Cupcake Abu-abu

"Aku bersyukur pernah memberimu cupcake abu-abu itu. Kau kini jadi istriku. Hebat, kan?"


Aku nggak akan membahas tentang cupcake, cara membuatnya, atau ingin memakannya. Yang terlintas pertama kali saat melihat cupcake ini: "Waw, nggak kebayang rasanya dapat kejutan kecil semacam ini." dan satu cerita singkat ini:
               

Yang kubayangkan semacam siluet gadis yang sedang duduk sendiri di depan sebuah kafe. Karena selalu berada disitu tanpa sadar ada seorang pria yang tertarik padanya. Saat si gadis meninggalkan mejanya untuk ke toilet, si pria meletakkan cupcake itu beserta ucapan misterius. Dia memberikan cupcake abu-abu karena gadis itu selalu memakai pakaian serba abu-abu. Si gadis terkejut sekaligus terharu dengan pemberian si pengagum rahasia. Sejak saat itu, kapanpun gadis itu menghilang dari meja, si pria akan meletakkan sebuah cupcake dan kartu ucapan yang berbeda. Pria ini selalu berhati-hati dan tidak ingin identitasnya terbongkar. Dia suka melihat senyum si gadis dari jauh. Sementara si gadis sebenarnya ingin sekali tahu siapa si pemberi cupcake itu. Dia bisa saja diam-diam mengintip saat si pria meletakkan cupcake di mejanya, tapi gadis itu takut akan 'mengkhianati' identitas pria itu. Jadilah mereka hanya saling diam tanpa saling mengetahui.

Suatu hari, si gadis menulis sebuah note untuk si pria:

Aku sebenarnya nggak ingin tahu siapa kau. Tapi aku tetap ingin menanyakan ini. Apa kau selamanya akan mengirimiku cupcake dan ucapan tanpa memperlihatkan wajahmu? Kau bersusah payah sementara aku menikmati ini semua. Tidakkah itu memberatkanmu?
             
Si pria membalasnya sambil tersenyum.

Justru kalau aku memberitahukan identitasku dan kita saling kenal, aku takut nggak akan melihat senyummu penasaran campur terharu yang biasanya kau keluarkan saat melihat cupcake kirimanku. Belum tentu kelak kau akan sesenang ini menerima cupcake dariku. Kita bisa saling suka, cinta, berbagi segalanya tapi bisa juga saling menyakiti. Aku nggak mau cupcake dan ucapanku kelak akan jadi tanda minta maaf dan tanda kenangan buruk lainnya. Biarlah kita seperti ini, aku nggak mau semua jadi kotor dan aku nggak mau menyakitimu. Kau nggak keberatan, kan?

Si gadis malah kecewa.

Kau pikir seperti apa rasanya merasa senang sendiri sementara aku bahkan nggak bisa berterima kasih pada si pemberi? Jangan kirimi aku cupcake lagi.

Bersamaan dengan balasan note, gadis itu juga membawa semua cupcake yang pernah diberikan oleh si pria. Ternyata gadis itu bahkan tidak memakan semua cupcake dan mengawetkannya untuk disimpan. Si pria kaget. Hatinya hancur. Dia membawa pulang semua cupcake itu. Setelah itu semua berakhir. Sudah seminggu si gadis tidak pernah datang lagi ke kafe dan si pengagum rahasia juga sudah pasrah. Sampai saat si gadis merasa semua sudah benar-benar hilang, dia datang lagi ke kafe dan menemukan mejanya sudah diduduki seorang pria. Rasanya ingin protes dan marah kalau itu kursi yang sering didudukinya, tapi gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa. Tepat saat dia berbalik dan berniat mencari kursi lain, si pria menyodorkan sebuah cupcake abu-abu padanya.
            
Gadis itu terkejut. Cupcake pertamanya.
            
"Benar kan, kau nggak mau menerimanya kalau kuberikan langsung!"
            
"Apa?"
          
Gadis itu terperangah. Ternyata pria yang selama ini jadi pengagum rahasianya punya senyum lebar yang manis, pipi merah, dan mata biru yang indah. Gadis itu berpikir kalau pria cupcake-nya adalah seorang penyendiri yang muram. Dia menerima cupcake dengan tangan gemetar, masih belum percaya kalau yang selama ini mengiriminya cupcake dan ucapan sedang berada tepat di depannya. Si pria tersenyum.
           
"Kau nggak mau duduk?"
           
Gadis itu duduk dengan kikuk sambil menggenggam erat cupcakenya. Note yang ditempel di cupcake pertama itu bertuliskan:

            
Aku suka senyummu. Terimalah ini salam pertemanan dariku. Kau mau menerimanya, kan?

          
Si pria mengambil tangan kanan gadis itu dan meletakkan sebuah cupcake berwarna merah muda di tangannya sambil tertawa malu. Ditulis dengan huruf tebal, si gadis membaca tulisan di note itu:

Aku memutuskan untuk mengambil semua resiko. Kau mau jadi pacarku, kan?
           
Sejak saat itu, ribuan cupcake mengisi hari-hari gadis itu. Bahkan di hari pernikahan mereka, Andrew membuatkan Mandy cupcake raksasa bertuliskan:

Aku bersyukur pernah memberimu cupcake abu-abu itu. Kau kini jadi istriku. Hebat, kan?





No comments:

Post a Comment