Aku Ingin Jadi Laut

Pernah suatu hari, aku ingin sekali jadi pelabuhan.

Tempat kapal-kapal bersandar, tempat mereka menepi saat telah lelah. Tempat yang dituju pun diharap setelah terombang-ambing di laut. Pernah kulihat banyak orang lalu lalang di pelabuhan. Ada yang baru saja ingin mengarungi laut, ada yang sedang tak sabar serta rindu daratan, ada yang hanya duduk di tepian entah menatap apa. Pelabuhan... tempat teraman mereka, tempat teramanmu. Ingin jadi pelabuhan yang kokoh agar kamu tahu kemana harus melepas segala keluh kesah. Agar kamu tahu bahwa aku selalu ada di sana, menanti datang dan pulangmu.

Tapi pelabuhan, tak sekokoh karang. Pelabuhan, manusia yang ciptakan.

Bayang besarku tentang pelabuhan mendadak pupus. Ah, aku ingin jadi laut saja.

Laut, tempat yang telah ada bahkan sebelum kita tercipta. Laut, tempat segala air di bumi bermuara. Laut, yang luasnya bisa kamu ukur dengan teknologi atau cukup lihat di peta, tapi tak pernah akan benar-benar kamu jamah seluruh kerasnya. Laut, tempat nenek moyangmu dulu berpetualang dengan bangganya. Laut, tempat yang dasarnya menyimpan indah tak terkira.

Laut, yang tak pernah kehilangan asinnya meski terus dijatuhi hujan.

Aku ingin jadi laut yang telah ada sebelum kamu ada. Aku yang ada karena tahu kamu akan tercipta. Aku yang telah lebih dulu meluaskan diriku sendiri agar di manapun kamu terjatuh, tempat berakhirmu masihlah aku juga. Karena sungguh, kupikir hujan tak takut jatuh karena tahu laut akan selalu ada untuk menangkapnya. Aku ingin jadi lautmu, jadi sekuat-kuatnya tempat untukmu datang dan pulang. Jangan khawatir, kamu aman bersama lautmu kini. 

Jadilah hujan saja, maka aku akan jadi laut untukmu saja.

Benang Merah


"Pertemuan kita bukanlah kebetulan."

Siapa dari kita yang percaya kebetulan? Mungkin kau percaya, mungkin bahkan banyak orang yang meyakininya. Bahwa kebetulan sungguhan ada, bahwa ada hal-hal kecil yang terjadi untuk memicu hal-hal besar. Seperti percik api yang memancing kebakaran, seperti harapan yang meminta kepastian. Ada awal dan akhir, dan kebetulan jadi alasan dari banyak cerita berawal.

Tapi aku, tak suka menyebut pertemuan kita kebetulan. Aku, salah satu yang meyakini, bahwa semua yang terjadi tak lepas dari sepengetahuan Tuhan. Tak lepas dari pengawasanNya, tak lepas dari benang-benang merah tak kasat mata yang tanpa kita tahu, terikat di kelingking kita. Benang merah yang awalnya masih sangat panjang, longgar, karena kita sama sekali belum terikat. Benang merah yang kemudian semakin memendek karena jarak kita yang juga berkurang. Karena aku datang. Mendekatimu, memperpendek jarak, hingga benang merah tak kasat mata kita semakin sakit terasa. Semakin ingin mendekatkan diri, semakin ingin bertemu simpulnya.

"Kita sudah dekat. Ayo, temukan aku."

Kalau tiap simpul bisa bicara, mungkin itulah mantra mereka. Detik, menit, hari, menjadi tahun. Mereka melakukan segala upaya agar akhirnya bisa saling menggenggam, tanpa kita tahu. Mereka, simpul di jariku dan jarimu, sampai meminta tolong pada hujan dan senja, pada cerita-cerita tak usai, pada hati yang butuh didengarkan. Dan entah bagaimana, mereka berhasil.

Kita bertemu. Mereka bertemu. Lalu, kita jatuh sayang dengan begitu saja. Aku dan kau yang sama-sama terkejut pada jalan cerita, akhirnya saling menemukan. Di detik saat kita memutuskan untuk selalu berjalan bersama, ke masa depan, di detik itulah aku tahu bahwa selamanya bahkan tak cukup untuk kita. Aku dan kau butuh lebih dari selamanya untuk bersama.

Kalau dipikir-pikir, lelah sekali perjalanan yang harus ditempuh menujumu. Jauh. Tapi setimpal. Bertemu denganmu adalah salah satu yang paling ingin kusyukuri, salah satu yang paling tak ingin kuingkari.

Mari saling menjaga hingga tua. Aku punya banyak stok bahagia untuk dihabiskan bersama. Benang-benang merah kita kini telah membentuk simpul yang sama, manalah aku tega melepasnya. 

Percayakah kau pada kebetulan? Aku tidak.

Karena kau bukan kebetulan. Kau kejutan.

"Tenang, aku di sini. Slama kau di sisi, aku berjanji. Tak kemana-mana.."

Aku Memaafkanmu



"Memang kapan aku pernah membayangkan kalau kelak kita ternyata tak sejalan?"

Coba kamu ingat-ingat lagi, semua obrolan kita di penghujung hari. Aku menanti. Selalu menunggu saat tubuh telah rebah, lelah, tapi masih juga ingin tahu kabarmu. Selalu tak sabar menunggu balasan yang kemudian berlanjut hingga larut, hingga mata terasa begitu berat, tapi masih juga tak ingin mengakhiri. Cerita yang itu-itu saja, topik yang itu-itu saja, tapi sungguh aku tak pernah bosan dibuatnya. Apalagi kalau bukan karena cinta.

Coba kamu ingat-ingat lagi, semua upayaku membuatmu tertawa saat itu. Aku berusaha. Agar kamu tak jenuh mendengar suaraku, agar kamu tak tertidur sementara aku masih ingin mendengar suaramu. Saat kita berbagi tawa, diam-diam aku percaya kalau akhir dari semua hanya bahagia. 

Coba kamu ingat-ingat lagi, semua pesan yang membatasi jarak dan aku masih tertuju kepadamu saja, karena percaya. Masih menginginkanmu saja, tak ingin membayangkan dengan sesiapa. Apa gunanya berdua kalau di sisiku bukan kamu. 

Aku, tak pernah sekalipun, berpikir kalau kelak tiba saatnya harus memaafkan.

Memaafkanmu, karena memutuskan menjadi milik orang lain. Memaafkanmu, karena membuatku kecewa hingga hatiku sempat tak merasa apa-apa. Memaafkanmu, karena tak ingin melepasku namun tak juga jadi milikku. Memaafkanmu, karena mengkhianati apa-apa yang kuperjuangkan sedari dulu. Memaafkanmu, karena tak mengamini doa-doaku.

Aku memaafkanmu. 

Semata karena tak ingin menyimpanmu lebih lama, karena tak ingin terus menyiksa diri.

Cerita-Cerita Pilihan

Halo, para pembaca! ^^

Blog ini punya beberapa seri cerita dengan tokoh yang sama. Saya mendapat beberapa pembaca setia dari seri-seri cerita ini. Kebanyakan dari mereka jatuh cinta dengan tokoh dan jalan ceritanya yang kemudian membuat saya jadi semangat untuk melanjutkan cerita atau membuat cerita baru dengan tokoh yang sama. Ini link beberapa seri cerita favorit yang bisa kalian intip:

Seri 'Adrian-Riifa' 
Tokoh: Riifa, 23 tahun, editor majalah.
            Adrian, 27 tahun, manajer umum CNA.
#1st Day - Pertemuan

Seri 'Celemek Merah Muda'
Tokoh: Zachary, lulusan universitas luar negeri.
            Asca, guru TK bercelemek merah muda.
Celemek Merah Muda 1


Seri 'Pria Abu-Abu'
Tokoh: Biru, pria berbola mata abu-abu.
            Alegra, gadis pengagum punggung Biru.
Pria Abu-Abu


Terima kasih atas apresiasi hebat kalian selama ini. Selamat membaca! Ditunggu komentarnya! ^^
            

Kamu, Sampai Jumpa Lagi, Ya!

Ah, perasaan tak nyaman ini datang lagi.

Suara penggorengan berisi nasi goreng, kendaraan yang lalu lalang, dan obrolan orang-orang. Suasana yang sama sekali tak mendukung untuk berduaan, tapi aku masih dapat memandangi lelakiku dengan khusyuk dan hanya mendengar suaranya saja. Dia suka sekali nasi goreng kambing, jadilah cerita kami terhenti tiap kali dia mengunyah. Sesekali dia mengangkat kepalanya dari piring lalu tersenyum padaku, meminta kekasihnya maklum. Aku yang biasanya balik tersenyum, kali ini malah lebih ingin memalingkan wajah. Ada raut yang ingin kusembunyikan, melihat wajahnya sekarang hanya membuat perasaanku makin runyam saja.

"Pulang, yuk," katanya setelah membayar makanan. Aku mengikutinya menuju parkiran motor yang agak jauh. Tangan kami saling menggenggam, tapi yang kulakukan hanya terus menunduk menatap jalan. Gelap. Hitam. Betapa aku ingin sekali mendadak melebur jadi aspal.

Aku menolak dipasangkan helm olehnya. Tapi, dia tak peduli.

"Kamu kenapa, sih? Biasanya juga aku yang pasang," katanya sambil menjawil hidungku.

Di atas motor, perasaanku makin berantakan.

"Besok mau ikut mengantarku ke stasiun?" tanyanya.

Aku hanya mengangguk. Stasiun. Besok, lelaki yang sedang kupeluk ini akan pergi. Sekali lagi, meninggalkanku dan kota ini. Aku, lagi-lagi, akan menangis dan sengsegukan seorang diri. Tak juga terbiasa akan perpisahan yang pasti terjadi. Lelakiku asyik bercerita sementara aku menatap lampu-lampu jalan dengan hampa.

Butuh berapa lama lagi hingga aku bisa mendekap punggungnya seperti ini? Harus menelan rindu sebanyak apa lagi hingga akhirnya aku bisa menghirup parfumnya yang samar terbawa angin? Berapa ratus hari lagi yang harus kulewati dengan menghitung kepulangannya, hanya untuk kemudian melepasnya, di tempat yang sama sambil berair mata?

Pundakku mulai bergetar. 

Wahai Tuhan sang pemilik waktu, aku tak ingin cepat-cepat besok. Wahai Tuhan sang pemilik jarak, aku tak ingin lagi terpisah tempat. Rasanya lelah terus menerus menarik napas dalam-dalam saat tak bisa memeluk lelaki ini dengan leluasa. Rengekanku tak sekadar ingin nonton berdua atau makan bersama seperti pasangan selayaknya, aku hanya ingin lelaki ini selalu berada di sisi. 

"Bersabarlah sebentar lagi, ya. Bersabarlah sekali lagi."

Dia meraih tanganku, diletakannya di perut bersama dengan tangannya yang hangat. Aku mengamini kata-katanya, berusaha menjejalkannya di kepala. Tak sesiapa, tak juga kita, paham bahwa perpisahan akan selalu perkara rela. 

Malam ini, kami bersama. Malam esok, sudah berbeda kota. Ritual mengabari tiap malam akan dimulai lagi, percakapan kecil dengan muka mengantuk di awal hari. Harus puas dengan suara, harus kembali bergulat dengan khawatir, harus menerbangkan banyak doa lagi.

Kemudian sekali lagi, kami menyanyikan lagu wajib tiap kali selesai bertukar kabar.

"Aku di sini dan kau di sana, hanya berjumpa via suara, namun ku s'lalu menunggu saat kita akan berjumpa. Meski kau kini jauh di sana, kita memandang langit yang sama. Jauh di mata namun dekat di hati..."

Kepada angin yang menerbangkan air mata, aku ingin sekali lagi menitip doa. Jagalah lelaki ini, buat dia tersenyum saat harinya sedang sulit. Jangan biarkan dia kesepian saat tak ada seorang pun yang dapat dia andalkan. Aku ingin dia baik-baik saja hingga kami bertemu lagi.

"Aku benci stasiun," gumamku. 

"Aku pun," gumamnya. Kemudian kami tertawa.

Berkali-kali dipisahkan keadaan, kami masih saja bersama. 

Anggap aku sok tahu, tapi sungguh, inilah yang orang sebut cinta.


Tuan, Aku Ingin Bertanya


photo from artwallpaperhi.com



Tuan, sekali saja, izinkan aku bertanya
Apa kini kau sedang membunuhku perlahan?

Karena akhir-akhir ini, hatiku makin terasa hampa
Seakan sedikit demi sedikit kau keluar dari sana
Tak serta merta, namun perihnya terasa
Apa kini kau sedang meninggalkanku?

Tuan, sekali saja, jawablah semua tanda tanya
Apa kau sudah tak menginginkanku lagi di masa depan?

Karena akhir-akhir ini, jiwaku makin terasa kesepian
Kau seakan tak pernah benar-benar berada di sana
Pundakku kini sering menggigil
Tak kuat menahan desakan air mata
Karena kau makin terasa tak tergapai

Tuan, sekali saja, mintalah sesuatu pada semesta
Apa benar kalau selama ini hanya aku saja yang berjuang?

Karena sungguh, kakiku-kakiku makin lelah
Kupikir karena kita telah jauh melangkah
Tapi ternyata, selama ini aku berjalan seorang diri
Kau, entah sejak kapan, terasa memisahkan diri

Tuan, tak pernahkah kau berdoa untuk kita?
Untuk semua suka duka dan fajar senja
Untuk semua cerita yang disaksikan oleh kita saja

Tuan, hatiku kini berantakan
Langkahku terasa berat tapi aku bahkan sulit melihat
Jalan ke depan gelap karena kau menolak menerangi
Jejak-jejakku merindukan jejak-jejakmu
Ruas-ruas jemariku merindukan ruas-ruas jemarimu



Tuan, apa seperti ini rasanya perpisahan?


Aku (Membuang) Masa Lalumu

(Seri Rama & Lana)


“Oke. Laporan keuangan ini kacau.”

Lana mengamati langit-langit kamarnya yang kecoklatan. Ada dua ekor cicak di sana. Entah sedang mencoba berteman atau memikirkan menu makan siang. Atau mungkin tak setenang yang terlihat, mereka sedang mengambil ancang-ancang untuk saling menyerang. Seperti air. Seperti manusia. Kau tak bisa menilai interaksi yang terjadi hanya lewat mata. Rasanya akhir-akhir ini manusia kehilangan naluri untuk saling membaca lewat mata, pikirnya.

Sembari menunggu kiriman laporan keuangan perusahaan yang baru, dia mengecek beberapa surel yang masuk. Tujuh dari kantor dan satu dari kekasihnya. Pesan dari kantor rata-rata berisi keputusasaan dari beberapa rekan kantornya yang butuh bantuan dan memintanya segera kembali ke kantor plus ucapan cepat sembuh yang terasa mendesak bahkan hanya lewat ketikan. Lana tertawa, setengah meringis saat luka bekas operasi di perutnya terasa perih.

“Tumornya sudah diangkat. Semoga kau cepat pulih.”

Tidak, dokter, aku tak ingin pulih dengan cepat, katanya saat itu. Dokter yang menanganinya hanya tertawa, menanggapi lelucon yang padahal sungguhan. Lana, si gadis super sibuk yang terkenal gila kerja, menginginkan istirahat panjang untuk dirinya. Untuk pikiran yang kerjanya bahkan lebih payah dari badan. Istirahat dari apa tepatnya, dia sendiri tak yakin. Seluruh partikel yang ada di tubuhnya, sel terkecil sekalipun, menuntut jeda yang tak sebentar.

Rama, kekasihnya, masuk ke kamar di saat yang begitu tepat.

“Apa yang kuinginkan?” tanyanya lemah.

“Aku baru saja mengecup keningmu. Jadi, apa yang kauinginkan? Aku mengecup pipimu? Oh, apa boleh aku mengecup yang di bawah hidung?” canda Rama.

“Aku… tak merasa hidup.”

Rama tercenung. Pertanyaan dan pernyataan itu serius rupanya.

“Boleh aku menebak apa yang mungkin kauinginkan?”

Lana mengangguk. Rama mulai menyebutkan semua kemungkinan yang diinginkan kekasihnya. Mulai dari hal konyol seperti sepatu atau tas sampai uang pensiun yang cukup untuk membeli sebuah apartemen di Manhattan. Bertemu Bradley Cooper, keliling New Zealand seorang diri, hingga selfie bersama Pangeran Harry. Semua. Dan tak satupun yang membuat puas Lana. Gadis itu hanya merengut dengan alisnya yang bertaut.

Rama mencoba usaha terakhirnya. “Aku?”

Ekspresi Lana masih sama. Menatap hampa mata Rama, yang kini semakin bingung dibuatnya. Rama baru saja akan menyuruhnya istirahat saat tiba-tiba Lana meledak dalam tangis yang keras. Kekasihnya menangis begitu saja, dengan suara yang sama sekali tak ditahan. 

Seperti raungan anak kecil yang tak dibelikan gulali oleh ayahnya.

Rama terdiam. Ini pertama kalinya Lana menangis seperti bayi yang sedang tumbuh gigi sejak setahun mereka bersama. Rama meraih bahu Lana lalu menimang-nimang kepala kekasihnya di dada. Bahkan dari balik kemeja Rama yang mulai basah, suara raungan Lana masih terdengar dengan jelas. 

“Ada apa?” ibu Lana masuk, menatap mereka berdua.

Rama mengangkat bahu. “Andai aku tahu.”

Teman Pengisi Senja

Aku suka sekali berada di sini. Tidak, bukan tempatnya. Tapi momennya. Dan seseorang di dalamnya. Bersama hal-hal kecil pelengkapnya. Dia, wanita yang sedang duduk mengantuk itu seseorangnya, sore ini momennya, dan dua cangkir kopi adalah pelengkapnya.

Aku? Aku hanya satu dari sekian di hidupnya.

"Kopiku sore ini pahit sekali," celetuknya.

"Oh ya? Maaf, mungkin aku lupa menambahkan gula," kutarik cangkir miliknya.

"Jangan," dia menggeleng. "Aku perlu merasakan yang pahit sesekali."

"Seperti hidup?"

"Seperti cinta."

"Apa yang pahit dari kisahmu?" tanyaku miris. Katakan padaku, apa yang merisaukanmu hingga kisah cinta yang tak pernah kutahu itu kamu sebut pahit? Bukankah yang mencicipi bagian terpahit justru aku, manusia yang diam-diam mencintaimu?

"Berharap pada yang tak pernah sadar."

Aku berhenti menyesap kopi.

"Aku berharap pada seseorang yang tak pernah sadar kalau dia jadi tumpuan bahagiaku. Aku berharap pada seseorang yang sepertinya tak pernah ingin jadi bagian dari hidupku."

Ah, jadi itu kisahmu. Kenapa malah lebih mirip kisahku.

"Kenapa senja selalu berwarna merah?" tanyanya.

"Mungkin itu semburat doa-doa."

"Oh ya? Kamu sering berdoa saat senja?"

"Selalu. Senja itu pengirim doa paling sendu."

"Maukah kamu mendoakanku agar bahagia?"

"... bersamanya?"

Kamu mengangguk. Aku hanya diam.

Tentu saja tak bisa. Doa kita bersebrangan. Aku ingin kamu bahagia tapi bukan bersamanya.

Kami kemudian sama-sama menyesap kopi. Senja tak pernah terasa sepilu ini. Gurat-gurat merah yang selama ini kunikmati perlahan mulai menyakiti. Rasanya ingin kopiku lebih pahit lagi agar mati rasa sekalian pikiran ini.

"Rasanya sakit sekali, ya."

"Mencintai diam-diam? Tidak juga."

"Tak ada bagian indah dari mencintai yang tak peka."

"Ada, kok. Sekalipun kadang pahit, bahkan kadang rasanya ingin jadi orang lain saja. Tapi aku memilih bertahan dalam diam, tetap jatuh cinta dan berdiri di tempat yang sama. Menunggu orang yang sama. Aku tak menunggunya peka, hanya saja, aku tak punya lagi alasan untuk berbahagia selain dia. Dan lucunya, aku bahagia."

"Senang sekali," dia tersenyum sedih. "Aku malah berduka."

"Jangan terus berduka. Kasihan seseorang yang menjadikanmu alasannya berbahagia."

"Tak bisa. Aku hanya ingin berbahagia untuknya."

Kutarik napas dalam-dalam. Sepertinya perjalanan ini masih panjang. Adegan penantianku masih belum terlihat ujungnya, adegan keras kepala dia juga tak tahu kapan berakhirnya. Aku bisa apa selain menikmati adegan saat ini, meski yang itu-itu saja. Meski tak jadi pemeran utama. Hanya teman pengisi senja. Tapi tak apa, yang penting aku berada di sisinya.

Bagaimana akhirnya, kelak yang tahu hanya senja dan ampas kopi saja.

Untuk Kau Saja

Lagi-lagi.

Dia terduduk sendiri. Tak perlu ditanya sedang apa, sudah pasti dia sedang menunggumu. Kehadiran atau kenanganmu, entah mana yang lebih menggebu dalam hatinya, semesta bahkan tak tahu. Mungkin saja dia sedang mengingat percakapan kecil kalian dulu, saat sekadar mengingatkan makan saja bisa membuat sebahagia itu. Mungkin saja dia sedang mengingat kebersamaan kalian dulu, saat lima menit saja bisa membuat dia tersenyum tak tentu.

Yang semesta tahu, dia merindukanmu.

Dia ingin cerita kalian tak berakhir begitu saja. Atau tak usah ada cerita sekalian kalau akhirnya harus berairmata. Dia ingin hadirmu saja. Sekarang, detik ini, di sisinya saja. Tak perlu bicara apa-apa, tak perlu memaksakan basa-basi kata. Cukup berada di sebelahnya saja. 

Rindu yang ada di hatinya, sudah sebegitunya.

Hingga dia tak tahu harus berbuat apa. Hingga logikanya buta.

Kalau semesta menawarinya kesempatan hidup kedua, dia masih ingin jadi milikmu. Atau setidaknya, pernah dimilikimu. Memang belum sembuh semua luka, tapi apalah luka kalau dia bahkan kini sekarat karena kau tinggalkan. Luka-luka yang kau ciptakan, tak cukup membuatnya jengah lalu ingin melupakan. Entahlah, semesta juga tak lagi paham.

Dia ingin kau kembali, tapi apa nanti kata nurani.

Jadi, dia kini hanya ingin kau ada. Tak perlu jadi miliknya. 

Karena kau tahu, ada cinta-cinta yang tak kenal luka yang menganga. Ada cinta yang saking besarnya, bisa menyebrangkan doa hingga nirwana. Ada cinta yang bahkan semesta saja tak mengerti jalan kerjanya.  Ada cinta yang meski telah babak belur, masih menginginkan satu orang saja.

Ada cinta di hatinya, untuk kau saja.

Aku (Akhirnya) Bertemu Cinta

Disinilah aku berada. Di dunia sesungguhnya, tempat dimana yang hidup akan bermuara. Lucunya, aku tak bisa menemui satu pun orang yang kukenal disini. Mungkin lebih baik langsung kuminta  agar dipertemukan dengan yang kukenal saja. Keluarga di dunia, teman-teman, aku mau mereka semua. Tapi tunggu, aku bisa jalan-jalan sendiri dulu. 

Kemudian, aku melihat dia.

Pria yang hadirnya terasa familiar, tapi tak bisa kuingat dengan jelas namanya. Dia sedang duduk bersama beberapa anak kecil, pemandangan yang juga familiar, tapi ingatan burukku tak dapat mengingat lebih baik. Sampai akhirnya dia melihat ke arahku.

Mata kecilnya membesar. Lalu dia menyebut namaku.

Aku terkesiap. Wah, dia kenal aku rupanya.

"Aku satu klub denganmu. Si cowok yang suka datang terlambat. Ingat?"

"Ah! Kamu pernah membantuku membuat tugas presentasi!"

"Dan tugas makalah,"

"Oh iya, itu juga," aku tertunduk malu. Dia banyak membantuku tapi mengingat namanya saja aku tak mampu. Dasar wanita dungu.

"Oh ya, terima kasih sudah melayatku."

"Kamu dan rombonganmu pantas dapat penghormatan terakhir."

"Kaki-kaki ini masih mengingat tanah basah terakhir yang kupijak di gunung itu. Kepala ini juga, masih mengingat rasanya berbenturan dengan batu-batu di dasar jurang," dia tertawa kecil. "Tapi, sebelum tak bisa melihat apapun lagi, aku sempat melihat matahari terbit. Sekilas."

"Setidaknya Tuhan tak membiarkanmu pergi di dasar jurang yang gelap."

Dia mengangguk. Kemudian ada jeda panjang yang kami nikmati bersama. 

"Omong-omong, kenapa aku bisa bertemu denganmu, ya?"

"Memangnya kenapa?"

"Aku belum bertemu siapa-siapa di sini. Maksudku, kenapa kamu jadi orang pertama yang kutemui saat aku baru sampai di sini? Kenapa bukan keluargaku?"

"Karena aku yang meminta."

"Apa?"

"Aku meminta pada Tuhan untuk membuatmu melangkah ke sini."

"Apa? Kenapa?"

"Karena aku ingin bertemu denganmu, tentu saja."

"Kenapa?" suaraku makin mengecil. Bingung.

"Tak sadarkah kamu kalau selama ini aku jatuh cinta..."

Hening beberapa saat, aku menahan napas.

... padamu?" sambungnya.

Kita dan Kilometer

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak..."

Kututup flip ponsel dengan cepat. Marah sekaligus khawatir. Aku tak tahu mana yang lebih menguasai pikiran saat ini. Aku benci saat-saat seperti ini. Saat otak bahkan tak bisa diajak berpikir karena terlalu banyak yang minta dipikirkan. Sementara hati ingin marah dan menangis, otak kini sedang menghadapi serangan dari berbagai pikiran positif dan negatif.

Sulit menjadi profesional di bidang hubungan jarak jauh.

Akhirnya, terpaksa kutabung lagi rinduku. Kekasih yang tak mengangkat panggilan, apapun alasannya, tetap jadi saat paling tak mengenakkan yang harus kutanggung. Kami tak selalu punya waktu luang yang sama, kami tak selalu punya banyak waktu untuk sekadar bicara. Sore ini aku punya waktu dua jam saat rehat dari kuliah yang membosankan. Dan kesayanganku yang puluhan kilometer jauhnya itu, malah tak mengangkat panggilan penting ini. Tujuh panggilan tanpa balasan.

Setelah menelan rindu bulat-bulat, aku kembali menatap langit. Senja sedang cantik-cantiknya. Semburat merah dan semua komposisi yang hanya dimiliki oleh jam-jam krusial ini sungguh tak ada duanya. Pantas saja senja masih jadi favorit banyak pujangga.

Sayangnya, kita ada di langit yang berbeda.

Aku menikmati senja di sini, sendiri. Berusaha menata hati dan yakin pada kita yang kini terpisah begitu jauh, yang tak bisa saling rengkuh. Berat rasanya membayangkanmu menghabiskan senja bersama siapapun itu yang aku tak tahu. Mungkin kalian tak melakukan apa-apa, tapi, apalah arti statusku kalau di sisimu saja aku tak ada. Jadi tempatmu bersandar saja, aku tak bisa.

"Maaf, tadi aku rapat. Kenapa?"

"Kenapa?" kuulang lagi pertanyaannya dengan sedikit tawa. "Jadi, sekarang aku harus punya alasan khusus kalau ingin menghubungimu? Sejak kapan?"

"Lho, kok kamu marah?"

"Nggak, aku nggak marah. Aku hanya..."

"Kamu lelah? Kamu ingin putus?"

Aku terdiam. Jantungku sakit.

Lelahkah kamu, sayang? Ingin putuskah, kamu? Karena aku, tak pernah ingin.

"Kamu lelah? Kamu ingin putus?"

Kini, giliran dia yang terdiam saat kulontarkan kembali pertanyaan itu padanya. 

Yang membuatku takut, dia terdiam jauh lebih lama.

Nah, Sudah Kukatakan...


Hai, Kamu.

Aku ingin menanyakan kabarmu, tapi aku tahu kamu sedang bahagia. Tentu saja. Kita bertemu nyaris setiap hari. Mungkin kepalamu sedang mencerna baik-baik, kenapa aku mengirimi surat. Kenapa jadi sok melankolis, kenapa jadi seperti orang zaman dulu. Kalau ada apa-apa lebih baik sampaikan langsung saja, pasti itu pertanyaanmu sekarang. Turunkan dulu alismu yang bertaut, supaya aku bisa lebih tenang memaparkan satu persatu maksudku padamu. Nah, iya begitu.



Aku jatuh cinta padamu.

Itulah yang ingin kukatakan. Itulah yang selama ini ingin kusampaikan. Di tiap ada kesempatan, rasanya ingin sekali kuutarakan. Tapi mulutku, tak pernah punya nyali untuk jadi perantara hati. Tak pernah punya nyali, sekadar bertanya apa kamu telah dimiliki. 

Saat kita sekadar berpapasan tanpa kata, saat kita berbagi cerita, saat aku membuat lelucon lalu kamu tertawa, saat kamu sedih dan aku hanya bisa berdiri disana. Aku ingin bilang, aku jatuh cinta. Aku ingin bilang, aku hampir gila semakin lama rasa ini tersimpan.

.... Wow. Sudah kukatakan. Akhirnya kukatakan.

Seperti apa wujudku di hatimu, aku penasaran. Tapi sungguh, perkara balasan, aku tak mengharap apa-apa. Ini bukan munafik, hanya tak ingin kamu tertekan. Karena jatuh cinta adalah pilihanku, jatuh cinta kembali padaku adalah pilihanmu. Tapi, apa aku ingin bersamamu sembari memilikimu? Tentu saja aku ingin. Tapi maksud surat ini, bukan untuk memintamu. Surat ini perantara mulutku yang selalu kesulitan mengucap bahkan tiap kali hatiku telah bulat.

Kamu, kelak akan kuungkapkan langsung padamu. Semua isi surat ini, akan kuucapkan ulang kata perkata tanpa harus melongo isi kertas. Aku hapal. Ini yang setiap saat terngiang di kepala. Ingin sekali seperti pujangga yang bisa bicara langsung pada yang dipuja. Tapi aku yang jatuh cinta diam-diam ini memangnya bisa apa.

Semua sudah kukatakan, baiknya surat ini aku sekiankan.


Sekali lagi kukatakan, aku jatuh cinta padamu.


------




P.S. Surat ini terinspirasi dari novel terbaru @benzbara 'Surat untuk Ruth'. Dan dari beberapa cerita teman yang sedang jatuh cinta diam-diam. Jenis kelamin pengirim dan yang dikirimi surat dalam postingan ini, terserah pada yang membaca. Atau, terserah pada kalian yang sedang jatuh cinta diam-diam hingga tak mampu mengungkapkan. *keliling naik Vespa merah*

Dia, Kau, dan Cinta Perihal Tawa

"Kamu sedang apa?"

Dia sedang kepayahan meniup balon saat kau datang. Muncul tiba-tiba entah dari mana lalu berdiri persis di depan balon yang tak kunjung membesar. Di jalan yang biasanya sepi, wajar kalau dia sempat mencurigai kau yang mendatanginya. Kejahatan ada dimana-mana. Dan bukannya ingin menyombong, tapi dia sadar dia gadis cantik yang sangat mungkin menarik perhatian.

"Memangnya aku terlihat seperti sedang apa?"

"Itu kamu sebut meniup balon? Bukannya sesak nafas?"

Dia pikir komentarmu menyebalkan, tapi tak bisa menyalahkan. Kau benar, dia tak bisa meniup balon. Takut, lebih tepatnya. Tapi satu jam lagi dia harus menghias ruang kafe dengan semua balon ini. Kejutan ulang tahun untuk adik kesayangannya.

"Sini, biar kubantu."

Lalu, dia membiarkanmu meniup semua balon yang tersisa. Semua balon, lebih tepatnya. Karena sejak lima belas menit lalu, tak satupun balon berhasil dia tiup. Di sela adegan meniup balon, kau melirik ke arah dia yang memerhatikanmu dengan seksama. Seperti sedang mencari kuman di antara pori-pori. Kau tersenyum ke arah dia, memicingkan mata, lalu mencium bibirnya lewat balon yang kau tiup. Dia terkejut, matanya membesar, tapi tak marah. Wajahnya bahkan bersemu merah.

Lalu kau mulai membuat lelucon. Karena balon tinggal tersisa tiga buah, kau seakan mengulur waktu agar lebih lama bersama dia yang juga tampak menikmati lelucon yang kau tawarkan. Dia tertawa hingga matanya tinggal garis. Kau senang membuatnya tertawa, dia senang kau buat tertawa. Kemudian, kau dan dia sadar kalau kalian sangat suka tertawa.

Dia jatuh cinta pada kau yang bisa membuatnya tertawa.

"Aku akan selalu membuatmu tertawa kalau kamu mau."

Dia tertawa lagi. Jatuh cinta tak pernah begini mudah, dia berbisik dalam hati. Lucu bagaimana tawa bisa membuat dia jatuh cinta. Lucu bagaimana kau bisa dengan mudah menarik hatinya hanya lewat tawa. Dia berbisik pada dirinya sendiri, nyatanya cinta bisa datang dari mana saja.

Dia menawari kau untuk ikut ke pesta ulang tahun adiknya. Kau menolak. Sudah ada janji, katamu padanya. Dia terlihat kecewa lalu bertanya memangnya janjimu sepenting apa.

"Pacarku hari ini juga ulang tahun."



Dan kemudian dia tak lagi paham pada keadaan hatinya. 

Kau membuatnya bahagia, jatuh cinta. Lalu pergi begitu saja.

Kau membuatnya tertawa geli, tapi kau tak bisa dia miliki. Tawanya tak abadi.



"Jangan lagi buat aku tertawa."

"Kenapa?"

"Jangan lagi. Selama tawamu bukan untukku saja."

Bangku Kayu Tua




Akan ada saat kamu hanya ingin sendiri. Bukan lelah pada dunia pun isinya. Hanya ingin duduk, menepi sejenak dari hiruk pikuk. Mungkin renungmu tak melulu berpikir, kadang hanya diisi hening yang panjang. Seperti bicara pada diri sendiri, padahal tidak. Kamu hanya sedang tak ingin berinteraksi, bahkan dengan isi kepalamu sendiri. Ini masa egois. Tapi naluri.

Akan ada saat kamu merindukan bangku yang nyaman. Dan teman bercerita yang tak balik banyak bicara. Bangku kayu tua yang lapuk dan lembab, tapi tak pernah menyalahkan hujan karena telah membasahinya. Membuatnya tak lagi nyaman, membuatnya kian rapuh, tapi tak balik meneriaki betapa hujan begitu tak punya hati. Bangku kayu tua yang berteman dengan dedaunan yang tak lagi diinginkan pepohonan. Tanah lebih beruntung. Hujan justru membuat wanginya memenuhi udara. Petrichor, begitu orang menyebutnya. Tapi bangku kayu tua, tak sempat iri pada temannya.

Bangku kayu tua, seperti sisi dirimu yang tak banyak tanya. Sisi yang lelah tapi tak punya daya untuk protes pada dunia. Pada semua cerita yang tak semestinya, pada akhir kisah yang meremuk jiwa, pada perihal-perihal yang tak pada tempatnya. Tapi kamu dan jiwamu, tak ingin dan tak tahu harus bagaimana. Ada disana, tapi tak berbuat apa-apa. 

Tapi bangku kayu tua, haruslah tetap disana.

Agar kelak saat dunia tertawa, kamu punya pelarian kosong yang tak banyak tanya. Agar kelak saat hati dan kepalamu sama-sama minta dimenangkan, kamu tahu kemana harus mencari ketenangan. Karena yang kamu sebut sendirian, tak melulu berisi kekosongan.

Bahkan saat kamu sedang sendirian, kamu masih juga berduaan. Dengan Tuhan.

Aku mendadak rindu bangku taman.

Kita Jatuh Cinta Sajalah

"Jatuh cinta sajalah." 

Bagaimana perihal cinta yang salah? Ah, bagaimana kamu tahu kalau dia salah? Karena semua tak berjalan sesuai angan? Karena apa yang kamu bayangkan ternyata tak sama dengan kenyataan? Karena ternyata dia tak lagi sejalan saat kalian sudah separuh jalan? Karena... kamu hilang harapan?

Katanya, kelak akan ada seseorang yang begitu tepat. 

Yang saking pasnya, akan membuatmu paham kenapa selama ini semua yang berjalan tak pernah terasa benar. Yang membuatmu lega telah melepaskan diri dari yang menurutmu salah. Yang kehadirannya saja, bisa begitu membuatmu yakin kalau saat ini adalah yang paling tepat.


Saat dia di hadapanmu, kamu hanya akan tahu.

Mungkin tak sempurna. Mungkin tak membuatmu berbunga.

Tapi, hanya dengan tawa polosnya saja, kemudian kamu terpana.

Yang mengajakmu untuk terus jatuh cinta, selamanya. Terus begitu saja.


"Kita jatuh cinta sajalah."

"Jangan berkata seolah ini mudah."

"Seolah? Kau salah. Ini memang mudah."

"Bagaimana kamu tahu kalau ini mudah?"

"Sudah kubilang, kan. Kita jatuh cinta sajalah."


Lembar (yang tak) Baru


Adalah saat kehilangan, aku sadar...

bahwa pelukmu begitu menghangatkan

bahwa pundakmu kini tak lagi menyamankan

bahwa yang kita tapaki bersama tinggal kenangan

bahwa rindu bisa disampaikan lewat butiran air hujan

bahwa harapan pada akhirnya sungguhan menyakitkan


Adalah saat kita terpatahkan, aku sadar akan langit kemerahan

Semburat, yang kalau kau lihat, teramat pekat

Seperti harap yang tak tergenggam erat

Seperti kumpulan rindu yang teramat

Seperti kita yang telah tamat

Seperti aku yang sekarat

Seperti kiamat


Kuajak kau melihat langit sore hari

Tempat dimana bertemunya sebagian diri

Kalau beruntung, kau akan menemukanku, sekali lagi

Lalu, bisa saja, cerita kita akan bertutur dari lembar baru yang wangi

Selamat Menunggu Giliran!

Hari Minggu ini, teman SMA saya menikah.

Dia orang ke-empat di angkatan saya yang akhirnya memutuskan untuk berumah tangga, menyusul tiga teman saya lain yang semuanya wanita. Kedewasaan mendadak jadi pasti. Kami, sebagai teman dan tamu undangan, lalu hanyut dengan pikiran masing-masing. Ada yang sama siapnya menikah tapi belum bertemu jodoh, ada yang nggak siap tapi sudah diajak serius, ada yang nggak siap sama sekali. 

Untungnya, saya sudah nggak berada di zona nggak siap sama sekali. Nggak. Masih belum siap, tapi nggak pakai sama sekali. Masih belum terpikir detailnya, tapi bukan berarti nggak memikirkan sama sekali. Masalah pernikahan dan tetek bengeknya ini masih kalah dengan hal-hal lain. Saya dan beberapa teman terdekat masih dalam tahap: "Hem... nggak tahu, ah."

Tapi saya sadar, ini semua hanya masalah giliran.

Ini bukan lagi perkara siap nggak siap. Ini perkara waktu dan kita sedang berada di antrean. Menunggu giliran berikutnya, entah kapan. Tahu-tahu, aku dan kamu sampai pada tahap cetak undangan. Menyebar undangan, lalu mendapat banyak ucapan. Memilih gedung, memilih gaun, memilih seserahan. Nanti giliranmu memilih.

Tapi yang utama, memilih calon pendamping.

Memilih dengan siapa akan menghabiskan hidup. Memilih dengan siapa akan membesarkan anak-anak. Memilih seseorang yang akan bangun di pagi hari tanpa riasan sama sekali. Memilih seseorang yang akan kamu tumpahkan marah dan uneg-uneg. Memilih seseorang yang akan jadi musuh sekaligus sahabat terdekatmu, yang akan bertengkar dan berdebat hingga menguras emosimu, tapi tetap ada saat kamu jatuh, meminjamkan pundaknya padamu.

Duh. Selamat menunggu giliran!

Jodoh Air Lemon

"Kamu suka kopi?"

Tidak. Kuharap ya, tapi tidak. Aku bukan cewek keren seperti di novel-novel chicklit, yang melakoni adegan berlarian membawa gelas kopi dingin sambil mengejar jadwal yang padat. Bahkan, bisa dibilang aku sungguh tak suka kafein. Aku benci tidak bisa tertidur saat malam karena efek kafein. Yang benar saja, semua yang ada di kehidupan nyata sudah begitu membuat pusing dan aku malah menolak tidur? 

"Tidak. Kamu pecinta kopi, ya?"

Dia mengangguk lalu menambahkan kalau pekerjaan sampingannya adalah seorang barista. Wah, betapa tidak jodohnya. Aku tidak suka kafein, dia malah ketagihan kafein. Saat dia sibuk menyebutkam macam-macam kopi dari seluruh dunia, aku sibuk menghitung berapa gelas kopi yang pernah kuminum semasa hidup. Lima? Tujuh? Entahlah.

"Kamu suka bepergian? Jalan-jalan?"

Demi Tuhan. Tidak. Aku bukan jenis wanita menyenangkan dan penuh energi yang siap diajak bepergian sepanjang tahun ke tempat-tempat indah di seluruh dunia. Aku ini sahabat sofa. Makan, membaca, menonton tivi, semua kulakukan di sofa. Spesies baru manusia yang bersedia menghabiskan sepanjang hidup di sofa. Bepergian, berlelah-lelah dengan semua carut marut negara asing sementara di kantorku saja kekacauannya sudah sangat melelahkan jiwa? Tidak, terima kasih.

"Sayangnya... tidak."

Dan tanpa kuminta, dia mulai bercerita tentang pengalamannya ke belahan dunia yang bahkan namanya jarang kudengar. Bulan lalu saja, dia berkeliling Asia Tenggara dengan satu tas ransel dan persiapan ala kadarnya. Seru sekali, katanya. Dalam hati, aku ingin sekali mencoba hal-hal baru seperti itu. Tapi... tidak.

Dua jam berlalu. Tom berpamitan, menjabat tanganku dengan mantap, lalu meninggalkan kafe tempat pertemuan kami dengan senyum kecil yang tertahan. Aku tahu. Dia kecewa. Pasangan yang dijodohkan oleh teman sekantornya, yang juga sahabatku ternyata tak berjalan mulus. Kami terlalu berbeda. Setuju untuk dijodohkan dengan Tom adalah keputusan terkonyol dalam hidupku. 

"Jadi, bagaimana? Tom menyenangkan, kan?" 

Suara riang sahabatku memenuhi telinga. Iya, dia menyenangkan. Hanya saja aku bukan pasangan yang tepat untuknya. Aku terlalu membosankan. Aku wanita karir yang setelah pulang kerja akan langsung kembali  ke rumah. Bagiku, liburan adalah makan pie apel di sofa sambil menonton semua acara tivi paling tidak penting di Amerika. Dan minuman selamat pagiku bukanlah kopi, melainkan air lemon. Untuk detoks. Tubuhku sudah terlalu banyak racunnya.

"Aku akan menemukan jodohku sendiri."

Aku berjalan ke arah kasir. Tidak ada gunanya berlama-lama di tempat menyesakkan ini. Di depan kasir, ada seorang pria berambut merah yang mantel cokelatnya tak sengaja terkena tumpahan kopi yang dibawa oleh si manajer kafe. Dia langsung ditawari kopi termahal, gratis. 

Aku sedang berjuang mencari lembaran uang terakhir di dompet, saat si pria berambut merah menolak tawaran kopi mahal gratisnya.

"Aku tidak minum kopi. Kalian punya air lemon, tidak?"

Jantungku kedutan. Oh, Tuhan.

Iya, Ayah. Iya.





"Ayah selalu ada disini. Untukmu. Menjagamu. Menjaga hatimu."

Iya, Ayah. Terima kasih untuk genggamanmu yang tak pernah lepas. Untuk setiap dorongan kecil di punggungku. Untuk setiap posesif berlebihanmu. Untuk setiap doa siang malammu. Untuk setiap tetesan keringat demi memenuhi semua pinta tak pentingku. Untuk setiap sabar menghadapi keras kepalaku. Gadis kecilmu.


"Jangan dulu punya kekasih, ya."

Ah, Ayah. Nggak adil memintaku mengabulkan yang satu itu. Aku ingin jatuh cinta seperti yang lain. Ingin merasakan kupu-kupu di perut, ingin berdebar, ingin bertengkar dengan logika. Ingin seperti mereka yang berbunga-bunga."


"Kalau begitu, jatuh cinta pada Ayah saja."

Duh, Ayah. Dimana letak serunya. Aku ingin dipeluk, dipakaikan jaket kebesaran saat hujan, diantar-jemput sehabis kencan, dihubungi tiap senggang. Aku ingin jalan-jalan berduaan, kehujanan, nonton film, makan di pinggir jalan. Aku ingin dibonceng di motornya lalu merasakan memeluk dari belakang. Aku ingin tertawa sembari terluka.


"Kamu harus berjanji, kamu akan bahagia."

Tentu saja, Ayah. Aku tahu cintaku sungguhan."


"Tapi dia, belum tentu sepakat dengan sungguhanmu."

Sudahlah, Ayah. Aku bosan. Aku sedang jatuh cinta.


"Hati-hati ya, Nak."

Kenapa harus hati-hati? Aku sedang jatuh cinta, bukannya mengemudi.


"...."

Ayah, kau dimana? Aku rindu. 


"Bagaimana dengan cintamu?"

Dia mematahkan hatiku, Ayah. Aku sudah nggak mengerti lagi.


"Satu-satunya yang harus kamu mengerti, Tuhan akan mempertemukanmu dengan pria yang akan menjagamu seperti Ayah. Ah, tidak. Kelak akan ada yang menjagamu lebih dari Ayah menjaga hatimu. Kelak akan ada yang menghargai hatimu seperti Ayah menghargainya. Kelak akan ada yang menggenggam tanganmu seperti Ayah menggenggamnya."

Sungguh?


"Sampai saat itu datang, kamu masih kekasih Ayah, ya."

Iya, Ayah. Iya.

Kamu, Satu-Satunya


Kamu mengubah duniaku sesederhana itu

Kamu menjajah pikiranku semudah itu

Kamu memenuhi hatiku sebanyak itu

Kamu 

Tolong jangan patahkan hatiku

Tolong jangan beri aku harapan lalu aku kamu tinggalkan

Tolong jangan buat aku tertawa lalu aku kamu abaikan begitu saja

Tolong jangan buat aku sendirian

Kamu

Satu kata, satu janji

Kecil artinya bagimu, sesemesta artinya bagiku

Kamu

Satu-satunya yang bisa mengalahkan kopi di pagi hari

Satu-satunya yang bisa mengalihkan hujan dari kenangan

Satu-satunya yang bisa membuatku membayangkan masa depan

Kamu

Satu-satunya