Perfect Time


Sendiri terjebak dalam ruangan yang berisi buku dan hanya diterangi sinar matahari. Pertama kali melihat gambar ini, aku iri setengah mati pada gadis itu. Dia hanya gambar, hanya buah lukisan seseorang. Tapi aku ingin sekali berada di posisinya, membaca buku di tangannya, dan duduk nyaman di kursinya. Ini mungkin terdengar bodoh, tapi aku suka melihat gambar seseorang yang sedang tersenyum, tertawa, dan melakukan hal menyenangkan lainnya. Mereka nggak punya pilihan selain tertawa. Sedari awal dibuat untuk tetap tertawa sampai warna mereka memudar atau si pelukis merubah ekspresinya. Seperti lukisan gadis itu, tetap akan seperti itu sampai ditelan masa. Dia 'terjebak' dalam keadaan yang nyaman, selamanya.

Lagi-lagi, aku berharap ada waktu yang tak berjeda. Saat merenung, menangis, dan mengeluh bukan bagian dari sia-sia. Saat tiap detik yang terlewat hanya berisi pikiran yang terbuka. Duduk di ruangan temaram itu, menghabiskan buku itu, sambil sesekali melihat ke luar jendela. Dan saat aku puas, aku hanya tinggal meminta Tuhan mengembalikan waktu. Sesederhana itu. Sefana itu.

No comments:

Post a Comment