Dance With Me Tonight

“Dansa?” Mrs. Weiner mengerutkan dahi. “Acara dansa macam apa yang dilakukan anak 12 tahun? Kalian harusnya masih sibuk belajar.”
            
“Mom, kenapa pikiranmu sekolot itu?” rengek Becky. “Ini pesta dansa di rumah Ryan, si kapten basket itu. Semua orang keren akan datang dan aku bakal jadi pecundang kalau nggak muncul disana.”
            
“Nggak hadir di pesta dansa konyol dan langsung jadi pecundang? Kalian hidup di dunia macam apa, sih?” Mrs. Weiner menyajikan pai kacang hangat di atas meja sambil melirik putri sematawayangnya. “Kau nggak mau makan pai?”
            
“Siapa yang mau makan pai kalau nggak bisa datang ke pesta dansa keren itu?” seloroh Becky sebal. Mr. Weiner yang baru pulang kerja langsung jadi sasaran bujuk Becky.
            
“Daddy, aku boleh pergi ke pesta dansa, kan?”
            
“Pesta dansa?” Mr. Weiner menatap istrinya, yang langsung memberi kode penolakan. “Sepertinya lebih baik kau di rumah, Sweetheart.”
            
“Nggak, Daddy nggak mungkin bilang begitu. Kau pasti disuruh Mom!”
            
“Hei, ayahmu kan, baru pulang,” protes ibunya.
            
“Daddy, kumohon,” Becky menggelayut di leher ayahnya. “Daddy, kau ingat Michael Ryan yang mengoper bola basket padaku saat upacara masuk sekolah? Dia yang mengadakan pesta itu. Dia keren, kan?”
            
“Ya, dia keren,” ayahnya mengiyakan.
            
“Nah, Daddy, aku sangat ingin kesana.”
            
“Oh, kau jatuh cinta padanya?” Mr. Weiner mengangkat putrinya ke sofa dan mereka berangkulan bersama. Becky melepaskan dasi ayahnya dengan satu tangan sementara mulutnya terus mengoceh.
            
“Nggak, ini bukan masalah itu. Aku hanya nggak mau melewatkan kesempatan untuk bertemu dan berkumpul dengan orang-orang keren di sekolah. Siapa tahu aku bisa bergabung dengan mereka, aku bosan menjadi yang terbuang.”
            
Mr. Weiner tertawa. “Anakku yang cantik ini bisa terbuang? Orang-orang di sekolah itu pasti sudah gila.”
            
“Daddy, kumohon,” bisik Becky memelas saat ibunya menghilang di kamar mandi. “Keputusan ada di tanganmu, kan? Kau tinggal setuju dan aku nggak akan peduli lagi dengan kata-kata Mom.”
            
“Hei, jangan bicara begitu,” ayahnya cemberut. “Keputusan memang ada di tanganku, tapi kalau menyangkut kehidupanmu terutama soal ijin seperti ini, ibumu lebih tahu mana yang terbaik.”
            
“Becky, makan paimu,” sahut ibunya.
            
Becky merosot turun dari pangkuan ayahnya, menghentakkan kaki emosi, dan masuk ke kamar dengan membanting pintu. Mrs. Weiner dan suaminya bertukar pandangan, diam sejenak, dan sama-sama mengangkat bahu. Gejolak masa muda. Sama sekali tak bisa dibendung tapi wajib diawasi. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menangis kecewa, tapi orang tua lebih tak mau lagi melihat anaknya jatuh ke jurang bahaya.
            
Tengah malam, saat suasana mulai sepi dan orang tuanya sudah tidur, hati Becky bergejolak. Ia sedang memikirkan gagasan kabur dan keinginan itu semakin menggelitiknya. Kamarnya ada di lantai bawah, mudah untuk menyelinap keluar dan mengendap menuju rumah Ryan yang hanya dua blok dari rumahnya. Sebelum acara berakhir, Becky bisa tiba-tiba menghilang bak cinderella.
            
Rencana bagus. Tapi ternyata nyali Becky kurang besar. Saat membuka lemari untuk mengambil gaunnya, Becky teringat ayah dan ibunya. Daddy dan Mommy yang entah akan berekspresi seperti apa saat tahu anaknya membangkang dan pergi dansa diam-diam. Becky duduk kembali di ranjang.
            
Pintu kamar Becky terbuka, cahaya lampu koridor menjatuhi lantai kayu kamarnya. Kepala ayahnya muncul, pria itu tersenyum kecil, kemudian masuk ke kamar. Becky hampir melompat dari kasur.
            
“Mau berdansa, Nona Weiner?”
            
Ayahnya menggunakan setelan jas resmi lengkap yang biasa digunakan saat acara-acara penting berlangsung. Jas putih dengan bunga mawar kecil di saku, rambut acak yang disisir ke belakang, dan tangan yang terulur memohon.
            
“Daddy, apa yang kaulakukan?” tanya Becky, masih berusaha agar suaranya terdengar acuh dan marah meski dalam hati ia ingin menjerit melihat ayahnya yang pendiam mendadak berdandan seformal itu dan mengajaknya berdansa.
            
“Lantai dansa sudah menunggu kita, Nona. Ayo pakai gaun andalanmu dan kita akan menghentakkan musik dengan dansa hebat. Dan jangan lupa pakai heels agar tinggi kita sedikit imbang.”
            
“Daddy, aku nggak-
            
“Aku menunggumu diluar,” potong ayahnya cepat kemudian keluar kamar.
           
Becky menyambar pintu kamarnya dengan emosi. “Aku benar-benar nggak akan keluar. Terserah kau saja, Daddy!”
            
Mr. Weiner hanya mengangkat bahu dan berdiri menunggu saat Becky menutup pintu kamar dengan keras. Becky naik ke kasur, menarik selimut hingga ke kepala dan mengabaikan ayahnya diluar. Sejam berlalu, Becky yang tidak bisa tidur mengendap-endap dan membuka pintu kamar perlahan. Ayahnya, masih dengan pakaian lengkap, berdiri di tempat dan dalam posisi yang sama, menatapnya dengan wajah berbinar. “Sudah siap, Nona?” tanyanya.
            
Becky terperangah. Benar-benar tak percaya pada apa yang sedang dilihatnya. Ayahnya tak pernah sekeras kepala ini. Dengan enggan, ia kembali menutup pintu kamar dan mulai bersiap. Becky bahkan menggelung rambutnya dengan tusuk rambut mahal pemberian ibunya, memakai sepatu putih tinggi kesayangannya, dan menyemprotkan sedikit parfum ke lehernya. Mr. Weiner tertawa saat putrinya melangkah keluar dengan wajah berkerut.
            
“Ryan pasti cowok bodoh karena sudah melewatkanmu,” kata ayahnya saat mereka berjalan bersama menuju ruang tengah. Becky tersipu dengan pujian itu tapi sama sekali tak bereaksi. Ia bahkan menjaga jarak saat berjalan berdampingan dengan ayahnya.
            
Ruang tengah kosong. Sofa, meja, bahkan televisi sudah dipindahkan entah kemana. Yang tersisa hanya karpet bulu putih dan sebuah pemutar CD yang antik. Di sudut ruang ada meja kecil tempat anggur dan jus jeruk. Becky terkesiap saat sang ayah memutarkan lagu Dance With Me Tonight, lagu yang pernah dinyanyikan Hugh Grant di film Music and Lyrics. Becky sangat suka film itu.
            
“It’s been so long, since i’ve known right from wrong. Got no job, sometimes i just sit down and sob. Wondering if anything will go right. Or will you dance with me tonight…”
            
Ayahnya meraih pinggang kecil Becky dengan hati-hati, tangan kiri Becky diangkatnya perlahan. Becky mengikuti gerakan kaki ayahnya yang diluar dugaan ahli berdansa. Mereka maju, ke kanan dan ke kiri, berputar sambil menjaga kaki agar tak saling menginjak. Semakin lama Becky mulai terbiasa dan tanpa sadar kini ia yang mengambil alih gerakan dansa. Ayahnya mengikuti tiap gerakan baru yang Becky ciptakan, mereka terkikik sambil menahan suara agar Mrs. Weiner tak terbangun.
            
Mr. Weiner mengganti disk dan Becky langsung melompat kegirangan. “Moves Like Jagger!” teriaknya.
            
Ayahnya melepas jas dan menggulung lengan kemeja sampai siku. Becky mengikuti ayahnya dan melepas sepatu dengan cepat. Mereka harus melompat dan bergoyang dengan heboh. Becky melihat sisi gila ayahnya yang sibuk goyang pinggul saat suara Adam Levine memenuhi lantai dansa dadakan mereka.
           
“All the moves like Jagger. I’ve got the moves like Jagger, i’ve got the mooooooooves like Jagger!” Becky bernyanyi keras. Ayahnya melakukan moon walk MJ dan mereka terkikik lagi.
           
Mereka berdansa, menari, dan bergoyang sepanjang malam dengan musik yang tak terlalu keras. Becky meneguk jus jeruk dengan berisik saat ayahnya memutar lagu yang lain. Dansa mereka berakhir saat Becky mulai kelelahan dan kaki Mr. Weiner mulai kesemutan.
          
“Yang tadi itu asyik sekali, Daddy,” kata Becky saat sang ayah mengantar sampai ke depan kamar. Mereka telah merapikan kembali ruang tengah dan Mr. Weiner tinggal mengendap ke kamar lagi. Becky berkeringat banyak, wajahnya memerah. Begitu juga dengan ayahnya yang terlihat sepuluh tahun lebih muda.
         
“Maafkan aku karena nggak bisa mengijinkanmu pergi ke pesta dansa itu. Kami mengkhawatirkanmu, Sayang. Kami sayang padamu.”
         
“Nggak masalah, Daddy,” Becky memeluk ayahnya dengan erat, mencium aroma parfum mahal yang juga hanya dipakai ayahnya disaat-saat penting. “Aku sangat senang kau mengajakku dansa malam ini. Sungguh. Ini hebat.”
         
Mr. Weiner tersenyum. “Kapan-kapan kita dansa lagi?”
         
“Tentu saja, Daddy. Kita akan terus berdansa sampai bosan.”


Becky berlari sampai kakinya sakit. Koridor rumah sakit yang sepi dipenuhi suara hak sepatunya. Air matanya sudah merebak sedaritadi tapi tak kunjung menetes. Di ruangan tempat Mr. Weiner koma, Becky berhenti berlari. Air matanya menetes. Di tangannya ada bunga dan sebuah iPod. Pintu perlahan terbuka dan Mrs. Weiner terlihat duduk di sofa putih. Wajahnya kelihatan lelah. Becky melangkah dengan kaki gemetar ke samping ayahnya yang lewat ekor matanya melihat Becky. Gadis kecilnya yang kini beranjak remaja, yang tak lagi harus mengemis ijin ke pesta dansa. Becky Weiner yang tahun lalu dinobatkan jadi Ratu Dansa di sekolah, Becky Weiner yang jadi ketua cheerleaders berkat predikatnya sebagai ratu lantai dansa.
            
“Becky-ku,” ucap Mr. Weiner pelan.
           
“Daddy-ku,” Becky menggenggam tangan ayahnya. “Aku akan memutarkan sebuah lagu untukmu. Lagu yang mengingatkanku pada malam itu. Malam dimana seorang pria keras kepala memaksa anaknya yang juga keras kepala berdansa di ruang tengah sempit dengan lagu seadanya. Tapi, buat si gadis, dansa malam itu bahkan bisa mengalahkan semua dansa hebat dalam hidupnya.”
            
Mr. Weiner tersenyum, air mata menitik di ujung matanya.
           
Becky memutar sebuah lagu di iPod-nya. Headset dipasangkannya dengan hati-hati di telinga ayahnya. Selama beberapa menit, mereka berdua diam.
            
Tak lama, Mr. Weiner tersenyum kecil. Air matanya turun mengaliri pelipis yang langsung dihapus Becky dengan telunjuk. Ibu Becky mendekat saat dilihatnya sang suami menangis. Mereka bertiga saling berdekatan.
            
“Becky-ku sudah punya pasangan dansa sekarang,” bisik Mr. Weiner. “Becky-ku sudah tak perlu lagi berdansa tengah malam dengan ayahnya,”
            
“Kau yang terbaik, Daddy. Kau yang terbaik.” Becky terisak. Semua perasaan sedih dan gelap tiba-tiba menyergap tanpa ampun, Becky dan Mrs. Weiner mulai terisak bersama. Isakan Becky bersuara keras hingga bahunya berguncang sedangkan ibunya tanpa suara. Dada Becky sesak.
            
Mr. Weiner tersenyum kecil kemudian. Dan tak bergerak lagi.
            
If I could get another chance. Another walk, another dance with him. I’d play a song that would never, ever end. How I’d love, love, love to dance with my father again…”
             
Semua anak perempuan, pasti memiliki cerita sendiri dengan ayahnya. Becky tahu dan yakin akan hal itu. Ayah adalah satu cerita lain dalam hidup.
            
“I love you, Daddy. I love you, my great father.”



P.S. Cerpen ini diikutkan dalam Proyek Ulang Tahun ke-11 Nulis Buku

No comments:

Post a Comment