtuh bersamaan dengan deklarasi uneg-unegnya.

"Aku hanya ingin tahu reaksinya. Aku hanya ingin tahu seperti apa kelanjutan kami sebenarnya. Apa aku nggak boleh berharap sementara seperti ada yang tersisa di antara kami dan minta diselesaikan?"

Itu sulit. Sambil melawan serbuan nyamuk, aku mencekoki Roe dengan beberapa kenyataan yang harus Roe terima. Bahwa tidak semua cinta harus berakhir bahagia. Bahwa tidak semua yang sudah berakhir dapat dimulai kembali. Saat akhir hanya akhir, belahan jiwa seerat apapun tidak akan berdaya. Itu yang namanya takdir.

"Ini akan selesai kalau dia punya pacar. Oke?"

Selesai sementara tapi bukan penyelesaian yang Roe butuhkan. Berliter-liter air mata, lelah yang tak tertampung sesak di dada, pikiran yang tak lagi bersatu raga karena memikirkan keadaannya. Semua menggoyahkan dan membuat langkah patah, hingga bicara bahkan bisa diganti dengan air mata. Melihatnya bersama dengan orang lain mungkin akan melegakan, setidaknya itu menghanguskan harapan dan semua kemungkinan.

Dan aku akhirnya membuat Roe menjanjikan sesuatu. Satu hal yang lebih candu dari cinta dan lebih mematikan dari narkoba. Mengecek facebook dan memandangi foto dia. Di tiap sayang yang berjarak, ada khawatir dan rasa ingin tahu yang menyeruak. Ada rindu tak terucap yang menyembul malu-malu. Tapi, seperti narkoba yang membuat candu, kebiasaan ini bisa membunuh semangat juang Roe untuk maju. 

"Aku bersumpah. Aku nggak akan lagi membuka facebook dia terlebih melihat fotonya. Itu menyakitkan, mengerikan, dan pasti sangat sulit dilakukan. Tapi, aku harus. Aku janji, mulai malam ini, 19 Februari 2012, akan jadi titik balik perjuangan untuk maju dan melupakan. Untuk ke depan dan menghapus semua. Demi kebaikan, kan?"

Dan setelah mengucapkan sumpah itu, aku dan Roe tertawa. Beberapa hal besar kemudian dilakukan Roe atas nama perbaikan. Aku tahu Roe lelah. Aku pun lelah. Aku lelah melihatnya berjuang dan memaksakan diri atas apa yang diluar kemampuan dan kehendaknya. Aku lelah Roe berusaha menggerakan hati dia yang bahkan tak tertebak apa maunya. Kalau sudah begini, aku lebih ingin Roe menyerah.

Toh, Tuhan selalu ada untuk menyelesaikan.

Saat Roe akhirnya selesai dengan semua, aku ikut tersenyum di atas akhir sumpahnya.

"Aku lega."

Selamat Ulang Tahun, Abi!

Akhirnya bocah bungsu ini 13 tahun juga!

18 Februari 1999. Adik cowok sekaligus anak bungsu di keluarga-lumayan-besar ini lahir. Semacam kehadiran yang nggak terduga karena jaraknya yang cukup jauh. Namanya Muhammad Said Habil. Atas prakarsa kakak sulungnya, Habil dipanggil Abi oleh seluruh keluarga. Dan atas prakarsa kakak sulungnya juga, Abi akhirnya dipanggil Dedek.

Singkat cerita, Abi ini anak keempat dari empat bersaudara. Setelah satu-satunya cewek lahir jadi anak pertama, disusul kembar cowok, kemudian bungsu cowok ini muncul. Aku dan si kembar, sebut saja Husen-Hasan, selisih 1,5 tahun. Kami bertiga hidup dengan brutal. Dua adikku itu nggak pernah menganggap kakaknya seorang cewek. Jadi aku terbiasa memainkan semua yang berbau cowok, mulai dari tamiya sampai bola. Aku bahkan sering mengalahkan dua bocah itu dalam adu panco. Besar dengan jarak umur yang nggak jauh, aku dan si kembar jadi lebih seperti teman ketimbang kakak-adik.

Sampai saat Abi lahir.

Berbeda jauh dari dua bocah yang sering kuajak gulat, Abi rupanya jadi bungsu yang lucu. Dia lahir dengan bobot paling berat, putih, montok, rambut tebal seperti helm, dan pipi tembem yang merah. Singkatnya, dia adik yang aku impikan. Belum lagi, dalam pertumbuhannya, Abi lebih lengket denganku ketimbang dua kakak cowoknya. Aku dan Abi disebut kembar beda delapan tahun. Harusnya lahir bersama tapi beda tahun. Saking lengketnya, Abi yang jarang menangis, pasti selalu menangis kalau kubilang aku akan pergi kuliah bertahun-tahun dan meninggalkannya. Hahaha, dasar aneh.

Tapi, Abi nggak selucu itu juga, sih.

Justru dengan kelengketan itu, aku jadi sasaran empuk siksaannya. Sekedar informasi, Abi sekarang lebih tinggi sekitar 7 cm dan lebih berat sekitar 5 kg dariku. Dia mendadak jadi bungsu raksasa yang hobi menyiksa. Aku sering jadi sasaran gulatnya. Dan kadang, walaupun maksudnya bermanja-manja, dia suka menimpa tubuhku dengan badan bongsornya sambil terus berteriak, "SUDAH MATI BELOM?"

Dia itu adik bungsu yang aneh.

Tahun berganti tahun, hari berlalu sekejap mata, Abi semakin besar dan dewasa. Tapi, kami masih tidur bersama. Dia masih bungsu di keluarga, kesayangan semua, walaupun cueknya semena-mena. Dia yang paling nggak peduli dengan apa-apa, tapi selalu jadi yang utama.

Abi, adik kesayangan.

Di 18 Februari 2012 ini, si Dedek akhirnya jadi 13 tahun. Usia bertambah, tapi dia nggak banyak berubah. Ayah-Ibu sudah menyiapkan kue untuk kejutan ulang tahun dan akan diberikan besok pagi saat Abi bangun tidur. Dan aku akan selalu jadi yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun dan mencium pipinya.

Oh ya, aku ingin sekali memasukkan fotonya di akhir postingan ini. Tapi, demi menghormati kerahasiaan identitas (dia nggak pernah memasang foto asli di facebook atau twitter), aku juga nggak akan memasang foto dia sembarangan. Hahaha.

Sekali lagi, selamat hari lahir, Muhammad Said Habil!

Nggak banyak-banyak ucapan, doa sebesar dunia sudah aku siapkan. Satu pinta utama, semoga Allah SWT selalu bersamamu, selalu memeluk, dan mendekapmu.

Me-us love you, Dedek-ku!

 SELAMAT ULANG TAHUN, ABI SAYANG!


#8th Day - Valentine

Apartemen - 07.04

"Mo, kau mau kemana?"

Rambut ikal Moca terkibar hebat di depanku. Dengan satu gerakan centil, ia mengibaskan ujung-ujung rambutnya padaku.

"Tentu saja kencan. Memangnya apa?"

"Kencan? Oh, Valentine?"

"Istirahatlah. Nanti kalau keadaanmu sudah membaik, baru pergi kencan juga, ya. Aku akan menelpon Arya untuk bilang kalau kau sakit. Adrian menjemputmu jam berapa?"

"Menjemput apa?" hidungku berkerut.

Moca berhenti menyisir rambutnya. "Jangan bilang kalau kalian nggak merencanakan apapun."

"Adrian? Merencanakan kencan Valentine? Buat aku, si wanita yang sepertinya bukan siapa-siapa?" aku mendengus. "Itu mustahil."

"Kalian memang ada apa-apa, kan? Dia sudah bilang begitu, kan?"

Aku mengangguk.

"Lalu?" desak Moca.

Aku menggeleng lelah. Badan yang panas dan kepala yang pusing membuat kata-kata macet. Belum lagi tenggorokan yang terasa sakit. Ini campuran demam, sakit kepala, dan radang tenggorokan. Dan kenyataan kalau Adrian belum jadi pacarku memperburuk semua. Semalaman aku memikirkan kemungkinan ajakan kencan atau sekedar jalan-jalan darinya untuk hari ini. Hari kasih sayang ini. Karena kalau hingga pagi datang dan pria itu belum juga mengajukan rencana apa-apa, berarti kencan memang tidak akan pernah ada. Pagi hari adalah zona waktu bekerja, yang hanya berakhir saat sore atau malam.

Dan pria itu, jelas-jelas gila kerja. Tidak ada yang penting bila dibandingkan dengan pekerjaannya. Semua hal jadi sepele, terlebih aku, wanita yang hingga kini belum juga jadi apa-apa. Sebulan yang lalu saat ia bilang memang terjadi sesuatu di antara kami, ia beberapa kali menjemputku sepulang kerja hanya untuk minum kopi atau makan pancake. Satu hari isinya bahkan hanya berkeliling tanpa arah dan kami mengobrol di dalam mobil. Adrian itu pria yang sulit ditebak tindak tanduknya.

Tapi, aku bisa menebak ia benci Valentine.

Pria realistis yang gila kerja dan mulutnya tajam. Sulit membayangkan pria semacam itu bisa ikut meramaikan Valentine.

"Mo, aku akan tidur sepanjang hari. Kepalaku pusing." Kataku sambil beranjak dari meja makan dan terseok-seok ke kamar. "Terima kasih sudah mau mampir ke kantor dan mengabarkan pada Arya soal sakitku. Sukses dengan kencanmu, ya?"

"Rii, bagaimana dengan kencanmu?"

"Aku dan Adrian sudah ada janji kencan. Untuk itulah aku tidur. Kami janji berkencan di dalam mimpi. Dah, Mo."

Celemek Merah Muda - Valentine

"Dean, bau apa ini?"

Adik laki-lakiku yang jarang sekali ada di rumah, Dean, hanya menatapku dengan hampa dari balik gelas susunya. Dengan satu alis mencuat ke atas, dia mengangkat bahu lalu menggeleng padaku.

"Bau apa? Aku nggak mencium bau apa-apa."

Aku beralih pada Carol yang memasuki dapur dengan muka mengantuk.

"Car, apa kau mencium bau sesuatu?"

Carol memelototiku. Dengan satu alis terangkat seperti Dean, ia hanya menggeleng nggak peduli padaku. Keji sekali. Aku punya dua adik dan nggak satu pun dari mereka yang menghormati kakaknya. Mereka seenaknya menaikkan alis, mendengus, melengos pergi bahkan saat aku belum selesai bicara, atau bahkan mendengarkan musik dengan volume maksimal saat aku curhat. Aku iri pada kakak-kakak diluar sana yang begitu dihormati dan disanjung adik-adik mereka.

"Memangnya ada bau apa, sih?" tanya Dean lagi. Hidungnya berkerut sambil mengendus sana-sini untuk mencari bau yang sepertinya hanya tercium olehku.

Carol memutar bola matanya. "Jangan tolol, Dean. Memangnya sejak kapan Zach berkelakuan normal?"

Dean merengut. "Jadi, ada bau apa sih, Zach?"

Aku tersenyum geli. Dengan tangan terbuka lebar, aku berteriak.

"Bau Valentine!"

Dean bengong sambil mengerjap beberapa kali padaku sementara Carol mendengus.

"Sudah kubilang, kan."