"Adrian-Riifa"

Akhirnya! Seri "Adrian-Riifa" selesai juga. Jarak hari ke-10 terakhir ini lumayan jauh dari hari ke-9 karena banyak kegiatan. Lega akhirnya bisa menyelesaikan hutang cerita. Buat yang baru mengikuti, "Adrian-Riifa" ini sejenis cerpen yang dikemas dalam 10 hari pertemuan. Antara Riifa, cewek 23 tahun yang sering pusing dengan dirinya sendiri dengan Adrian, manajer muda 27 tahun yang perfeksionis dan super sibuk.

Ini link "Adrian-Riifa" dari pertemuan pertama:


Semoga "Adrian-Riifa" kelak masih akan bercerita banyak. Selamat membaca!

#10th Day - Kacamata

Kantor CNA - 20.09

Aku benci dibuat menunggu. Hanya perkara bicara, menunggu bisa semudah yang kau kira. Apalagi kalau dipaksa menunggu kabar dari seseorang yang begitu kau khawatirkan, yang seperti tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri terlebih kau yang mengkhawatirkannya. Aku khawatir berlebihan. Akhir-akhir ini aku banyak khawatir pada Adrian. Dia sedang banyak sekali rapat, semakin sering ke luar kota, semakin jarang mengabari via apapun. Kadang dalam sehari kami hanya bertukar suara sekali, alih-alih bertemu. Dan tepat hari ini, dua hari sudah pria yang sudah dua tahun kupacari itu menghilang di balik tumpukan pekerjaannya.

Kadang kupikir lebih baik punya pacar karyawan biasa yang pergi pukul tujuh pagi dan kembali pulang pukul empat sore. Yang tidak akan dihubungi kalau saham perusahaan turun, yang tidak akan jadi salah satu manusia yang harus memantau perkembangan anak perusahaan di luar negeri. Yang hanya punya satu alamat email untuk menampung notifikasi dari jejaring sosial, bukan tiga email sekaligus yang seluruhnya digunakan untuk bisnis dan wajib dicek setiap hari. 

Entah sudah berapa kali kupikir semua resiko ini, berkali-kali aku hanya diam dan merutuki diri.

Saat akhirnya ponsel yang selalu sibuk itu diangkat, air mataku terasa akan tumpah ruah. Perasaan yang sering kualami tapi tak kunjung kukuasai itu kembali menyergap. "Kamu masih rapat? Jangan lupa makan malam dan vitaminmu, Dri. Oh satu lagi, jangan lupa pulang."

"Astaga, Riifa. Ini kamu, kan?" tanya Adrian serak. "Benar-benar kamu."

"Tentu saja aku. Memangnya ada cewek lain yang biasanya mengingatkanmu makan?" tanyaku. "Jangan-jangan memang ada?"

"Mengurusimu saja aku masih harus bertengkar hebat dengan pekerjaan, apalagi punya selingkuhan. Aku butuh enam tangan dan enam otak untuk melakukan itu."

"Baguslah. Nggak menghubungi pacarmu selama dua hari itu bukti kalo kamu nggak punya enam tangan dan enam otak untuk selingkuh. Jadi, dimana sekarang pria tersibuk se-Bumi ini berada?"

"Masih di kantor. Aku ketiduran dan terbangun oleh panggilanmu," suaranya terdengar menjauh. "Dan rupanya di luar sudah gelap."

"Sekarang kamu harus pulang, Jagoan. Jangan mau dikalahkan pekerjaan, istirahatlah." Kutelan ludah saat sebenarnya ingin sekali merengek untuk bertemu. "Dah!"

"Hei, Rii, temani aku makan malam, yuk. Kujemput sekarang, ya!"

"Serius?"

"Serius. Aku mau makan nasi goreng di dekat rumahmu yang terkenal enak itu."

Dan segera saja aku mencari-cari kardigan tebal lalu menyemprot sedikit parfum. Adrian itu pria sibuk yang selalu diserempet jadwal, mudah baginya sampai di satu tempat hanya dalam beberapa menit. Saat kami akhirnya bertemu, aku gagal menahan diri untuk tidak menyambutnya dengan senyum tiga jari. Aku bahkan memeluknya erat sekali.

"Kalau kangen mestinya bilang," sindir Adrian.

Memangnya kapan aku tidak merindukanmu, Pangeran? Kapan aku tidak lelah menunggu hanya untuk mendengar suaramu? Kapan aku pernah sehari saja absen mencemaskan jadwal-jadwal yang mengeroyokmu? Kalau pikiranku adalah sekolah, kamu murid dengan tingkat bolos paling rendah.

I'll Love You


Semoga kita masih melangkah. Aku sedang bicara atas nama masa depan, atas nama manusia yang berdiri dengan kekuatan penuh sekaligus menyimpan rapuh. Aku sedang memerhatikanmu, perjalanan kita, langkah-langkah yang sedang dan sudah kita buat. Sudah banyak yang terhapus ombak, Sayang. Langkah kita terus memperbanyak dirinya, membuka jalan untuk lorong panjang di depan. Aku bertanya-tanya, apa kamu masih melangkah bersamaku, pun sebaliknya.

Tidakkah kamu ingin masa depanmu berisi aku? Tidakkah kamu ingin kelak yang menyambutmu adalah anak-anak yang memanggilku "Ibu"? Tidakkah kamu ingin kelak rumah minimalis berwarna abu-abu itu temboknya menggores cerita aku dan kamu? Tidakkah kamu ingin halaman rumah itu tidak melulu berisi batu-batu, tapi juga tertanam barisan bunga merah jambu? Tidakkah kamu ingin menjadi juri nomor satu setiap kali kusajikan masakanku?

Sayang, masa depan bukan milikku. Bukan milikmu. Takdir itu segaris dengan aku dan kamu, tegak lurus dengan Tuhan. Aku dan kamu, dalam perjalanan yang bahkan belum terjadi ini, marilah saling merapatkan janji. Menegakkan diri. Memantapkan langkah sendiri-sendiri. Untuk kemudian menjajal semua yang telah ditapaki, dalam waktu bernama nanti.

Jadi, bunga mawar itu disimpan untuk dijadikan cincin? Manis sekali, Sayang.

I Love You


Sekarang, kita sedang melangkah. Terlihatkah jalan lurus di depan itu, Sayang? Tidakkah sisi-sisi perjalanan kita begitu indah? Tidakkah tanah kita berpijak penuh bunyi gemerisik yang asyik? Bayangkan. Kamu dan aku, hanya berdua, tanpa iring-iring masalah dunia. Bergandengan di bawah payung mapel merah keemasan yang megah, dijatuhi sinar matahari yang ruah. Hanya tawamu dan suara sepatu yang menginjak daun mapel kering satu-satu. Aku tidak akan tertawa, Sayang. Aku hanya akan memandang, mengingat tiap detil, kemudian membekukannya dalam ingatan. 

Saat ini kita sedang menguatkan langkah. Ancang-ancangmu belum goyah, tapi jelas mulai payah. Aku pun begitu. Sulit berdiri membangun fondasi, sulit melangkah tanpa pernah benar-benar tidak menoleh. Hanya masalah kecil, Sayang. Kuyakinkan kau itu hanya masalah kecil. Kelak akan ada yang lebih besar, menghantam dan membuat tulang-tulangmu patah, sendiku luluh lantak. Tapi, sudah kuterbangkan janji setinggi surga pada Tuhan, untuk menurunkan yang lebih baik seandainya kakiku tak lagi mampu mengikuti langkahmu. Dan aku mungkin masih akan memandangimu.

Omong-omong, seikat mawar itu belum juga datang. 

I've Loved You


Bisakah kamu mencium wanginya? Tidakkah bunga itu segar, Sayang? Tapi, tak terjangkau. Aku hanya bisa menatap sembari membayangkan aromanya. Kenapa kamu, sekali saja, tidak terpikir memberikannya padaku? Tidakkah kamu pernah memikirkan untuk menghadiahkannya padaku? Oh, alasan itu. Aku tidak suka pria romantis. Hei, aku wanita, Sayang. Aku dilahirkan dan ditakdirkan untuk menyukai hal-hal sederhana yang manis, termasuk rangkaian bunga. Aku bisa kok, membelinya sendiri. Tapi menerimanya dari tanganmu, merasakan bekas genggaman hangat di pegangannya, lalu menyesap baunya di hadapanmu. Tidakkah kamu pernah membayangkan seperti apa rona bahagiaku? Tidakkah kamu bahagia melihatku dibahagiakan olehmu?

Beri aku seikat bunga cantik itu. Sesekali saja. Kalau tidak, kupaksa kamu melihat taman bunga di halaman belakang rumah kita nanti. Ah, "rumah kita nanti". Frase yang jejaknya sejelas tapak-tapak kaki di bibir pantai. Yang juga mudah menghilang termakan ombak. 

Jadi, jangan berhenti, Sayang. Kita harus terus melangkah. Menghentikan ombak menghapus langkah, jelas mustahil. Untuk itulah kita harus terus menciptakan langkah baru. Kalau kamu lelah, aku akan melangkah untukmu, pun sebaliknya. Kalau kita berdua sama-sama lelah, kuminta Tuhan mengganti kaki-kaki ini dengan yang lebih baik agar lebih bisa mengimbangi langkahmu, pun sebaliknya. 

Tapi sebelum melangkah, jangan lupa seikat bunga mawar itu.

Germany - Euro 2012



Hola hola Jerman!

Menyambut euforia Euro (yang terlambat) yang sedang berlangsung, aku atas nama Jerman dan kesebelasannya, mengucapkan selamat mendukung negara favorit masing-masing! Selamat bergelinjangan dan berteriak bak orang gila! Selamat pasang taruhan, semoga kalah, semoga cepat bertobat! Salam sungkem dari manusia yang hampir setiap hari membaca keluhan karena timnya kalah.

Dan, disinilah aku berada. Kembali mendukung Jerman untuk yang kesekian kali, ikut jantungan selama pertandingan, dan semakin menikmati begadang tiap Jerman berjuang. Jadi pendukung Jerman dari zaman Piala Dunia 2002 itu banyak suka dukanya. Salah satu duka paling dalam itu, saking cintanya ke Jerman, tiap kali Jerman kalah dalam perhelatan apapun, sesaknya sampai ke tulang rusuk. Kejadian paling parah waktu Piala Dunia 2010, Jerman lawan Spanyol di final. Itu pertandingan super krusial. Selain karena pertandingan itu penentu kemenangan, kabarnya itu pertandingan terakhir Miroslav Klose di ajang Piala Dunia. Dan pria bernomor punggung 11 itulah yang menyeretku untuk pertama kali senang Jerman. Dimulai dari Klose, merembet ke negara, kemudian cinta klub-klub bolanya, terutama Bayern Munchen. Klose pingin di pertandingan itu dia mencetak gol; selain supaya negaranya menang juga untuk memecahkan rekor pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. Alih-alih menang dan Klose memecahkan rekor, Jerman malah kalah 1 - 0 dari Spanyol. Nggak ada satupun gol tercipta, Jerman malah kelihatan keteteran. 

Rasanya? Pahit. Keparat luar biasa. Sedihnya sampai ke ubun-ubun, sampai menangis di balik bantal. Nggak nafsu makan selama seminggu lebih dan tiap memikirkan Jerman, bawaannya pingin menjungkirbalikkan meja, pingin peluk Klose terus diajak liburan ke Pulau Bora-Bora. Klose itu lebih dari sekedar kesayangan, lebih dari sekedar pemain favorit. Sayang nasib sedang nggak berpihak padanya di momen sempurna itu.

Untungnya, aku sudah lama sekali bangkit dari kejadian tersungkur dua tahun lalu itu. Dan sekarang, siap mendukung Jerman lagi dengan semangat lebih baru. Euro memang bukan ajang seraksasa Piala Dunia, tapi Euro tetap ajang raksasa yang mendunia. Di pertandingan terakhir lawan Yunani, Jerman berhasil menang 4 -2 dengan permainan yang keren dan bikin geregetan. Awalnya ketar-ketir begitu tahu Gomez dan Muller nggak diturunkan, melihat betapa pentingnya mereka untuk bagian menyerang Jerman. Tapi, Klose tercinta diturunkan. Pengalamannya dianggap bakal lebih dibutuhkan dalam pertandingan kali ini. Dan lagi, memang sudah skema kalau Klose masuk maka Gomez keluar, begitupun sebaliknya. Sepanjang pertandingan itu kerjanya komat-kamit berdoa semoga Gomez cepat diturunkan. Di luar cinta dan bahagia melihat Klose salto di lapangan, Gomez memang lebih gesit. Belum lagi, dia sudah mencetak tiga gol di beberapa pertandingan Jerman sebelumnya. Ketakutan kalau Jerman bakal kalah jelas sudah menggerus keinginan melihat Klose lebih lama.

Untungnya, para dewa-dewi Yunani sedang nggak ingin melakukan 'sesuatu' pada tim mereka. Sekalipun mereka sempat mencetak 2 gol, satu diantaranya lewat penalti, Jerman tetap menang dengan 4 gol yang dicetak oleh 4 pemain berbeda. Gol pertama dicetak oleh sang Kapten, Lahm. Gol kedua oleh Khedira, disusul gol Klose tercinta, lalu gol terakhir ditutup oleh Reus. Pertandingan luar biasa dan aku nyengir kuda.

Sekalipun sepanjang pertandingan pingin Gomez masuk karena kangen mukanya, semua pemain Jerman yang semangatnya menggebu-gebu langsung mengalihkan suasana. Waktu-akhirnya-Gomez masuk dan hati langsung berbunga-bunga, dia sudah nggak pengaruh banyak buat Jerman. Sepanjang sepak terjang Jerman di Euro 2012, mungkin ini salah satu pertandingan yang bakal dikenang sepanjang masa. Mereka keren luar biasa!

Klose, mari semangat menjelang masa pensiun. Gomez, mari berpelukan.

Jerman, perjalanan dan perjuangan masih panjang. Mari berjalan, mari berjuang!
( 'O')9

Miroslav Klose


Mario Gomez
 

Bahagia

Percayakah kamu dengan frase: "Bahagia itu sederhana"?

Dulu sekali, kupikir bahagia harus melulu mengenai semua yang kusukai. Hal-hal yang membuat senyum terkembang dan senyum tergulung senang. Kalau meleset dari ancang-ancang, bahagia bukan lagi bahagia. Sulit memercayai kalau bahagia berwujud sederhana.
  
Yang namanya bahagia, ya harus diusahakan dengan susah payah. Kalau bahagia itu sederhana, kenapa sulit sekali dirasakan?

Tidak sulit ditemukan ternyata. Bahagia ada dimana-mana. Hanya bentuknya yang berbeda. Hanya butuh kita yang lebih peka, lebih perasa dengan suguhan dunia. Kalau dulu kupikir bahagia hanya sebatas cita-cita dan harapan, sekarang secangkir kopi di sore hari saja sudah jadi bentuk bahagia. Memegang dan mencium pipi adik bungsu, mendengarkan musik seenaknya, atau bahkan hanya melamun di penghujung senja.

Bahagia. Jelas-jelas sederhana. Jelas-jelas sebuah pilihan.

Lagu Lagu Lagu

Halo!

Rasanya asyik kalau sekarang membahas lagu. Aku punya beberapa band favorit yang lagunya sering kudengarkan: Coldplay, Maroon 5, Backstreet Boys, Jonas Brothers, L'arc en Ciel. Aku juga suka Lady Gaga dan yang tercinta, Matthew Morrison. Dan dengan bangga aku nyatakan saat ini sedang menggilai semua lagu Big Bang. Menurutku, mereka salah satu boyband Korea yang aliran musiknya keren dan berbeda. Dan aku suka semua anggotanya-ehem-terutama TOP. Hahaha. Rata-rata lagu mereka langsung jadi favorit di kali pertama didengarkan. Musik mereka beraliran Hip Hop R&B. Yah, semacam itu kalau nggak salah. Mereka keren. Lagu, penampilan, dan semua video klip dahsyat itu juga keren.

Semoga Tuhan melindungi hati para VIP yang nggak bisa datang ke konser mereka Oktober ini. Semoga Tuhan segera memberi kepastian di hati para VIP yang masih bingung mau datang atau nggak, termasuk aku.

Aku nggak akan membahas Big Bang dengan lengkap disini. Selain karena ini bukan blog K-POP dan sejenisnya, aku juga bukan VIP lama yang tahu mereka sampai mendarahdaging. Jadi, marilah kita membahas yang lebih umum seperti lagu kesukaan.

Biasanya bagian pertama yang bikin jatuh cinta sama satu lagu itu lirik. Nggak perlu musik yang ribet dan rumit, kalau liriknya pas, lagu itu positif jadi favorit. Ini yang terjadi dengan lagu Maroon 5 yang baru: "Payphone". Nggak ada iring-iringan musik atau intro alat musik seperti lagu kebanyakan, hanya suara Adam Levine yang menyambut di awal lagu. Dan dengan satu paragraf itu, "Payphone" sukses bikin daku jatuh cinta, sama seperti kasus "Stereo Hearts" dulu.

Saat ini, most played lagu sedang dipenuhi lagu Big Bang. Ini dia 20 daftar lagu yang sekarang jadi most played di ponsel.

1. Blue - Big Bang
2. Fantastic Baby - Big Bang
3. Payphone - Maroon 5 ft. Wiz Khalifa
4. Tonight - Big Bang
5. The One That Got Away - Katy Perry
6. Nothing's Gonne Change My Love For You - Westlife
7. Love Song - Big Bang
8. Bad Boy - Big Bang
9. Heavy Rotation - JKT48
10. My Life Would Suck Without You - Kelly Clarkson
11. This I Promise You - N'Sync
12. Misery - Maroon 5
13. My Name - Matthew Morrison
14. Right Here, With You - David Cook
15. Monster - Big Bang
16. You Belong With Me - Taylor Swift
17. Makes Me Wonder - Maroon 5
18. Burning Up - Jonas Brothers
19. One Thing - One Direction
20. Still Alive - Big Bang

Sekelumit, Sedikit

Kalau punya sedikit saja kekuatan untuk sekedar menggerakan tangan, kenapa harus berteriak minta pertolongan? Kenapa mendadak seperti hilang pegangan, padahal masih sanggup menangis dalam sedan.

Menangis pun butuh tenaga, kan. 

Jadi, selagi buliran air hangat itu keluar dari jurang pelupuk mata, kekuatan segumpalan tangan membeku di bagian hati terdalam. Membuang beban.


"Apapun yang sekarang sedang menimpamu, jaga dagumu agar tetap tegak. Jangan biarkan punggungmu membungkuk hanya karena kau merasa kalah." -Darnell kepada Hazel.