#6th Day - Jangan Pakai Celana

Kantor Dream - Pukul 11.25
Rapat redaksi hampir berakhir, Roger sudah bersiap dengan akhir petuah panjangnya. Harry mengangguk sok mengerti dengan tugasnya, Arya menjaga mata tetap terbuka lebar, Carol melirik gelisah pada ponselnya yang tergeletak pasrah. Dua jam berlalu lebih suntuk dari biasanya dan atmosfer ruangan lebih mirip ruang hampa udara yang isinya kentut. Di tengah kejahanaman itu, aku yang paling terlihat girang. Riasan masih segar, mata membelalak semangat, dan senyum lebar tak dibuat-buat. Aku bahkan berkali-kali membuat lelucon kecil menanggapi kata-kata Roger.
Yang terakhir terdengar mengerikan tapi nyata.
“Ada hal baik terjadi?” tanya Arya saat rapat selesai dan mereka bersiap makan siang. Aku yang sedang merapikan meja mengangguk.


“Rossy minggu depan bertunangan dan siang ini kami akan menyiapkan semua yang dia butuhkan.”
“Rossy sahabatmu? Pemilik salon itu?”
“Ya. Hebat kan? Aku hanya kerja setengah hari hanya untuk menemaninya.” Aku mengedip genit, meraih tas dan melambai pada Arya. “Lelucon norak di rapat tadi adalah bentuk terima kasihku pada Yang Mulia Roger.”
Arya mendengus. “Bayaran yang setimpal.”


  
Jewerly Fashion - Pukul 13.09


Rossy menatap kalung ruby ungu di lehernya dari kaca, memandangi wajahnya sendiri dengan rona kemerahan di pipi. Dari kaca, ia melihat aku dan Moca menahan tawa. Menahan bahagia.
 “Akhirnya!” pekikku girang. “Akhirnya salah satu dari kita mengalami kemajuan!”
 "Rossy sayang, kau benar-benar akan bertunangan, kan? Menjalin sesuatu yang lebih kuat komitmennya, terikat erat dengan seseorang, bersiap menghadapi mahligai resmi, melahirkan banyak anak, dan menjadi gendut?!” Moca memegangi kepalanya.
“Demi Tuhan, itu bukan ekspresi bahagia!” timpalku.
“Yah, tapi, kau tahu,” Moca menarik nafas. “Kita masih muda lho. Masih banyak yang ingin kulakukan dan Rossy sudah akan menapaki sesuatu yang bersifat mengekang? Yang benar saja.”
 “Otakmu memang hanya sebesar kacang hijau,” ujarku malas. “Lihat wajah bahagia sahabat kita itu! Bertunangan nggak akan mengekang apapun, kecuali kalau target hidupmu adalah berpacaran dengan seratus pria.”
“Aku tahu. Itu rona jatuh cinta,” Moca tersenyum melirik Rossy.


“Ya, kan?” kupeluk Rossy dengan kuat.
“Dan aku juga melihat rona itu di wajahmu, Rii,” sahut Rossy.
Aku melepaskan pelukan Rossy dan menjauh agar bisa melihat wajahnya. “Apa?”
“Kau sedang jatuh cinta, kan?” tanya Rossy.
Aku tertawa garing. “Aku? Jangan bercanda.”
Moca merapikan rambutnya di cermin. “Manajer CNA, 26 tahun. Pria yang diwawancarainya untuk keperluan majalah. Terlibat beberapa pertemuan yang kelihatan seperti kebetulan. Dua hari yang lalu si pria bahkan mengantar sahabat kita ini pulang dari pesta bersama.”
Aku ternganga. “Moca, apa yang kau-“
Rossy kaget. “Perkembangan sejauh itu dan aku bahkan nggak tahu?”


“Ini nggak seperti yang Moca katakan, ini hanya-“
“Apanya? Aku tahu dari Arya, kok. Arya nggak mungkin bohong.”
“Jadi semua informasi itu keluar dari mulut Arya? Bagus, besok dia harus minta maaf dalam posisi kayang di atas mejanya!” Kutarik nafas dengan cepat, mulai panik. “Oke, kalian membuatku gila.”
“Ceritakan tentang pria itu. Demi Tuhan, Riifa, kami sahabatmu!” desak Moca. Teriakannya membuat banyak kepala menoleh dengan malas.
“Nggak. Kau nggak perlu cerita kalau nggak mau, Rii,” sergah Rossy. “Mo, kita nggak harus memaksa Riifa menceritakan apa yang nggak mau diceritakannya. Riifa punya-“
“Astaga Rossy, jangan lembek begitu!” pekik Moca.


“Hei, aku cuma ingin Riifa-“
TRING! Kepalaku matang. 


"Oke Ladies, selesaikan belanja kalian dan kita ke Ladybug." 




Ladybug Cafe - 15.43
“Mo, ingat saat kau begitu tergila-gila pada Adam Levine?” tanyaku, Moca mengangguk cepat. “Kau melonjak girang sambil berdebar saat melihatnya, tapi sama sekali nggak terpikir untuk jadi pacarnya. Kenapa?”
“Dia nggak terjangkau,” jawab Moca.
“Nah!” aku berdecak. “Rossy, kau suka suara Phil Collins, kan? Tapi apa kau pernah terpikir untuk pacaran dengannya?”
Rossy menggeleng. Aku mengangguk ragu. “Mungkin seperti itulah yang kurasakan pada Adrian. Kalian tahu, dia sama sekali nggak ada benang merah denganku. Demi Tuhan, kalian mengerti maksudku, kan?”
“Jangan tolol, Bu Editor!” Moca menusuk pancake duriannya. “Adam Levine itu artis, penyanyi seksi, seseorang yang bahkan nggak setiap saat kulihat. Dan demi gajimu selama sebulan, kenapa juga Phil Collins ikut kau bawa-bawa? Dia nggak bisa dibandingkan dengan Adam!”
Rossy mengangkat satu alisnya. “Itu jahat, tapi benar. Sekalipun kau pikir itu mustahil, kalian nggak punya ikatan atau apa, Adrian itu tetap pria yang sekarang ada di sekitarmu. Bagaimana mungkin kau pikir itu mustahil sementara kita nggak pernah tahu rencana Tuhan?”
Aku hanya mengangkat bahu. “Kalian tahu, perasaan takut yang muncul saat memulai sesuatu yang nggak pasti? Mendadak kita menjadi begitu kecil, rapuh, sekaligus tolol? Aku muak dengan perasaan semacam itu.”
“Tapi, kupikir kau bahagia,” gumam Moca.


“Aku memang bahagia. Dan senang rasanya bisa berdebar karena seseorang lagi. Tapi, setelah kupikir-pikir aku dan Adrian nggak ditakdirkan untuk bersama. Kami terlalu berbeda dan aku nggak mau jatuh cinta dan tergila-gila sementara dia bahkan nggak tahu.”
Hening sejenak.
“Atau bahkan, dia tahu tapi nggak mau tahu.”
Saat kami sedang terjebak dalam pikiran masing-masing, ponselku berdering. Moca dan Rossy mulai menyendoki pancake mereka saat aku mengangkat telpon. Suaraku berubah mendadak jadi pelan dan bergetar, paru-paru mendadak kurang udara.
“Hai, Dri? Ada apa?”
Moca dan Rossy mendongak dengan cepat. Menatapku dengan wajah super genit dan penasaran. Rusak sudah momen hening.
“Kau sibuk? Aku ingin mengganggu sebentar.” Adrian tertawa kecil. “Kau konsultan kecantikan yang hebat, kan? Aku ingin minta pendapat.”
Kukibaskan tangannya ke wajah Moca dan Rossy, menyuruh mereka berhenti menatap dengan dungu. Mulutku mengerucut, memberi kode.
Moca dan Rossy bahkan tak berkedip.
Jantungku makin tak karuan. Saat aku baru saja menceritakan Adrian dengan dramatis di depan dua sahabat tak tahu maluku, pria ini malah menelpon. Saat aku mulai kehilangan akal mempertahankan wajah seriusku, pria ini malah membuat wajahku merona merah.


Saat aku berniat melepaskannya, pria ini malah menarikku.
 “Selama bukan soal memilih cincin kawin dan sebagainya, aku siap,” jawabku.


Adrian tertawa. “Besok tamu penting dari Miami akan datang dan atasanku bilang kami harus pakai sesuatu yang mencolok. Menurutmu?”
“Jangan pakai celana,” celetukku.
Moca dan Rossy serempak melotot. Adrian tertawa kecil.
“Itu lucu, Nona. Sayangnya, aku sedang tidak ingin melucu. Jadi apa kau bisa langsung memberi saran? Aku ada rapat.


Aku terdiam. Betapa tidak pekanya.


“Ini gila,” desisku.
“Apa?” sahut Adrian.


“Kenapa kau tidak mencari ide sendiri? Memangnya orang sepentingmu sama sekali tidak punya orang untuk diajak berbagi saran?”
Adrian tahu ada yang salah tapi sama sekali tak mengerti situasi.
“Ada apa?” tanyanya salah tingkah. Adrian tak pernah terjebak dalam situasi seperti ini, terlebih ia terbiasa berada dalam posisi di atas angin.
Aku menelan ludah dengan susah payah. “Dengar, aku akan mengakhiri semua ini.


“Mengakhiri apa?” Adrian mulai bingung. “Aku tidak punya banyak waktu, rapat akan segera dimulai. Katakan apa maksudmu.”
“Rapat saja.”


“Aku tidak suka keadaan yang seperti ini. Jangan membuatku bingung.” Adrian menghela nafas. “Oke, apa kau sudah terpikir apa yang harus kupakai besok?”


“Ya,” sahutku enggan. Dalam hati aku merutuki betapa Adrian begitu tak peka dan hanya mementingkan urusan pribadinya.
 “Kalau aku bisa menebak hal mencolok apa yang kau pikirkan untukku dan memakainya besok, kau mau menjelaskan dan memaafkan apapun itu bentuk kesalahanku?”


“Apa?”
“Aku tidak percaya bisa melakukan hal ini.”
Begitu telpon diputus, aku melongo. Aku bahkan tak bisa merasakan jantungku sendiri. Moca menjentikkan jari di depan wajahku.


“Rii, kenapa kau bicara begitu?”


Aku memegangi kepala yang terasa akan menggelinding. “Kalian tahu, dia bilang akan menebak hal apa yang ada di dalam kepalaku.”


“Hal apa?”
“Dia meminta saranku tentang sesuatu mencolok yang sebaiknya digunakan untuk menyambut tamu dari Miami. Dan sebelum mematikan telpon dia bilang akan menebak hal mencolok apa yang terlintas di kepalaku, kalau tebakannya benar aku harus menceritakan semua.” Aku menggeleng putus asa. “Dia pasti sudah gila.”
“Kau yang sudah gila,” timpal Moca.
“Terserah. Dia toh nggak akan bisa menebaknya. Itu mustahil.” Kubenamkan kepala di belahan tangan dan bergumam. “Dia hanya mempertahankan egonya, dia tidak suka dikalahkan. Aku tahu itu.”
“Dan kau juga tahu harusnya kau nggak mengatakan itu.”


Apartemen - 23.00


“Apa sudah ada kabar dari Adrian? Bukankah harusnya dia memberi kabar kemarin?” Moca menguap, merangkak di atas kasur ke sebelahku yang memasang muka berlipat seribu. “Wajahmu seperti uang kertas lecek.”
“Dasar pembual,” makiku kesal.


Tepat saat aku hampir membanting ponsel dengan dramatis, benda hitam itu berdering. Moca terlonjak kaget dan langsung bangkit sementara aku termangu. Tanganku sedikit gemetar.
“Cepat lihat apa pesannya!” desak Moca. “Jantungku mau meledak!”
“Jantungku sudah menguap.” Kubuka pesan dari Adrian. Selama beberapa detik, aku dan Moca terdiam memandangi foto yang dikirim si manajer. Dalam foto itu terlihat Adrian sedang berangkulan dengan beberapa tamu Miami-nya.
“Astaga!” Moca menjerit.
Aku ternganga, kaget campur takjub. Foto itu terpampang besar di layar ponselnya. Tawa Moca yang tersembur kemudian membuatku mulai terkikik. Matanya perih oleh air mata saat pesan Adrian muncul di bagian bawah foto. 


Tema pesta: Jangan pakai celana. Wajib boxer merah.
Aku tahu sudah jatuh lagi ke perangkap Adrian saat aku mengangkat telpon dari pria semena-mena itu. Suara Adrian yang penuh kemenangan dan sedikit kikuk membuatku semakin bingung harus berbuat apa. Aku jelas sudah tak tahu lagi apa yang harus kulakukan pada perasaan ini.


Di layar ponselku masih terpampang jelas. Barisan para elit perusahaan, tertawa lebar tanpa celana mereka, berdiri tak tahu malu dengan boxer yang semuanya berwarna merah.
“Aku menang,” sahut Adrian.


Bersambung ke 7th Day…

P.S. Entah kenapa waktu menulis ini pikiran agak carut marut

No comments:

Post a Comment