Aku Memaafkanmu



"Memang kapan aku pernah membayangkan kalau kelak kita ternyata tak sejalan?"

Coba kamu ingat-ingat lagi, semua obrolan kita di penghujung hari. Aku menanti. Selalu menunggu saat tubuh telah rebah, lelah, tapi masih juga ingin tahu kabarmu. Selalu tak sabar menunggu balasan yang kemudian berlanjut hingga larut, hingga mata terasa begitu berat, tapi masih juga tak ingin mengakhiri. Cerita yang itu-itu saja, topik yang itu-itu saja, tapi sungguh aku tak pernah bosan dibuatnya. Apalagi kalau bukan karena cinta.

Coba kamu ingat-ingat lagi, semua upayaku membuatmu tertawa saat itu. Aku berusaha. Agar kamu tak jenuh mendengar suaraku, agar kamu tak tertidur sementara aku masih ingin mendengar suaramu. Saat kita berbagi tawa, diam-diam aku percaya kalau akhir dari semua hanya bahagia. 

Coba kamu ingat-ingat lagi, semua pesan yang membatasi jarak dan aku masih tertuju kepadamu saja, karena percaya. Masih menginginkanmu saja, tak ingin membayangkan dengan sesiapa. Apa gunanya berdua kalau di sisiku bukan kamu. 

Aku, tak pernah sekalipun, berpikir kalau kelak tiba saatnya harus memaafkan.

Memaafkanmu, karena memutuskan menjadi milik orang lain. Memaafkanmu, karena membuatku kecewa hingga hatiku sempat tak merasa apa-apa. Memaafkanmu, karena tak ingin melepasku namun tak juga jadi milikku. Memaafkanmu, karena mengkhianati apa-apa yang kuperjuangkan sedari dulu. Memaafkanmu, karena tak mengamini doa-doaku.

Aku memaafkanmu. 

Semata karena tak ingin menyimpanmu lebih lama, karena tak ingin terus menyiksa diri.

Cerita-Cerita Pilihan

Halo, para pembaca! ^^

Blog ini punya beberapa seri cerita dengan tokoh yang sama. Saya mendapat beberapa pembaca setia dari seri-seri cerita ini. Kebanyakan dari mereka jatuh cinta dengan tokoh dan jalan ceritanya yang kemudian membuat saya jadi semangat untuk melanjutkan cerita atau membuat cerita baru dengan tokoh yang sama. Ini link beberapa seri cerita favorit yang bisa kalian intip:

Seri 'Adrian-Riifa' 
Tokoh: Riifa, 23 tahun, editor majalah.
            Adrian, 27 tahun, manajer umum CNA.
#1st Day - Pertemuan

Seri 'Celemek Merah Muda'
Tokoh: Zachary, lulusan universitas luar negeri.
            Asca, guru TK bercelemek merah muda.
Celemek Merah Muda 1


Seri 'Pria Abu-Abu'
Tokoh: Biru, pria berbola mata abu-abu.
            Alegra, gadis pengagum punggung Biru.
Pria Abu-Abu


Terima kasih atas apresiasi hebat kalian selama ini. Selamat membaca! Ditunggu komentarnya! ^^
            

Kamu, Sampai Jumpa Lagi, Ya!

Ah, perasaan tak nyaman ini datang lagi.

Suara penggorengan berisi nasi goreng, kendaraan yang lalu lalang, dan obrolan orang-orang. Suasana yang sama sekali tak mendukung untuk berduaan, tapi aku masih dapat memandangi lelakiku dengan khusyuk dan hanya mendengar suaranya saja. Dia suka sekali nasi goreng kambing, jadilah cerita kami terhenti tiap kali dia mengunyah. Sesekali dia mengangkat kepalanya dari piring lalu tersenyum padaku, meminta kekasihnya maklum. Aku yang biasanya balik tersenyum, kali ini malah lebih ingin memalingkan wajah. Ada raut yang ingin kusembunyikan, melihat wajahnya sekarang hanya membuat perasaanku makin runyam saja.

"Pulang, yuk," katanya setelah membayar makanan. Aku mengikutinya menuju parkiran motor yang agak jauh. Tangan kami saling menggenggam, tapi yang kulakukan hanya terus menunduk menatap jalan. Gelap. Hitam. Betapa aku ingin sekali mendadak melebur jadi aspal.

Aku menolak dipasangkan helm olehnya. Tapi, dia tak peduli.

"Kamu kenapa, sih? Biasanya juga aku yang pasang," katanya sambil menjawil hidungku.

Di atas motor, perasaanku makin berantakan.

"Besok mau ikut mengantarku ke stasiun?" tanyanya.

Aku hanya mengangguk. Stasiun. Besok, lelaki yang sedang kupeluk ini akan pergi. Sekali lagi, meninggalkanku dan kota ini. Aku, lagi-lagi, akan menangis dan sengsegukan seorang diri. Tak juga terbiasa akan perpisahan yang pasti terjadi. Lelakiku asyik bercerita sementara aku menatap lampu-lampu jalan dengan hampa.

Butuh berapa lama lagi hingga aku bisa mendekap punggungnya seperti ini? Harus menelan rindu sebanyak apa lagi hingga akhirnya aku bisa menghirup parfumnya yang samar terbawa angin? Berapa ratus hari lagi yang harus kulewati dengan menghitung kepulangannya, hanya untuk kemudian melepasnya, di tempat yang sama sambil berair mata?

Pundakku mulai bergetar. 

Wahai Tuhan sang pemilik waktu, aku tak ingin cepat-cepat besok. Wahai Tuhan sang pemilik jarak, aku tak ingin lagi terpisah tempat. Rasanya lelah terus menerus menarik napas dalam-dalam saat tak bisa memeluk lelaki ini dengan leluasa. Rengekanku tak sekadar ingin nonton berdua atau makan bersama seperti pasangan selayaknya, aku hanya ingin lelaki ini selalu berada di sisi. 

"Bersabarlah sebentar lagi, ya. Bersabarlah sekali lagi."

Dia meraih tanganku, diletakannya di perut bersama dengan tangannya yang hangat. Aku mengamini kata-katanya, berusaha menjejalkannya di kepala. Tak sesiapa, tak juga kita, paham bahwa perpisahan akan selalu perkara rela. 

Malam ini, kami bersama. Malam esok, sudah berbeda kota. Ritual mengabari tiap malam akan dimulai lagi, percakapan kecil dengan muka mengantuk di awal hari. Harus puas dengan suara, harus kembali bergulat dengan khawatir, harus menerbangkan banyak doa lagi.

Kemudian sekali lagi, kami menyanyikan lagu wajib tiap kali selesai bertukar kabar.

"Aku di sini dan kau di sana, hanya berjumpa via suara, namun ku s'lalu menunggu saat kita akan berjumpa. Meski kau kini jauh di sana, kita memandang langit yang sama. Jauh di mata namun dekat di hati..."

Kepada angin yang menerbangkan air mata, aku ingin sekali lagi menitip doa. Jagalah lelaki ini, buat dia tersenyum saat harinya sedang sulit. Jangan biarkan dia kesepian saat tak ada seorang pun yang dapat dia andalkan. Aku ingin dia baik-baik saja hingga kami bertemu lagi.

"Aku benci stasiun," gumamku. 

"Aku pun," gumamnya. Kemudian kami tertawa.

Berkali-kali dipisahkan keadaan, kami masih saja bersama. 

Anggap aku sok tahu, tapi sungguh, inilah yang orang sebut cinta.


Tuan, Aku Ingin Bertanya


photo from artwallpaperhi.com



Tuan, sekali saja, izinkan aku bertanya
Apa kini kau sedang membunuhku perlahan?

Karena akhir-akhir ini, hatiku makin terasa hampa
Seakan sedikit demi sedikit kau keluar dari sana
Tak serta merta, namun perihnya terasa
Apa kini kau sedang meninggalkanku?

Tuan, sekali saja, jawablah semua tanda tanya
Apa kau sudah tak menginginkanku lagi di masa depan?

Karena akhir-akhir ini, jiwaku makin terasa kesepian
Kau seakan tak pernah benar-benar berada di sana
Pundakku kini sering menggigil
Tak kuat menahan desakan air mata
Karena kau makin terasa tak tergapai

Tuan, sekali saja, mintalah sesuatu pada semesta
Apa benar kalau selama ini hanya aku saja yang berjuang?

Karena sungguh, kakiku-kakiku makin lelah
Kupikir karena kita telah jauh melangkah
Tapi ternyata, selama ini aku berjalan seorang diri
Kau, entah sejak kapan, terasa memisahkan diri

Tuan, tak pernahkah kau berdoa untuk kita?
Untuk semua suka duka dan fajar senja
Untuk semua cerita yang disaksikan oleh kita saja

Tuan, hatiku kini berantakan
Langkahku terasa berat tapi aku bahkan sulit melihat
Jalan ke depan gelap karena kau menolak menerangi
Jejak-jejakku merindukan jejak-jejakmu
Ruas-ruas jemariku merindukan ruas-ruas jemarimu



Tuan, apa seperti ini rasanya perpisahan?


Aku (Membuang) Masa Lalumu

(Seri Rama & Lana)


“Oke. Laporan keuangan ini kacau.”

Lana mengamati langit-langit kamarnya yang kecoklatan. Ada dua ekor cicak di sana. Entah sedang mencoba berteman atau memikirkan menu makan siang. Atau mungkin tak setenang yang terlihat, mereka sedang mengambil ancang-ancang untuk saling menyerang. Seperti air. Seperti manusia. Kau tak bisa menilai interaksi yang terjadi hanya lewat mata. Rasanya akhir-akhir ini manusia kehilangan naluri untuk saling membaca lewat mata, pikirnya.

Sembari menunggu kiriman laporan keuangan perusahaan yang baru, dia mengecek beberapa surel yang masuk. Tujuh dari kantor dan satu dari kekasihnya. Pesan dari kantor rata-rata berisi keputusasaan dari beberapa rekan kantornya yang butuh bantuan dan memintanya segera kembali ke kantor plus ucapan cepat sembuh yang terasa mendesak bahkan hanya lewat ketikan. Lana tertawa, setengah meringis saat luka bekas operasi di perutnya terasa perih.

“Tumornya sudah diangkat. Semoga kau cepat pulih.”

Tidak, dokter, aku tak ingin pulih dengan cepat, katanya saat itu. Dokter yang menanganinya hanya tertawa, menanggapi lelucon yang padahal sungguhan. Lana, si gadis super sibuk yang terkenal gila kerja, menginginkan istirahat panjang untuk dirinya. Untuk pikiran yang kerjanya bahkan lebih payah dari badan. Istirahat dari apa tepatnya, dia sendiri tak yakin. Seluruh partikel yang ada di tubuhnya, sel terkecil sekalipun, menuntut jeda yang tak sebentar.

Rama, kekasihnya, masuk ke kamar di saat yang begitu tepat.

“Apa yang kuinginkan?” tanyanya lemah.

“Aku baru saja mengecup keningmu. Jadi, apa yang kauinginkan? Aku mengecup pipimu? Oh, apa boleh aku mengecup yang di bawah hidung?” canda Rama.

“Aku… tak merasa hidup.”

Rama tercenung. Pertanyaan dan pernyataan itu serius rupanya.

“Boleh aku menebak apa yang mungkin kauinginkan?”

Lana mengangguk. Rama mulai menyebutkan semua kemungkinan yang diinginkan kekasihnya. Mulai dari hal konyol seperti sepatu atau tas sampai uang pensiun yang cukup untuk membeli sebuah apartemen di Manhattan. Bertemu Bradley Cooper, keliling New Zealand seorang diri, hingga selfie bersama Pangeran Harry. Semua. Dan tak satupun yang membuat puas Lana. Gadis itu hanya merengut dengan alisnya yang bertaut.

Rama mencoba usaha terakhirnya. “Aku?”

Ekspresi Lana masih sama. Menatap hampa mata Rama, yang kini semakin bingung dibuatnya. Rama baru saja akan menyuruhnya istirahat saat tiba-tiba Lana meledak dalam tangis yang keras. Kekasihnya menangis begitu saja, dengan suara yang sama sekali tak ditahan. 

Seperti raungan anak kecil yang tak dibelikan gulali oleh ayahnya.

Rama terdiam. Ini pertama kalinya Lana menangis seperti bayi yang sedang tumbuh gigi sejak setahun mereka bersama. Rama meraih bahu Lana lalu menimang-nimang kepala kekasihnya di dada. Bahkan dari balik kemeja Rama yang mulai basah, suara raungan Lana masih terdengar dengan jelas. 

“Ada apa?” ibu Lana masuk, menatap mereka berdua.

Rama mengangkat bahu. “Andai aku tahu.”

Teman Pengisi Senja

Aku suka sekali berada di sini. Tidak, bukan tempatnya. Tapi momennya. Dan seseorang di dalamnya. Bersama hal-hal kecil pelengkapnya. Dia, wanita yang sedang duduk mengantuk itu seseorangnya, sore ini momennya, dan dua cangkir kopi adalah pelengkapnya.

Aku? Aku hanya satu dari sekian di hidupnya.

"Kopiku sore ini pahit sekali," celetuknya.

"Oh ya? Maaf, mungkin aku lupa menambahkan gula," kutarik cangkir miliknya.

"Jangan," dia menggeleng. "Aku perlu merasakan yang pahit sesekali."

"Seperti hidup?"

"Seperti cinta."

"Apa yang pahit dari kisahmu?" tanyaku miris. Katakan padaku, apa yang merisaukanmu hingga kisah cinta yang tak pernah kutahu itu kamu sebut pahit? Bukankah yang mencicipi bagian terpahit justru aku, manusia yang diam-diam mencintaimu?

"Berharap pada yang tak pernah sadar."

Aku berhenti menyesap kopi.

"Aku berharap pada seseorang yang tak pernah sadar kalau dia jadi tumpuan bahagiaku. Aku berharap pada seseorang yang sepertinya tak pernah ingin jadi bagian dari hidupku."

Ah, jadi itu kisahmu. Kenapa malah lebih mirip kisahku.

"Kenapa senja selalu berwarna merah?" tanyanya.

"Mungkin itu semburat doa-doa."

"Oh ya? Kamu sering berdoa saat senja?"

"Selalu. Senja itu pengirim doa paling sendu."

"Maukah kamu mendoakanku agar bahagia?"

"... bersamanya?"

Kamu mengangguk. Aku hanya diam.

Tentu saja tak bisa. Doa kita bersebrangan. Aku ingin kamu bahagia tapi bukan bersamanya.

Kami kemudian sama-sama menyesap kopi. Senja tak pernah terasa sepilu ini. Gurat-gurat merah yang selama ini kunikmati perlahan mulai menyakiti. Rasanya ingin kopiku lebih pahit lagi agar mati rasa sekalian pikiran ini.

"Rasanya sakit sekali, ya."

"Mencintai diam-diam? Tidak juga."

"Tak ada bagian indah dari mencintai yang tak peka."

"Ada, kok. Sekalipun kadang pahit, bahkan kadang rasanya ingin jadi orang lain saja. Tapi aku memilih bertahan dalam diam, tetap jatuh cinta dan berdiri di tempat yang sama. Menunggu orang yang sama. Aku tak menunggunya peka, hanya saja, aku tak punya lagi alasan untuk berbahagia selain dia. Dan lucunya, aku bahagia."

"Senang sekali," dia tersenyum sedih. "Aku malah berduka."

"Jangan terus berduka. Kasihan seseorang yang menjadikanmu alasannya berbahagia."

"Tak bisa. Aku hanya ingin berbahagia untuknya."

Kutarik napas dalam-dalam. Sepertinya perjalanan ini masih panjang. Adegan penantianku masih belum terlihat ujungnya, adegan keras kepala dia juga tak tahu kapan berakhirnya. Aku bisa apa selain menikmati adegan saat ini, meski yang itu-itu saja. Meski tak jadi pemeran utama. Hanya teman pengisi senja. Tapi tak apa, yang penting aku berada di sisinya.

Bagaimana akhirnya, kelak yang tahu hanya senja dan ampas kopi saja.

Untuk Kau Saja

Lagi-lagi.

Dia terduduk sendiri. Tak perlu ditanya sedang apa, sudah pasti dia sedang menunggumu. Kehadiran atau kenanganmu, entah mana yang lebih menggebu dalam hatinya, semesta bahkan tak tahu. Mungkin saja dia sedang mengingat percakapan kecil kalian dulu, saat sekadar mengingatkan makan saja bisa membuat sebahagia itu. Mungkin saja dia sedang mengingat kebersamaan kalian dulu, saat lima menit saja bisa membuat dia tersenyum tak tentu.

Yang semesta tahu, dia merindukanmu.

Dia ingin cerita kalian tak berakhir begitu saja. Atau tak usah ada cerita sekalian kalau akhirnya harus berairmata. Dia ingin hadirmu saja. Sekarang, detik ini, di sisinya saja. Tak perlu bicara apa-apa, tak perlu memaksakan basa-basi kata. Cukup berada di sebelahnya saja. 

Rindu yang ada di hatinya, sudah sebegitunya.

Hingga dia tak tahu harus berbuat apa. Hingga logikanya buta.

Kalau semesta menawarinya kesempatan hidup kedua, dia masih ingin jadi milikmu. Atau setidaknya, pernah dimilikimu. Memang belum sembuh semua luka, tapi apalah luka kalau dia bahkan kini sekarat karena kau tinggalkan. Luka-luka yang kau ciptakan, tak cukup membuatnya jengah lalu ingin melupakan. Entahlah, semesta juga tak lagi paham.

Dia ingin kau kembali, tapi apa nanti kata nurani.

Jadi, dia kini hanya ingin kau ada. Tak perlu jadi miliknya. 

Karena kau tahu, ada cinta-cinta yang tak kenal luka yang menganga. Ada cinta yang saking besarnya, bisa menyebrangkan doa hingga nirwana. Ada cinta yang bahkan semesta saja tak mengerti jalan kerjanya.  Ada cinta yang meski telah babak belur, masih menginginkan satu orang saja.

Ada cinta di hatinya, untuk kau saja.

Aku (Akhirnya) Bertemu Cinta

Disinilah aku berada. Di dunia sesungguhnya, tempat dimana yang hidup akan bermuara. Lucunya, aku tak bisa menemui satu pun orang yang kukenal disini. Mungkin lebih baik langsung kuminta  agar dipertemukan dengan yang kukenal saja. Keluarga di dunia, teman-teman, aku mau mereka semua. Tapi tunggu, aku bisa jalan-jalan sendiri dulu. 

Kemudian, aku melihat dia.

Pria yang hadirnya terasa familiar, tapi tak bisa kuingat dengan jelas namanya. Dia sedang duduk bersama beberapa anak kecil, pemandangan yang juga familiar, tapi ingatan burukku tak dapat mengingat lebih baik. Sampai akhirnya dia melihat ke arahku.

Mata kecilnya membesar. Lalu dia menyebut namaku.

Aku terkesiap. Wah, dia kenal aku rupanya.

"Aku satu klub denganmu. Si cowok yang suka datang terlambat. Ingat?"

"Ah! Kamu pernah membantuku membuat tugas presentasi!"

"Dan tugas makalah,"

"Oh iya, itu juga," aku tertunduk malu. Dia banyak membantuku tapi mengingat namanya saja aku tak mampu. Dasar wanita dungu.

"Oh ya, terima kasih sudah melayatku."

"Kamu dan rombonganmu pantas dapat penghormatan terakhir."

"Kaki-kaki ini masih mengingat tanah basah terakhir yang kupijak di gunung itu. Kepala ini juga, masih mengingat rasanya berbenturan dengan batu-batu di dasar jurang," dia tertawa kecil. "Tapi, sebelum tak bisa melihat apapun lagi, aku sempat melihat matahari terbit. Sekilas."

"Setidaknya Tuhan tak membiarkanmu pergi di dasar jurang yang gelap."

Dia mengangguk. Kemudian ada jeda panjang yang kami nikmati bersama. 

"Omong-omong, kenapa aku bisa bertemu denganmu, ya?"

"Memangnya kenapa?"

"Aku belum bertemu siapa-siapa di sini. Maksudku, kenapa kamu jadi orang pertama yang kutemui saat aku baru sampai di sini? Kenapa bukan keluargaku?"

"Karena aku yang meminta."

"Apa?"

"Aku meminta pada Tuhan untuk membuatmu melangkah ke sini."

"Apa? Kenapa?"

"Karena aku ingin bertemu denganmu, tentu saja."

"Kenapa?" suaraku makin mengecil. Bingung.

"Tak sadarkah kamu kalau selama ini aku jatuh cinta..."

Hening beberapa saat, aku menahan napas.

... padamu?" sambungnya.