Benar, aku memang bodoh
sebut aku sesukamu, anggap saja aku begitu
maki aku semaumu, anggap saja aku seperti itu
seret aku seenakmu, anggap saja aku menurut

Di tiap jeda hening yang panjang
aku menengadah dan menerbangkan segala tanya
aku meringkuk dan menggigil kedinginan
berkeras atas apa yang kabur mengaburkan

Tetes air yang jatuh menghantam Bumi
entah kenapa hobi sekali kupelototi
dalam pecahan air itu, aku seperti menemukan diri
yang jatuh berantakan tapi tak kunjung mati

Kau tahu, aku bahkan menemukan Tuhan
saat air-air itu menetes dan jadi serpihan
rasanya aku bukan siapa-siapa selain aku sendiri
serasa bukan milik siapa-siapa selain aku sendiri

Siapa yang tahu
justru dengan rintikan basah itu aku melihat Tuhan
tanpa perlu terus mempertanyakan terlebih menduakan


No comments:

Post a Comment