Celemek Merah Muda #3

Pulang kerja lebih cepat lalu menyetir ke rumah yang jarang sekali kuingat bagaimana prosesnya. Aku seperti duduk begitu saja di depan setir, pikiran kosong, dan tahu-tahu mobil sudah terparkir di garasi. Tahu-tahu aku sudah berada di kamar, menggeletak di kursi bantal biru, dan tertidur dengan pakaian kantor yang masih lengkap. Pagi hari saat matahari mulai merangsek masuk ke kamar yang jendelanya bahkan tak pernah kututup, aku bangkit dari sofa, masuk kamar mandi, masuk mobil, masuk kantor. Aku masuk ke semua tempat kecuali TK itu.

Saat kupikir aku akan mulai menjadi pria yang memegang kendali atas perasaanku sendiri, aku malah babak belur dijatuhkan oleh seorang wanita yang badannya bahkan tidak lebih besar dari adik perempuanku saat masih SMP. Ia mengajakku jalan-jalan di surga untuk kemudian mendorongku ke neraka. Aku lebih dari sekedar remuk dan sakit hati.

Tidak bisakah cinta, sekali saja, membuatku tertawa dalam waktu yang lama?

"Zach, astaga, apa yang kaulakukan?" Carol menarikku yang entah bagaimana bisa berada di depan wastafel dapur dengan posisi kepala tenggelam di kubangan air keran yang lubang pembuangannya kututup dengan telapak tangan. Ini mungkin hal terbaik yang kulakukan selama seminggu ini. Setidaknya aku tidak sedang membekukan otak di kulkas.

Carol mendorongku ke kursi meja makan kemudian menyodorkan susu hangat. "Minumlah. Jangan buat pikiranmu tambah kacau." Katanya sambil berlalu. Kulihat adikku itu mengomel sambil membersihkan wastafel dan bertanya-tanya kenapa ia bisa punya kakak sepertiku.

"Aku nggak tahu lagi apa yang harus kulakukan," keluhku. Membayangkan Asca beranjak meninggalkanku di kafe saja membuat kepalaku berdenyut.

"Memangnya apa yang sudah kaulakukan?"

Aku tercenung. Tidak ada. Aku memang belum melakukan apa-apa.

"Aku takut. Aku takut saat aku minta maaf dan menjelaskan semua, Asca akan minta putus. Kau tahu, dia bahkan nggak memasang wajah cemburu saat melihatku bersama Scarlet. Dia terlihat biasa saja, bahkan sempat bilang akan mengerjakan sesuatu di TK." Aku menarik nafas dalam-dalam. "Sementara aku, cemburu seperti orang gila saat dia membicarakan teman sesama gurunya. Rasanya... seperti mendonorkan ginjalmu pada seseorang, tapi saat kau mati karena kehilangan ginjal, seseorang itu bahkan nggak mau datang ke pemakamanmu."

"Kapan kau pernah mendonorkan ginjal?" tanya Carol.

Aku menatapnya. Sejak kapan adikku jadi dungu.

"Sudahlah, aku mau berendam." Aku bangkit dan berjalan gontai menaiki tangga.

 "Aku serius." Ucap Carol. "Memangnya kapan kau memberikan pacarmu sesuatu yang paling diinginkannya?"

Aku berhenti berjalan. "Aku sudah memberikan semuanya. Waktu, perhatian, cinta. Aku bahkan memberikan aku, diriku sendiri padanya kalau dia mau."

"Sudah setua itu dan kau masih nggak mengerti," Carol menggeleng, melambai padaku yang termangu. Adikku itu menghilang di halaman belakang, menyisakan aku yang menghilang di balik gunungan pikiran.



Aku berdiri di pagar luar TK, bersembunyi di balik tiang listrik dan sedang mengintip Asca dengan noraknya. Setelah satu minggu membodohi diri sendiri, aku memutuskan untuk datang dan melihat keadaannya. Keadaan pacarku yang sudah tujuh hari tidak kulihat atau kuajak bicara. Asca juga sama sekali tidak berusaha menghubungiku atau melakukan sesuatu pada situasi yang canggung dan salah ini. Kalau diingat-ingat, dulu aku dan Scarlet sering bertengkar dan saling memaki satu sama lain, meskipun akhirnya aku yang mengemis maaf. Tapi setidaknya saat itu Scarlet marah dan menyalahkanku, jadi aku tahu apa yang harus kulakukan. Dan apa yang terjadi padaku dan Asca saat ini tidak bisa kumengerti.

Asca terlihat sedang membuat istana pasir. Rambutnya lagi-lagi menjuntai tak karuan, pipinya memerah terbakar sinar matahari, dan warna asli celemeknya hampir tak terlihat lagi. Celemek itu. Celemek merah muda yang selalu digunakannya baik saat bermain maupun memasak. Celemek lusuh yang menjadi tempat bocah-bocah itu bersandar dengan nyaman. Celemek kesayangannya yang dulu membuatku jatuh cinta. Asca, masih seperti yang selama ini kulihat, tertawa tanpa cela. Ia seperti tak punya beban dan tak memikirkan apapun. Seakan masalah denganku tak pernah ada. Seakan aku tak pernah ada.

Sulit dipercaya. Kami yang secara kasat mata seperti orang asing nyatanya saling mencinta.

Jantungku hampir lepas saat tiba-tiba Asca yang sedang berkejaran dengan muridnya, terpeleset dan jatuh begitu saja di lantai semen. Semua murid terdiam sementara Asca berusaha bangun sambil meringis. Aku buru-buru melompat melewati pagar dan berlari ke arah Asca saat beberapa guru termasuk Eric menghampirinya.

"Hei, kau nggak apa-apa?" tanya Eric panik.

Asca mengangguk. Aku meraih tangannya yang berdarah.

"Apanya yang nggak apa-apa? Lihat tanganmu," kataku kesal. Kulihat mata Asca membulat. "Zach, sedang apa kau disini?" tanyanya.

"Itu nggak penting. Sekarang ayo cepat bersihkan lukamu ke dalam," kataku cepat sambil menarik tangannya. Kudengar Asca mengaduh kesakitan.

"Kau pergi saja,"

"Apa?"

"Aku nggak apa-apa, ini bukan urusanmu. Jangan susahkan dirimu karena hal ini. Ada Eric dan guru lainnya yang menemaniku."

Aku sudah tidak mengerti lagi. "Kau lebih ingin dia yang mengurusimu dari aku? Selama ini kupikir kenapa kau seperti terlihat bahagia sementara aku seperti orang mati setelah kejadian di kafe itu. Harusnya aku sudah tahu jawabannya,"

Para guru mulai membubarkan diri, termasuk Eric yang kini mengawasiku lewat matanya. Asca berdiri di hadapanku, dengan mulut setengah terbuka dan tatapan hampa.

"Jadi itukah yang selama ini ada di pikiranmu? Kau menderita dan menyiksa dirimu sendiri memikirkanku yang mungkin berbahagia bersama orang lain lalu membiarkanmu membusuk oleh semua ini?" Air mata merebak di pelupuk matanya. "Aku sama sekali nggak marah atau apapun padamu saat itu, karena aku percaya padamu. Aku percaya itu bukan apa-apa, kau nggak akan berbuat apa-apa."

"Tapi kau," suara Asca mulai mengecil. "Sibuk membiarkan pikiranmu membayangkanku bersama Eric yang bahkan sama sekali nggak pernah berusaha mendekatiku. Aku hanya ingin kau percaya padaku, seperti aku percaya padamu. Tapi kau sepertinya sulit melakukan itu."

Saat air matanya jatuh, aku yang mendadak menggigil seperti bocah ingusan ini ingin sekali memeluk tubuh kecilnya. Aku sungguh seperti tak punya pikiran. Aku tak juga dewasa oleh keadaan.

Percaya. Hanya itu yang ia inginkan dan aku bahkan tidak mengerti.

Asca menghapus air matanya dengan cepat dan masuk ke kelas tanpa menoleh ke arahku. Aku membatu. Berdiri bodoh tanpa otak seperti saat Asca melenggang seakan tak peduli padaku. Seperti saat aku terpana dan jatuh cinta padanya.

Salah satu murid menarik celanaku. "Kenapa Bu Guru menangis?"

Aku menggeleng pelan sembari tersenyum hambar. "Kecewa. Bu Guru sedang kecewa berat padaku."


Aku, berdiri di tempat yang tak terlihat oleh Asca, sedang memperhatikannya dari dekat tapi tak terlihat. Asca sedang membereskan meja dan kursi setelah pelajaran. Semua guru dan murid sudah pulang, sekolah lengang dan sepi. Inilah alasannya selalu terlambat pulang dan membuatku menunggu. Ia selalu menyempatkan diri merapikan kelasnya, menikmati hasil karya muridnya yang dipajang di dinding, atau hanya sekedar mengganti bunga di vas kecil miliknya. Aku tidak tahu semua itu sampai hari ini. Aku tidak tahu betapa ia sabar dan tegar, berdiri di atas kakinya sendiri untuk melawan semua gejolak yang memberontak.


Aku mengeluarkan ponselku dan menelpon ponsel lain yang sudah kusiapkan. Saat telpon berdering, Nothing Is Gonna Change My Love For You mengalun. Asca terlihat kaget. Aku tersenyum memperhatikannya mencari-cari sumber lagu itu mengalun. Ia sampai pada sebuah tas merah muda yang kuletakkan di atas lemari prakarya anak-anak saat lagu berhenti mengalun.

Kulihat Asca membuka tas itu. Tangan kecilnya mengeluarkan sebuah ponsel yang tadi kupanggil. Dan kemudian sebuah celemek merah muda. Ia melebarkan celemek merah muda baru yang kaku dan warnanya terang itu dengan wajah memerah kaget.


Aku keluar dari dalam lemari sapu sambil berusaha terlihat ganteng. "Panas sekali di dalam sana."

Asca menatapku. Aku membuka suara, menyanyikan sepotong lagu yang tadi kuperdengarkan untuknya.


"Nothing's gonna change my love for you. You ought to know by now how much I love you. One thing you can be sure of i'll never ask for more than your love..."


Asca menatapku tak percaya, matanya mulai memerah. Aku, yang sudah tak tahu lagi harus mengatakan apa, hanya berjalan perlahan mendekat padanya. Mendekat pada pacarku yang meskipun nyatanya kuat tapi tetap rapuh layaknya wanita. Aku memeluknya. Mendekapnya seperti anak kecil yang tak ingin berpisah dari ibunya. Seperti Zeus yang tak ingin melepaskan Hera, seperti Jack yang tak ingin Rose terluka.

Kami hanya saling memeluk dan tertawa. Asca mengataiku bodoh, tidak peka, dan terlambat meminta maaf, sementara aku hanya terus merapatkan tanganku agar ia tak lepas dari pelukan. Aku belajar dari wanita mungil ini, bahwa untuk memperbaiki semua, aku hanya perlu memaafkan diriku sendiri. Aku melakukannya dan berhenti menyalahkan diri. Dan wanita yang lebih kucintai dari semesta ini akhirnya mau kembali.

"Hal bodoh apa yang mungkin terjadi setelah ini, hah?" tanya Asca sambil memeluk celemek baru dariku dengan tangan sebelah kirinya sementara tangan kanannya tenggelam dalam genggamanku.


 Aku hanya mengangkat bahu. "Entahlah,"


Asca ikut mengangkat bahu sambil mendendangkan Nothing Is Gonna Change My Love For You. Dan sama sekali tidak tahu kalau aku mulai memikirkan tentang serunya lamaran di depan anak-anak kelasnya.

Entahlah.

2 comments: