4 Menit Menuju Tahun Baru

Kenapa dari tadi angka 4? Karena aku lahir di tanggal itu dan secara alami jatuh cinta padanya, meskipun di Jepang angka itu bahkan lebih sial dari 13 karena dianggap angka kematian. Lebih dari sekedar angka, mendadak 4 jadi semacam simbol dan ciri khas. Memilih apapun selalu nomor empat. Melihat nomor ini di sembarang tempat pun bisa memancing senyum. Ini bawaan sugesti kali ya. Karena semua hal di dunia pasti butuh alasan dan nggak ada kebetulan, lahir di tanggal ini juga pasti bukan hanya sekedar ibu yang setelah sekian lama tarik-buang nafas akhirnya berhasil mendorongku keluar di tanggal ini.

Di agamaku, musyrik namanya kalau percaya dengan hal-hal di luar Tuhan. Tapi, aku nggak sedang memusyrikkan diri kok, Tuhan. Ini kesukaan, seperti perasaan ingin memelihara singa. Sensasi aneh yang nggak tergambarkan, tapi nyata.

Omong-omong, akhirnya rencana tahun baruan absurd itu batal. Dan aku lagi-lagi duduk di kursi yang sama, di depan laptop, mendengarkan musik, minum kopi, dan nonton Transformers. Kembang api tetangga sahut-sahutan dengan berisik dan-demi Tuhan-bunyinya persis bom yang seperti meledak di atas kepala. Tetangga-tetangga sekalian, tolong jangan sampai percikan kembang api kalian itu membakar atap rumah ini, ya. Terima kasih.

Hei hei, 4 menit lagi 2011 yang penuh kejutan akan berakhir lho!

4 Jam Menuju Tahun Baru


Empat jam lagi, 2011 yang-aku pikir-gemilang akan segera berakhir. Berakhir begitu saja. Jadi bagian slide-slide kenangan dan barisan tahun biasa. Aku, masih sebagai si Optimis, kembali duduk di kursi biru yang sama, semangat yang sama, tapi harapan yang lebih besar dan berbeda, sedang menatap 2012 dengan setengah menyerngit. Meringis demi ketakutan yang tak wajar dan tertawa demi hal-hal baru yang mungkin ada.

Seperti balon-balon merah muda yang melayang di remang langit itu, mungkin seperti itulah setiap tahun aku menerbangkan banyak harapanku. Aku tahu, Tuhan tahu aku bahkan sudah terlalu malas mengucapkan harapan dengan kuat dan bulat. Tahun demi tahun, ada satu harapan besarku yang tak juga jadi nyata dan kini sudah membuatku muak. Aku muak dan murka, dan akhirnya punya harapan baru yang lebih melegakan. Hahaha.

Tahun baru 2012. Aku menghabiskannya lagi-lagi dengan buku, kopi, musik, dan Tuhan.

Aku, November, dan Tuhan

“Seperti titik air hujan yang jatuh menghantam Bumi,
seperti itulah aku yang tak mati meski jatuh berkali-kali.”


27 November

“Kau tahu seperti apa rasanya dikhianati oleh orang yang kaupikir paling bisa kaupercayai? Kau tidak mungkin tahu. Kau bahkan tak punya hati.”

Aku tergugu dalam hening, sendiri. Menatap hampa pada quote di blog pribadi November. Quote yang seakan tak memiliki arti, tapi aku tahu itu untukku. Aku bisa tahu mana saja kalimat yang ditujukkan padaku. Tak perlu dia menulis sesuatu yang berbau namaku. Aku bisa melihat air mata darah di ujung kalimat-kalimat itu. Kutulis kalimat balasan di blog milikku, sama sekali tak berharap perhatian terlebih balasan darinya.

“Yang hidup dan yang bernyawa, punya rasa untuk dipilih dan dijaga.”

Kuputar Stereo Hearts dengan keras, membangunkan ingatan tentang November yang kini mungkin sedang meronta sesak. Dia suka Adam Levine. Begitu lagu mengalun, bukan suara Adam melainkan suara November yang terdengar. Mengayun syahdu sekaligus mengerikan.

Cerpen #7


Cover Buku Goodbye November Seri #1 -Nulisbuku.com

Alhamdulillah. Satu lagi tulisan jebol. :)
Untuk tau pengumumannya, klik di sini

A. GoodbyeNovember buku 1:
  1. 12 November  ~ @sriwulandah
  2. A Beautiful Twist  ~ Rachma Lestari, @rachmalestari
  3. Akhirnya ~ Beauty, @psstBee
  4. Aku, November dan Tuhan ~  Indah Arka Arifallah, @IndahArifallah
  5. Bahu Tiga Jengkal, Ruang Hampa Lima Jengkal ~ Gabby Laupa, @GabbyLaupa
  6. Belum Selesai ~ Grace Dian, @GraceDian
  7. Birthday ~ Novia Indriati, @noviaindri
  8. Bitter Sweet November ~ Yuska Vonita, @yuska77
  9. Come on, Love! ~  Ila Rizky Nidiana, @ila_rizky
  10. Double Espresso ~ Shofi Awanis
  11. Goodbye, You ~ Dhin, @indahdwi
  12. Hujan Bulan November ~ Momo DM, @momo_DM
  13. IĆ­ll See You Soon November ~ Yulia Purnama Sari, @lia3x
  14. Kabar yang Tak Ingin Kudengar ~ Liya Shady, @liyashady
  15. Kamu, Aku dan Dia  ~ Andiana, @andiana
  16. Kopi ~ Edith Nugraha, @edithbella
  17. Muhammad Rizky Novriyanto ~ Devi Andalusia, @deviandalusia
  18. November di Persimpangan Rajabasa ~ Arif Zunaidi Riu Aj, @riu_aj
  19. November Pasti Berlalu ~ Dessy Nur Amelia, @desnuramel
  20. Pesan Singkat ~ Hilda Nurina, @hildabika
  21. Sebelas ~ Nabila Budayana, @nabilabudayana
  22. Sebuah Nama ~ Aditia Yudis, @adit_adit
  23. Seperti November Ini ~ Nurzaitun, @z417un
  24. Terima Kasih ~ Erlin Eka Sofyanti, @erlinberlin13
  25. To You On Your Birthday ~ Emiralda Noviarti, @emiralda
  26. When I Fall to You ~ Stany Cecilia, @StarLuvers

Keliling Dunia

Untuk ukuran manusia introvert-cinta kamar sepertiku, keinginan keliling dunia itu semacam gagasan aneh yang sulit dibayangkan. Aku yang lebih suka menenangkan diri dengan duduk di kursi kamar sambil membaca dan menyeruput kopi atau mendengarkan musik, tiba-tiba ingin sekali keliling dunia. Sendiri.

Mungkin bukan ke arah backpaker yang membawa barang seadanya di ransel, aku masih ingin menyeret koper dan membawa semua yang biasa kubutuhkan. Well, sebenarnya lagi-lagi perjalanan keliling dunia itu didasari oleh keinginan memahami diri sendiri. Ingin lepas dan mandiri dan mencari tahu seperti apa aku akan bereaksi dengan dunia yang sama sekali baru. Melihat seluk beluk yang selama ini tabu, menyentuh, menginjak dunia yang mungkin akan membuatku menggigil takut didekap asing. Tapi, aku ingin berada dalam keadaan itu.

Menikmati apapun yang ada di belahan negara lain, yang sama sekali berbeda dengan kultur negaraku. Negara besarku, yang terkenal ramah dan baik hati, tapi juga suka berbasa-basi. Negara besarku, yang selalu dan terlalu membuka tangan, dan terlalu banyak yang disembunyikan. Tapi bagaimanapun, aku cinta negara ini. Aku dibesarkan disini dan jelas tidak pantas bagiku tinggal di bumi-nya sementara mulutku mencercanya.

Yah. Negara yang paling ingin kukunjungi tentu saja Jepang. Sudah lama aku tergila-gila pada negara ini, dengan segala keindahan, keluarbiasaan, dan kekurangannya. Aku ingin dalam hidupku yang hanya sekali ini, aku bisa menapakkan kaki di atas tanah Jepang, menatap dalam-dalam bunga sakura yang bermekaran. Aku bahkan ingin sekali berguling di atas tanah dan memeluk sejengkal dari Bumi Sakura itu.

Setelah itu, aku ingin sekali ke Ontario, Kanada. Hahaha, ini pengaruh novel yang sedang kutulis. Sebenarnya seting di Kanada juga hanya wacana sembarang, tercetus begitu saja tapi saat mempelajarinya lebih dalam, aku terpana pada segala yang ada disana. Ontario, Kanada menyimpan banyak pemandangan alam yang hebat, terutama dengan pohon mapel yang memunculkan warna saat musim gugur. Tuhan, aku ingin sekali melihat pohon maple merah dengan mataku sendiri.

Setelah itu mungkin aku ingin ke Jerman. Itu negara pertama setelah Jepang yang membuatku jatuh cinta, termasuk dengan klub bolanya, dan Miroslav Klose tentunya. Aku ingin melihat Coleseum, ingin berjalan-jalan di Manhattan dan memandangi segala icon fashion kelas dunia dipajang di etalasenya. Intinya, aku keluar sejenak dari hidupku yang sekarang ini dan melihat lebih banyak hal-hal apa yang Tuhan buat di belahan dunia lain.

Ada yang mau keliling dunia? :)


H-3 Tahun Baru

Tiga hari menjelang tahun baru. Nggak ada yang benar-benar ingin dilakukan, hanya punya rencana tahun baruan abstrak yang masih belum berbentuk wujudnya bersama dua teman dekat selama SMA, Desilasary (Decik) dan Nia Septiyeni (Nyak). Itu juga kemungkinan diisi dengan menggigit jagung bakar sambil meracau nggak karuan tentang hal-hal nggak penting dalam hidup kami sambil saling menatap dengan hampa. Ew, paling kami bertiga bakal saling melempar lelucon tolol sambil terkikik seperti istri-istri pejabat di pesta.

Harapan tahun baru. Nggak ada yang spesifik. Dari tahun ke tahun, harapan tahun baru lama kelamaan menjadi sesuatu yang busuk. Apalagi di pertengahan 20 tahun ini semakin banyak yang terjadi dan semakin banyak hal yang menggerus harapan-harapan sepele. Harapan besar, yang benar-benar besarpun sebenarnya nggak berubah sejak dulu dan nggak akan kuucapkan. Tuhan tahu aku sudah hampir muak menulis harapan di tahun baru. Pfffft.

Tuhan, tiga hari lagi tahun baru. Kuharap di hidupku akan ada sesuatu yang benar-benar baru.
Entah kenapa tiba-tiba pingin membahas galau. Sebenarnya semua orang pasti pernah galau, hanya saja pelampiasannya berbeda. Yang aku nggak habis pikir, kenapa ada orang-orang galau-nya muncrat-muncrat sampai rasanya seisi dunia harus tahu. Yah, itu hak masing-masing. Mau galau sambil kayang atau apapun. Tapi, bukankah akan lebih baik kalau nggak semua orang bisa tahu apa yang kita rasakan. Rasanya nggak enak lho di-judge jelek cuma karena ekspresi cinta-galau yang berlebihan.

Lagi-lagi, semua pilihan, kan.
Harusnya ini semua mudah dimengerti. Untuk apa punya otak paling sempurna seranah Bumi kalau memikirkan diri sendiri saja ruwetnya setengah mati. Harusnya semua masalah yang memberontak di hati patuh pada otak dan mendengarkan semua logika. Otak kan si pemimpin, letaknya di kepala, dan mengendalikan semua hal, tak terkecuali. Jangankan hati, gerak refleks yang cepatnya tak terhitung itu juga buah perintah otak kedua, yaitu tulang belakang. Bayangkan betapa cepatnya kita menarik tangan saat tersundut api. Betapa cepatnya gerakan menghindar saat terancam. Tapi, kenapa tidak terjadi dengan cinta dan hati?

Ada selanya tersakiti, disakiti, menyakiti, dan kalau cinta hanya berputar seperti itu dengan keji, harusnya otak juga memerintahkan tubuh untuk berhenti. Memerintahkan hati untuk melarikan diri. Tapi hati selalu punya pikiran sendiri. Hati. Halus dan peka, seringnya jadi begitu rapuh dan tolol, meski kadang bisa jadi sekeras harga diri. Hati, yang seperti selalu rela menerima, memberi, dan memaklumi. Hati, yang seperti selalu bisa selalu luruh hanya dengan satu pesan manis.

Kepadamu Hati, kuharap kau selalu hati-hati.


Agar aku tahu
Katakan, jelaskan, tunjukkan, perlihatkan, dan buktikan itu padaku

Hanya agar aku tahu
Bersusahlah dalam payah agar kita tak dirongrong waktu


Dan supaya aku tahu
Relalah mengorbankan bahagiamu sejenak dan lihat aku


Pada akhirnya aku tahu
Bukan dunia melainkan kau yang tak sudi menunggu

Kau tahu, aku selalu tahu
Aku selalu tahu dan akan terus tahu
Karena aku rapat di bayanganmu

Hair Spray

"Hai, aku Josh Groban. Salam kenal!"

"Aku KyuHyun. Salam kenal juga ya!"

"Aku Hugh Jackman. Kalian pasti kenal aku, kan? Aku si X-Men."

"Yaelah songong banget. Nih, aku asistennya Sherlock Holmes!"

"Asisten kok bangga. Cih, aku sih selalu jadi pemeran utama."

"Pada ribut lagi. Kutiup nih ubun-ubun kalian!"

"Udah jangan berantem. Cobain nih hair spray bagus biar rambutnya kayak aku."

"Pesen selusin ya."

"Aku juga ya. Rambut aku susah diatur nih!"

"Pesen juga gak ya? Rambut aku kan kayak ijuk."

"Aduh gila, norak banget orang-orang jaman sekarang."

"Om, aku pesen juga ya..." 


"Kyu, aku juga mau ya."

"Yang punya blog lebih gak waras lagi..."


Send It On Lyrics - Disney Friends

MILEY:
A word's just a word
'Til you mean what you say
NICK:
And love isn't love
'Til you give it away
MILEY:
We've all got to give
NICK:
Yeah, something to give
BOTH:
To make a change

Send it on
On and on
Just one hand can heal another
Be a part
Reach a heart
Just one spark starts a fire
With one little action
The chain reaction will never stop
Make us strong
Shine a light and send it on

DEMI:
Just smile
JOE:
Just smile
DEMI:
And the world
JOE:
And the world
BOTH:
Will smile along with you
JOE:
That small act of love
That's meant for one
BOTH:
Will become two

MILEY:
If we take the chances
NICK:
To change circumstances
BOTH:
Imagine all we can do
If we...

ALL:
Send it on
On and on
Just one hand can heal another
Be a part
Reach a heart
Just one spark starts a fire
With one little action
The chain reaction will never stop
Make us strong
Shine a light and send it on
Send it on
SELENA:
Oh, send it on

MILEY & NICK
There's power in all of the choices we make
DEMI & JOE
So I'm starting now, there's not a moment to wait

SELENA:
A word's just a word
Until you mean what you say
SELENA & KEVIN
And love is not love
SELENA & KEVIN:
'Til you give it away

Send it on
On and on
Just one hand can heal another
Be a part
Reach a heart
Just one spark starts a fire
With one little action
The chain reaction will never stop
Make it strong
Shine a light and send it on
Send it on

Send it on
On and on
Just one hand can heal another
Be a part
Reach a heart
Just one spark starts a fire
With one little action
The chain reaction will help things start
Make us strong
Shine a light and send it on
DEMI:
Shine a light and send it on
ALL:
Shine a light and send it on


P.S. Oh i love this song!
From: http://www.elyrics.net/read/d/disney-channel-stars-lyrics/send-it-on-lyrics.html

Celemek Merah Muda #2

Ya ampun. Bisa-bisanya aku yang super sibuk ini duduk selama dua jam di dalam mobil, melamun sambil terus melirik ke arah TK, dan melengos mendapati pacarku belum juga selesai mengajar. Aku seperti remaja tolol yang mabuk cinta, rela melakukan apa saja, padahal pujaan hati sudah di tangan. Tidak, tidak. Aku tidak mengeluh. Aku hanya tidak habis pikir pada diriku sendiri. Bisa-bisanya bertekuk lutut dan jatuh cinta setengah mati pada gadis yang bahkan di pertemuan pertama tidak kukenal sama sekali. Cinta yang dimulai dengan cepat, cinta yang sensasinya membanjiri darah dan membuatku rela membusuk di mobilku sendiri demi menungguinya. Setiap hari.

Asca muncul dari kerumunan muridnya. Rambutnya lagi-lagi berantakan, blus biru mudanya lagi-lagi tak selamat dari cipratan cat air atau krim kue. Wajahnya selalu sama, ekspresi lelah campur bahagia. Ah Tuhan, kenapa Kau bisa menciptakan makhluk seperti dia. Tidakkah dia harusnya ada di surga, bersayap, dan menari-nari dengan selendang? Ah Tuhan, kenapa baru sekarang aku bertemu dia.

"Apa kau sedang melamun?" Asca menyerngit begitu masuk mobil. Aku menggeleng sambil tersenyum. Senyum yang terlalu lebar hingga Asca tertawa. "Jangan pasang muka konyol begitu."

Kenapa ya. Aku yang gengsinya sebesar dunia bisa mengalah begitu rupa.

"Kau tahu, tadi Jonny menggigit kaki Ghea dan mereka adu tonjok. Untung saja Eric bisa membantuku menenangkan mereka, kalau nggak mereka bisa saling menyakiti. Kadang aku kagum dengan kemampuan Eric melemahkan hati anak-anak. Ia hanya tersenyum manis, merangkul anak-anak, dan para bocah itu langsung menurut." Asca tertawa.

"Jadi, siapa Eric yang senyumnya manis ini?" tanyaku. Demi Tuhan. Ia bahkan belum pernah bilang senyumku manis dan sekarang malah memuji senyum pria lain.
      
"Temanku, guru menggambar. Kau pernah bertemu dengannya, kan? Yang waktu itu memberimu lukisan abstrak."

Pria itu. Aku ingat. Sayangnya yang kuingat adalah pria itu tampan, punya lesung pipi yang dalam, mata coklat seperti almond, dan berbadan proposional. Astaga, aku mulai berpikir kalau pria itu sebenarnya model berkedok guru TK dan berniat mencuri bidadariku.

"Lalu, Eric bilang aku-"

"Sayang, aku nggak suka kau membicarakan dia."
   
Asca terdiam. Ia mengerjap beberapa kali sambil menatapku. Aku tidak balas menatapnya dan mulai menyetir dengan gaya khas remaja norak yang cemburu. Asca menggeleng. "Kau cemburu?" tanyanya.

"Aku hanya nggak suka. Titik."

Aku benar-benar berharap Asca tertawa seperti biasa dan mengataiku terlalu posesif. Tapi pacarku itu malah diam dan terkesan tidak suka pada kelakuanku. Aku menoleh padanya dan mendapati wajah datarnya yang sama sekali tak menatapku. Aku menarik nafas dalam-dalam, berharap bisa mencabut kembali kata-kata yang entah kenapa malah membuatnya marah.
      
Kadang aku merasa hanya aku yang jatuh cinta padanya.

Kenangan


Tiap satu foto yang terpajang bisu itu, ingatan yang menumpuk menggeliat
Satu gambar yang terjebak, bisa bicara banyak
Bayangkan ada berapa juta kenangan yang tersimpan,
bayangkan kata-kata sepanjang apa yang bisa menjelaskan
Satu kenangan itu mengerak, seringkali membuat muak
Ada banyak yang menyenangkan, yang membuat muak justru jadi sesak
Seperti memori yang mendesak otak besar, menumpuk, membuat kejang-kejang
Seperti itulah masa lalu yang mekar sekaligus membusuk saat dikenang

Kubuat Mati

Oh ya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia ini hingga mengenyahkan sebentuk beban yang bahkan tak diketahui bentuknya, jadi perkara paling sulit. Sebenarnya ini bukan perkara dunia. Ini tentang aku. Berkali-kali kulemparkan kesalahan ini pada Tuhan, Ia hanya memberiku sunyi. Berkali-kali kumuntahkan kekesalan ini pada-Nya, Ia hanya menjawab dalam sepi. Mungkin karena itulah aku lebih suka duduk sendiri. Bertanya sendiri, menjawab sendiri, menyalahkan diri sendiri, tertawa dan menangis pada diri sendiri.
Diri sendiri. Entah kapan ego yang lebih keras dari cinta yang dipaksakan ini akan berhenti mendebat dirinya sendiri. Kalau bisa menampar ego, mungkin ia sudah kubuat mati.


Mapel Merah


 Tuhan, ini agak berlebihan. Tapi sungguh, gambar itu benar-benar hebat. Pemandangan hebat, tempat santai  yang hebat, dan suasana yang hebat. Walaupun mungkin aku lebih suka menyendiri dengan buku dan kopi, rasanya tertidur di rumah pohon mapel merah itu bisa menenangkan. Sesuai dengan psikologi warna, merah mampu memberi semangat.
Menatap mapel merah yang rapat itu mungkin bisa mengirim semangat yang membanjiri darah.

Halo, Darnell Lamont. Satu-satunya peserta rapat yang mengajukan pertanyaan padaku, mengangkat tangannya, meminta penjelasan tentang parket kayu. Pria agen real estate sibuk New York, yang selalu bisa tampil luar biasa meski hanya dengan kaos dan jeans. Pria yang membuat berjalan di pinggir jalan melebur bersama manusia lain terasa seperti pencerahan diri. Pria yang memotretku di balik semburat kuning kemerahan musim gugur dan mengatakan sesuatu tentang betapa cantiknya aku. Pria yang mentraktirku gulali dan merasa senang melihatku memasukkan segumpal besar permen kapas itu, dan bilang kalau aku wanita hebat seperti yang ia duga. Pria yang menjabarkan musim dingin dengan wajah seperti anak kecil, seseorang yang akan selalu dipeluk oleh hangat musim semi. Pria yang memberiku daun mapel merah di jalan-jalan pertama kami.

Halo, Darnell Lamont. Satu-satunya yang akhirnya bisa menggantikan gambar cangkir kopi yang mengerak di masa laluku dengan daun mapel merahnya yang layu. Pria yang bicaranya perlahan dan apa adanya. Pria yang kupikir ia-lah satu-satunya.

Halo, Darnell Lamont. Satu-satunya yang sepertinya paling tak bisa kulepaskan, tapi ternyata paling bisa kusakiti. Aku kecewa kau bukan yang satu-satunya, tapi bahagia karena setidaknya kita pernah saling jadi yang satu-satunya.

(Cuplikan novel Hazel Nuts)
P.S. Karena kebetulan lagi nulis novel yang mengambil seting di Ontario Kanada, aku jadi suka pohon mapel merah. Tambah suka, tepatnya. Selain karena suka warna merah, bentuk daun mapel memang keren.

Sampai Jatuh Cinta Padaku, Ya!

Aku: “Ini aku apa emang nggak punya jodoh?”
Dia:  “Punya. Ini aku. Berdiri di tempat yang tak kau tahu.”
Aku: “Aku yakin hanya aku yang menunggu nggak sabar jodohku!”
Dia:  “Salah. Ini aku. Juga tak sabar menunggumu. Kau hanya tak tahu.”
Aku: “Jodohku itu seperti apa, sih?”
Dia:  “Orang yang selalu tertawa melihat tingkahmu. Kau harus percaya itu.”
Aku: “Aku terus berdoa dan berdoa agar cepat bertemu dengan jodohku!”
Dia:  “Aku juga. Selalu dalam tengadahku. Kau harus tahu itu.”
Aku: “Aku ingin diselamatkan segera dari semua ini. Aku lelah.”
Dia:  “Aku sedang menunggu Tuhan berkata ‘Ya’.”
Aku: “Kapan kau akan datang dan menyelamatkanku, Jodohku?”
Dia:  “Segera setelah Tuhan berkata ‘Ya’, aku akan datang menemuimu.”
Aku: “Aku selalu bertanya-tanya bagaimana nanti pertemuan kita.”
Dia:  “Aku juga. Berdoa saja kau tidak sedang menguap saat aku jatuh cinta padamu.”
Aku: “Aku menunggumu. Siapapun kau. Di manapun kau sekarang.”
Dia:  “Aku selalu di dekatmu. Hanya saja belum terlihat.”
Aku: “Sampai bertemu nanti, Jodohku…”
Dia:  “Sampai jatuh cinta padaku, ya!”

Reuni SD

  • Suatu hari saat reuni SD...
  • Temen A: Eh jangan lupa nonton Transformer 3!
  • Aku: Pasti. Udah ditunggu itu!
  • Temen B: Ogah ah, nonton Transformer!
  • Aku: Heh kenapa? Keren lho!
  • Temen A: Gara-gara ga ada Megan Fox?
  • Temen B: Ga ada Pasha Ungu-nya!
  • Temen A: ...........
  • Aku: *bunuh diri*

Nama Anak

Ascarya.
Setelah sebelumnya ngotot ngasih nama anak cowok dengan nama Arka, kali ini aku menemukan nama anak cewek yang kece, yang juga dari Bahasa Sansekerta. Dan dengan ditemukannya nama anak cewek ini, resmilah sudah aku mantap pengen punya anak kembar cewek cowok. Arka dan Ascarya.
Arka: cahaya matahari atau api
Ascarya: tampil ke depan
20 tahun. Single. Ngobrol sama langit-langit kamar masalah nama anak.
*tepuk tangan*

#6th Day - Jangan Pakai Celana

Kantor Dream - Pukul 11.25
Rapat redaksi hampir berakhir, Roger sudah bersiap dengan akhir petuah panjangnya. Harry mengangguk sok mengerti dengan tugasnya, Arya menjaga mata tetap terbuka lebar, Carol melirik gelisah pada ponselnya yang tergeletak pasrah. Dua jam berlalu lebih suntuk dari biasanya dan atmosfer ruangan lebih mirip ruang hampa udara yang isinya kentut. Di tengah kejahanaman itu, aku yang paling terlihat girang. Riasan masih segar, mata membelalak semangat, dan senyum lebar tak dibuat-buat. Aku bahkan berkali-kali membuat lelucon kecil menanggapi kata-kata Roger.
Yang terakhir terdengar mengerikan tapi nyata.
“Ada hal baik terjadi?” tanya Arya saat rapat selesai dan mereka bersiap makan siang. Aku yang sedang merapikan meja mengangguk.


“Rossy minggu depan bertunangan dan siang ini kami akan menyiapkan semua yang dia butuhkan.”
“Rossy sahabatmu? Pemilik salon itu?”
“Ya. Hebat kan? Aku hanya kerja setengah hari hanya untuk menemaninya.” Aku mengedip genit, meraih tas dan melambai pada Arya. “Lelucon norak di rapat tadi adalah bentuk terima kasihku pada Yang Mulia Roger.”
Arya mendengus. “Bayaran yang setimpal.”


#5th Day - Lucky I'm in Love

Pukul 23.09 - Apartemen

Aku menggeliat di kasur ditemani suara dengkuran Moca. Kemarin malam, di jam seperti ini aku masih berdiri dengan senyum kaku jelek di pesta CNA. Adrian menyuruhku menunggu di ruangannya sebentar sementara dia akan bergegas keluar pesta. Itu rencana kami, tapi si bos besar keburu melihatku. Pria gendut itu malah menarikku masuk ke pesta dan mau tak mau Adrian juga harus mengikuti acara itu sampai akhir.
Dia mengantarku pulang dan itulah pertemuan terakhir kami.
Tidak. Aku tidak sedang berpikir ingin terlibat sesuatu dengan pria itu. Anggap saja kami memang teman yang ditakdirkan terus bertemu. Anggap dia seperti Arya atau Harry.
Mana bisa.
“Rii, ponselmu!” kudengar Moca merengek.
“Apa?” kuraba ponsel di bawah bantal dengan kaget. Sebuah nama lengkap muncul di layar, kontak yang bahkan baru 24 jam yang lalu kusimpan.

“Untuk manajer penting ini memang masih jam sibuk, tapi untuk editor biasa sepertiku ini sudah jam tidur,” sahutku. Debaran kecil mulai menggebuk hati.
Kudengar Adrian tertawa renyah. “Tapi, ibu editor nyatanya belum tidur, kan?”
“Belum, tapi bisa saja aku mengabaikan telponmu.”
Mana mungkin.

Adrian tertawa lagi. “Aku menyerah.”
“Ada apa?”
Well, bosku ingin kau datang di acara pernikahan putri bungsunya. Gadis itu penggemar berat artikel kecantikan yang kau tulis dan kedatanganmu mungkin bisa jadi kado bagus untuknya.”
Itu mengejutkan. “Benarkah? Oke. Kirim tanggal dan tempatnya padaku.”
“Segera. Well, sampai bertemu disana!”
“Oke.”
Tidak ada ajakan berangkat bersama? Tidak apa-apa. Ini toh hanya pesta pernikahan. Lagipula siapa yang peduli pada ajakan datang bersama saat sadar kenyataannya lagi-lagi kami masih bisa bertemu? Hah.
Pesan Adrian sampai. Acaranya 4 hari lagi, di Hotel Ritz. Bagus.
“Pacarmu?” gumam Moca.
“Tiruan Hugh Jackman,” jawabku seraya menarik selimut. “Mo, besok kosongkan jadwalmu karena aku akan membutuhkanmu untuk mengobrak-abrik Jewerly.”

“Kita akan belanja?” mata Moca membelalak.

“Aku.”
“Kau mau kemana?”
            
“Ke tempat pertemuan kelima berlangsung.”

#4th Day - Bukan Kebetulan

Pukul 08.25 - Apartemen 

“Aku menangkapmu!”
Aku menoleh kaget pada Moca yang menepuk-nepuk handuk besar di kepalanya kemudian mengencangkan tali jubah mandinya. Bibirnya turun.
“Kau melamun,” katanya.
“Yang benar saja, aku nggak mungkin melamun,” kilahku.
“Riifa, yang kepalanya sekeras baja, yang realistisnya lebih hebat dari pengamat dunia, yang anti berkhayal dan bermimpi,” suara Moca mengalun. “Kutemukan dalam keadaan melesak di sofa, pandangan pias ke arah langit-langit ruang tengah, dan mulut mengerucut.”
Apa aku tadi sejelek itu?
“Ngawur lagi, kutebas kepala berhanduk itu,” ancamku.

Moca melepas handuk dari kepalanya dengan satu sentakan anarkis yang menyerang wajahku. “Terakhir kali kau seperti ini empat tahun yang lalu. Ingat?”

Aku ingat tapi pura-pura tak ingat. Tepatnya tak ingin mengingat.
“Aku mau kopi. Kau jus, kan?” aku bangkit.
Moca mendorongku hingga badanku kembali melesak di sofa. “Empat tahun yang lalu saat kau jatuh cinta pada Theo. Ingat?”
Tentu saja aku ingat. Kurasakan otakku terlumat.
“Kau sedang jatuh cinta.”
Kali ini, aku sanggup menggeleng keras. “Kau tahu seperti apa rasanya melihat tiruan Hugh Jackman di depan muka? Terlihat dan terasa luar biasa, sangat nyata, tapi dia tak benar-benar hidup.”
“Siapa yang tepatnya sedang kita bicarakan?” tanya Moca. “Tiruan Hugh Jackman kurasa nggak akan membuatmu seperti ini. Atap rumah Theo jauh lebih bisa membuatmu gila.”
Kuputar bola mata perlahan, menciptakan efek dramatis campur mual pada Moca yang berkacak pinggang. “Aku nggak ingin membahasnya.”
“Ayolah, siapa pria itu?”
“Nggak ada pria, nggak ada jatuh cinta.”
“Arya?” desak Moca sambil meraih botol jus dari tanganku.
“Aku akan menodainya kalau itu terjadi,”
“Oh, jadi pria itu adalah seseorang yang nggak dekat denganmu?”
“Kesimpulan yang terlalu cepat,” ucapku. Sebenarnya kalau Moca jeli, saat mengucapkan kalimat tadi suaraku sedikit bergetar. Aku mati-matian meyakinkan diri sendiri kalau gelisah ini hanya bawaan melankolis kekanakan yang mendadak timbul. Tak lebih dari itu. Kalau lebih, aku memilih bunuh diri.
Hanya gadis bodoh yang jatuh cinta pada seorang pria hebat hanya karena mereka terjebak pertemuan-pertemuan tak terduga dan mengejutkan. Aku pernah menjadi gadis itu. Pernah jatuh dan menjadi yang terdungu di dunia. Aku tak ingin jadi gadis bodoh semacam itu lagi. Tidak dengan usiaku yang semakin menanjak.
“Rii, jadi kau nggak mau mengaku, nih?”
“Moca sayang, kutarktir Hermes, yuk?”

Moca melotot selama sedetik, lari ke kamar selama dua detik, dan kembali tiga detik kemudian dengan pakaian lengkap dan senyum yang terangkat hingga telinga. “Kapan kita berangkat?”

#3rd Day - Pancake Vanilla

Pukul 12.19 - Redaksi Dream
Mengecek email, melirik jam kubus, menguap pada Arya, menatap malas pada Mely, mengabaikan tumpukan naskah, mengumpat pintu ruangan Roger, kemudian mengecek email lagi. Rutinitasku berputar seperti bianglala bangsat besar yang sesat. Aku seratus kali lebih bosan dari biasanya. Mungkin kalau aku bisa menjadi editor People atau Times, dunia ini akan terasa seringan debu.
“Jangan mimpi,” celetuk Arya tanpa menoleh padaku.
“Apa?” hidungku berkerut.
“Kau pasti sedang merutuki kehidupanmu di sini, kan?” kata Arya mantap, tangannya mengoreksi beberapa naskah dengan cekatan.
“Demi Tuhan, kau seorang cenayang?”
Arya memutar bola matanya dengan dramatis. “Rekan kerja selama hampir 3 tahun, enam hari dalam seminggu duduk di sampingmu, sepuluh jam sehari mengamati gerak gerikmu. Aku sudah hapal arti raut mukamu, hebat kan?”
“Itu lebih terdengar mengerikan,” aku menyerngit.
Tanpa diduga, Roger menghambur keluar dari ruangannya sambil menatapku dengan kelaparan. Seperti harimau yang siap menerkam rusa, sapi yang berenang di atas gunungan rumput, lebah yang jatuh cinta pada madu, gembel yang diberi cek 1M.

“Kau gila!” teriaknya begitu sampai di mejaku.
Semua rekan-rekan di sekitar yang sok sibuk serempak menoleh ke arah kami. Gerakan mereka cepat dan berbarengan, berbeda sekali dengan saat disuruh bekerja.
Bagus. Belum makan siang, mati kebosanan, dan dikatai gila oleh atasan.
Boleh aku terjun dari lantai tujuh ini?
“Kau editor tergila yang pernah kutemui!” katanya antusias. “Direktur utama CNA memuji caramu mewawancarainya, dia suka hasil tulisanmu. Dan kau tahu, si gendut berdasi mencekik leher itu bahkan bilang kalau majalah kita pasti majalah terbaik di Jakarta!”
Hidungku mengembang. Itu kedengarannya berita bagus.
“Benarkah?” tanyaku gugup seraya berdiri karena Roger sepertinya hendak menyalamiku. Ternyata, si gila itu bahkan memelukku dengan girang.
“Kembali bekerja!” perintahnya dengan senyum selebar telinga.
Aku termangu, begitu juga manusia-manusia di sekitarku. Arya bahkan terlihat jijik, kepalanya mundur ke belakang secara spontan begitu aku beralih padanya.

“Kau dipeluk si Kepala Batu,” gumamnya.
“Semua orang di lantai ini melihat itu,” kataku. “Kau percaya? Aku, the-unlucky-woman-who is-living-in-her-own-fvcking-life berhasil melakukan wawancara dengan tokoh penting dan berhasil dengan telak?”
“Nama lengkapmu hebat,” Arya menumpuk naskah-naskah dengan rapi, meletakkannya di sudut meja. “Sudah saatnya gadis malang juga mendapatkan keberuntungan,” sahut Arya. “Makan siang?”
“Jangan bilang kau sudah tahu aku berniat mentraktirmu.”

#2nd Day - 2,5 Sendok Krimer

Pukul 04.18 - Apartemen
Aku bergelung di kasur, mengumpulkan nyawa yang berserakan hanya untuk mengangkat sebuah panggilan yang terus menerus masuk ke ponsel. Moca terus menendang betisku, meminta untuk cepat mengangkat ponsel dan menghentikan suara Adam Levine di subuh buta.
“Arya?”
“Maaf mengganggumu pagi-pagi,” sahut Arya enggan.

“Subuh,” ralatku.
“Aku baru saja ditelpon Roger-“
Ini bukan pertanda bagus. Semua yang menyangkut Roger tak pernah bagus.

“Kau harus ke CNA jam delapan ini,”
“Aku apa?!” aku memekik kuat, membuat Moca terlonjak dari tidur.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.

Arya menghela nafas panjang, nadanya terdengar lelah. “Dia puas atas hasil wawancaramu kemarin. Dan sekarang memintamu untuk mewawancarai Direktur Utama CNA. Jadwalnya jam delapan pagi.”
“Kenapa seenaknya saja? Aku ini editor! E-D-I-T-O-R!”
“Semua orang tahu itu,” timpal Moca malas kemudian kembali tidur.
“Ini perintahnya, Rii. Aku hanya menyampaikan. Mendengarnya saja membuatku sakit kepala.” Arya berdehem. “Aku mengajukan diri menggantikanmu, tapi Roger bilang ini khusus untukmu.”
“Terima kasih sudah berniat menggantikanku,” aku bangkit dari ranjang dan meraih handuk di gantungan. “Terima kasih sudah selalu menjadi penyampai pesan kematian.”
“Mau kemana?” Moca mengerjap saat matahari mulai menembus jendela kamar kami yang sepenuhnya kaca. Dia memandangiku yang berpakaian rapi dengan poni digelung di belakang kepala. Gaya rambut itu hanya kupakai disaat-saat penting. Terakhir kali Moca melihatnya saat aku wisuda.
“Wawancara Dirut CNA, dua jam lagi.”
“Kau kan editor,” protes Moca.
Kupoles lipstik merah muda ke bibir yang penuh, menyemprotkan parfum di leher dan nadi tangan, kemudian tersenyum seraya melambai pada sahabatku yang kucel di kasur.
“Semua orang tahu itu,”

#1st Day - Pertemuan

Pukul 17.06 - Ladybug Resto
  
“Kau tahu kenapa tempat ini jadi favoritku? Karena dari kaca besar ini,” kutunjuk lapisan jendela kaca raksasa tembus pandang di sebelahku, “aku bisa melihat orang-orang lewat. Berangkulan, bermesraan, saling melempar senyum, menyerahkan segala meski yang dicinta belum tentu jodohnya.”
“Demi Tuhan, singkirkan pikiran bodoh itu!” umpat Moca tak sabar.
“Adikku Mario, si gitaris band kampungan itu,” kataku. “Punya kekasih.”

“Lalu?”

“Aku muak dengan percintaan. Kenapa semua pria hanya selalu berlagak sok perhatian, sok memberikan segalanya, sok menampung segala masalah, tapi kemudian pergi dan menghilang?”
“Itu kan cowok brengsek. Dan nggak semua cowok di dunia ini brengsek.”

“Sebutkan satu contohnya!”
Moca termangu. Sama sekali tak berusaha menjawab. Keningnya berkerut, kulihat lalat hinggap di ujung hidungnya yang lancip.

“Pasti ada. Suatu saat…” katanya pasrah.
“Tutup mulutmu.”
Kami menghabiskan cemilan sore dalam diam. Moca sesekali melirikku, membujuk lewat matanya. Yang dibujuk hanya menatap sahabatnya hampa.

Misery - Maroon 5 mengalun.
“Kau bercanda?! Aku kan baru keluar kantor!” protesku saat Arya, teman sesama editor memintaku kembali ke kantor.
“Perintah Roger,” katanya memelas.

Roger sialan.
Moca melambai dramatis, meminta izin pulang duluan.

“Aku tahu kau lelah, aku tahu kau mengedit banyak naskah. Tapi, kuharap kau jangan menyerah.” Arya berpuisi. “Selamat bekerja!”
Dan aku tahu kesialan memang selalu datang. Kau tahu? Terkadang aku berpikir aku ini sangat memikat. Memikat hal-hal sial untuk datang dan mengacaukan hari. Memikat sekumpulan setan untuk mampir dan merusak segala sesuatu. Hampir tak ada yang berjalan lancar.
23 tahun. Single. Dan sedang bicara dengan tembok kaca.
“Terkutuklah pria-pria yang mengabaikanku,”