Iya, Ayah. Iya.





"Ayah selalu ada disini. Untukmu. Menjagamu. Menjaga hatimu."

Iya, Ayah. Terima kasih untuk genggamanmu yang tak pernah lepas. Untuk setiap dorongan kecil di punggungku. Untuk setiap posesif berlebihanmu. Untuk setiap doa siang malammu. Untuk setiap tetesan keringat demi memenuhi semua pinta tak pentingku. Untuk setiap sabar menghadapi keras kepalaku. Gadis kecilmu.


"Jangan dulu punya kekasih, ya."

Ah, Ayah. Nggak adil memintaku mengabulkan yang satu itu. Aku ingin jatuh cinta seperti yang lain. Ingin merasakan kupu-kupu di perut, ingin berdebar, ingin bertengkar dengan logika. Ingin seperti mereka yang berbunga-bunga."


"Kalau begitu, jatuh cinta pada Ayah saja."

Duh, Ayah. Dimana letak serunya. Aku ingin dipeluk, dipakaikan jaket kebesaran saat hujan, diantar-jemput sehabis kencan, dihubungi tiap senggang. Aku ingin jalan-jalan berduaan, kehujanan, nonton film, makan di pinggir jalan. Aku ingin dibonceng di motornya lalu merasakan memeluk dari belakang. Aku ingin tertawa sembari terluka.


"Kamu harus berjanji, kamu akan bahagia."

Tentu saja, Ayah. Aku tahu cintaku sungguhan."


"Tapi dia, belum tentu sepakat dengan sungguhanmu."

Sudahlah, Ayah. Aku bosan. Aku sedang jatuh cinta.


"Hati-hati ya, Nak."

Kenapa harus hati-hati? Aku sedang jatuh cinta, bukannya mengemudi.


"...."

Ayah, kau dimana? Aku rindu. 


"Bagaimana dengan cintamu?"

Dia mematahkan hatiku, Ayah. Aku sudah nggak mengerti lagi.


"Satu-satunya yang harus kamu mengerti, Tuhan akan mempertemukanmu dengan pria yang akan menjagamu seperti Ayah. Ah, tidak. Kelak akan ada yang menjagamu lebih dari Ayah menjaga hatimu. Kelak akan ada yang menghargai hatimu seperti Ayah menghargainya. Kelak akan ada yang menggenggam tanganmu seperti Ayah menggenggamnya."

Sungguh?


"Sampai saat itu datang, kamu masih kekasih Ayah, ya."

Iya, Ayah. Iya.

No comments:

Post a Comment